
Asri terkejut dan sontak menatap Arka dengan kedua mata membola,"Apa...apa..." Asri kesulitan melanjutkan kata-katanya.
Arka merasa jika ekspresi Asri terlihat konyol. Apalagi jika dipadukan dengan make up luntur dan tebal di wajahnya, Arka seolah melihat cosplay pasien rumah sakit jiwa.
"Aku bertanya apakah kamu masih perawan." Arka mengulangi pertanyaannya lagi.
Pipi Asri langsung memerah, bukan sepenuhnya karena malu tapi ada rasa marah yang ingin meledak-ledak dari dalam hatinya.
Bagaimana mungkin laki-laki ini begitu tidak senonoh mempertanyakan rahasia pribadinya?
"Aku...aku tidak akan menjawab!" Jawab Asri menolak.
Hei, lagipula dia akan menemukan jawabannya besok malam saat mereka... mereka- arghh!
Asri benar-benar tidak bisa memikirkannya.
Arka benar-benar tertawa kali ini. Ia tidak ingin membuat suasana hati 'calon istrinya' semakin memburuk.
"Baiklah, pada akhirnya aku juga akan menemukan jawabannya di malam pertama kita nanti." Ucap Arka iseng yang lagi-lagi direspon konyol Asri.
Asri memalingkan wajahnya malu. Ia tidak mau mengatakan apa-apa untuk membalas karena takutnya Arka semakin menjadi-jadi.
Melihat sikap diam Asri yang sarat akan rasa malu, Arka tidak tertawa lagi. Ia berdehem ringan sambil berdiri dari duduknya dan mendekati Asri.
"A-aku... tidak punya uang." Kata Asri ketakutan ketika melihat tangan kuat milik Arka terulur di depannya.
Arka tertegun, sedetik kemudian ia kembali menertawakan Asri. Bagaimana mungkin uluran tangannya disangka sebagai tagihan?
__ADS_1
Benar-benar, Arka benar-benar terhibur dengan sikap konyol Asri. Ia pikir tidak salah menikahi Asri sekalipun mereka tidak memiliki rasa untuk satu sama lain.
"Aku sungguh tidak memiliki uang..." Kata Asri lemah.
Dia tidak memiliki uang untuk membayar Arka atas semua pertolongannya. Dan Arka masih juga menertawakan dirinya, hah.. tiba-tiba Asri ingin mengadu kepada Mega dan meminta perlindungan.
"Tidak.." Arka memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa.
Hari ini dalam waktu yang berdekatan, tingkah Asri telah berkali-kali membuatnya tertawa.
"Aku tidak meminta uang mu." Kata Arka setelah agak lebih tenang.
Asri belum mengerti.
"Aku mengulurkan tangan karena ingin mengantarmu ke dalam kamar mu." Sambung Arka membuat Asri menjadi sangat malu.
"Aku... tidak tahu." Karena tidak ada satupun laki-laki yang pernah mengulurkan tangannya kecuali yah...Rodi.
Arka berusaha menahan tawanya lagi.
"Tidak apa-apa." Katanya seraya mengulurkan tangan kepada Asri, untuk yang kedua kalinya. "Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar."
Asri menatap tangan besar nan lurus milik Arka. Ia menilai jika jari-jari Arka sangat panjang juga ramping, tidak ada kapalan di atas kulit telapak tangannya. Tampak bersih dan terjaga.
Asri jadi bertanya-tanya apakah orang kota juga bersunat?- oh astaga, pemikiran ini tiba-tiba muncul di kepalanya begitu saja.
Pasalnya Arka juga bertanya sebelumnya apakah ia perawan atau tidak, apakah ini mengindikasikan gadis-gadis kota banyak yang sudah tidak perawan lagi?
__ADS_1
Lalu, jika begitu maka tidak menutup kemungkinan jika banyak laki-laki kota yang tidak bersunat, iya'kan?
"Mas Arka," Panggil Asri hati-hati.
"Hem?" Gumam Arka dengan salah satu alis terangkat ke atas karena Asri masih belum menyambut uluran tangannya.
"Apa... apakah Mas Arka sudah disunat?" Tanya Asri dengan nada yang lebih berhati-hati lagi.
Arka,"...." Mulutnya gatal ingin tertawa lagi.
Tapi ia berusaha menahannya kali ini di depan Asri agar terlihat cool.
"Kenapa? Apakah kamu sudah tidak sabar melewati malam 'panas' kita?" Tanya Arka jail.
Asri melongo, tiba-tiba dihatinya muncul keinginan untuk menjahit mulut Arka agar tidak berbicara frontal lagi. Oh, dia sendiri tidak menyadari jika pertanyaannya tadi tidak kalah frontal nya dengan milik Arka.
"Tidak, bukan begitu! Hanya saja...aku dengar di desa orang-orang kota cenderung..." Bebas?
Di desanya, orang-orang kota memiliki kesan yang buruk sebab banyak sekali kasus pergaulan bebas di kota yang mempengaruhi orang-orang di desa. Entahlah, karena mengikuti pola hidup orang kota, pernah terjadi perkelahian antar tetangga di desa karena beda pemahaman.
Salah satu tetangga tidak ingin menyunat putranya padahal sunat itu wajib di dalam agama. Inilah yang membuat tetangga yang lain kesal sehingga mereka bertengkar hebat dan harus berurusan dengan kepolisian.
Hah...Asri tidak habis pikir memangnya orang-orang kota sampai segitunya melupakan kewajiban sampai-sampai sunat pun di sepelekan.
Arka menarik tangannya dan bersedekap dada di depan Asri.
"Apakah orang-orang di desa mu tidak sekolah dan belajar agama Islam sebelumnya? Mengapa aku merasa jika orang-orang di desa mu tidak hanya kolot tapi juga sering berpikiran negatif?" Tanya Arka tidak habis pikir.
__ADS_1