
"Semuanya sekarang sangat jelas. Menantuku telah memberi tahu kamu secara tegas jika dia tidak akan pernah berpaling menatap kamu ataupun wanita lain di luar sana apapun alasannya. Selain itu menantuku juga meminta kamu dan Nyonya Mei agar menjaga jarak di masa depan agar rumah tangga mereka tidak mengalami masalah." Suara dingin Bunda Safira memecahkan keheningan Rani.
Rani tersadar dari pikirannya. Dia menarik matanya dari pintu kamar Ustad Vano dan Ai yang ada di lantai dua. Hari ini dia telah dipermalukan di depan banyak orang. Ustad Vano yang dia sukai sejak lama juga tidak memberikannya sedikitpun wajah di depan mereka semua. Rani marah tapi dia lebih kecewa pada dirinya sendiri, bertanya-tanya bagian mana yang lebih baik dari Ai sehingga Ustad Vano lebih mencintainya. Dan bertanya-tanya bagian mana yang kurang dari dirinya sehingga Ustad Vano tidak mau meliriknya sedikitpun.
Untuk Ai, orang yang dia cintai rela melakukan apapun, Rani sangat cemburu.
Namun apa sekarang?
Karena masalah ini Ustad Vano pasti tidak akan mau berbicara dengannya. Di masa depan kelak ketika bertemu Ustad Vano akan menjaga jarak dengannya.
Siapa yang patut disalahkan?
Rani hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu impulsif dan sok percaya diri.
__ADS_1
"Maaf, aku...aku ingin pulang." Dia tidak berani melihat orang-orang.
Mereka pasti sedang mengejek dan menertawakan kekalahannya melawan Ai.
Jadi, sebelum orang-orang bereaksi dia sudah memutar badannya 180 derajat dan langsung pergi ke arah pintu masuk yang selalu terbuka lebar untuk para tamu.
"Rani, Rani!" Bibi Mei ingin mengejar tapi tangannya tiba-tiba dicengkeram oleh seseorang.
"Ayah?" Kakek sangat malu hari ini karena orang yang membuat masalah adalah putri dan cucunya sendiri.
Melihat Kakek Ustad Vano meminta maaf dengan malu dihadapan nya, Bunda Safira lantas bangun bersama Ayah Ali seraya melambaikan tangannya menolak.
"Ayah, ini adalah masalah keluarga kita bersama jadi tidak seharusnya Ayah merasa tidak enak kepada kami. Adapun hari ini aku terpaksa ikut campur dalam urusan rumah tangga Vano dan Ai karena aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Di samping itu keterlibatan Nyonya Mei dalam masalah ini juga menurutku sangat tidak pantas sebab kita semua, para orang tua adalah orang-orang yang harusnya mengayomi mereka. Apalagi mereka adalah pengantin baru dan seringkali membuat keputusan buruk jika menghadapi masalah berat, jadi alangkah baiknya kita mengulurkan tangan untuk membantu mereka dan bukannya merangsang masalah untuk terus berkembang." Bunda Safira berbicara dengan nada hangat tapi agak bias terhadap Bibi Mei.
__ADS_1
Kakek juga mengerti apa yang Bunda Safira coba sampaikan. Dia tidak memberikan pembelaan sedikitpun kepada Bibi Mei maupun putri-putrinya yang lain karena pihak mereka lah yang bersalah. Dan dengan adanya masalah ini Kakek telah menyiapkan hukuman yang setimpal untuk mereka bertiga.
"Ayah, aku benar-benar tidak bermaksud merusak rumah tangga Vano. Maksud aku dan Rani malah baik. Kami ingin Vano memiliki keturunan-"
"Masih berani berbicara?" Tanya Ayah dingin.
Saat ini mereka sedang berbicara di depan pintu masuk rumah Arka. Setelah berbicara singkat dengan Bunda Safira, Kakek membawa Bibi Mei ke luar sementara Rani sudah pulang duluan. Adapun Riani, dia pergi entah kemana dan tidak menjadi fokus Kakek untuk saat ini.
"Aku hanya ingin menjelaskan saja..." Jawab Bibi Mei agak merendahkan suaranya.
Selama Kakek ikut campur maka dia tidak akan bisa berkutik karena Kakek adalah 'aturan' yang harus didengarkan di rumah utama.
Jika tidak, maka habislah sudah.
__ADS_1
"Dani." Panggil Kakek pada putra tertuanya.