Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
23. Niat Buruk Fina


__ADS_3

"Kakak yang harusnya bertanya, dek, kamu ngapain ke sini?" Tanya balik Asri.


Fina memang cantik tapi cukup langka baginya untuk memoles make up di wajahnya. Dia bukanlah tipe gadis yang seperti kecuali ada seseorang yang menarik perhatiannya.


"Aku ke sini mau main sama, Kak Asri. Lalu siapa mereka berdua?" Tanyanya sambil melemparkan pandangan kepada Ai dan Mega.


Fina pikir bila Ai dan Mega adalah teman-teman Asri dari pondok pesantren. Mereka datang ke sini karena ingin melihat keadaan Asri yang hidup jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dan Fina khawatir jika mereka juga menaruh hati kepada Arka, itulah alasan kenapa ia nekat datang ke sini.


Sangat beruntung hari ini karena para penjaga rumah tidak seketat kemarin. Mereka mengizinkannya masuk tanpa perlu menggunakan alasan apapun.


"Ini adalah kedua sahabatku. Ini adalah Aishi," Katanya seraya menunjuk gadis cantik di samping kanan,"Dan ini adalah Mega." Menunjuk gadis dingin yang kini sedang menatapnya tanpa senyum.


Mega selalu menjadi orang yang blak-blakan dan Asri tidak terkejut melihat sikap sahabatnya ini kepada Fina.


"Oh, teman dari pondok?" Ada nada mengejek di sana.


Mega jelas tidak suka dengan kepribadian menjengkelkan Fina yang berbanding terbalik dengan Asri. Padahal mereka saudara, memiliki kemiripan namun mengapa Asri lebih polos dan rendah hati dibandingkan dengan gadis ini?


Mega diam-diam menaruh ketidakpuasan terhadap Fina.


"Kami memang dari pondok, apa kamu memiliki masalah?" Tanya Mega dingin dan blak-blakan.

__ADS_1


Fina agak terkejut dengan sikap terus terang Mega yang acuh tak acuh. Dalam sekali lihat saja ia tahu bila Mega tidak menyukainya.


"Tidak, hanya saja tinggal di rumah teman yang telah bersuami bukanlah hal yang baik. Kalian tentu pernah mempelajarinya di pondok pesantren'kan?" Fina menjadi jengkel dibuatnya.


Ia juga tidak menahan diri untuk bersikap acuh di depan Mega.


Mega kian yakin jika Fina tidak menyukai kedatangannya dengan Ai. Dan untuk alasan itu ia tidak bisa menebaknya karena apa, sebab mereka baru bertemu hari ini.


"Apa masalahnya? Ini adalah tempat tinggal kami juga. Selain itu kami sudah memiliki suami masing-masing sehingga hal-hal kotor yang ada di dalam kepalamu itu tidak akan pernah terjadi." Balas Mega dingin.


"Apa? Kalian sudah menikah dan masih tinggal di sini?" Fina kian menjengkelkan.


Dia bersikap selayaknya pemilik rumah padahal pemilik rumah asli sendiri yang meminta mereka untuk tinggal di sini.


"Fina, berhenti. Mereka adalah istri dari keluarga suamiku dan kebetulan bekerja di perusahaan suamiku. Sejak mereka menikah dengan keluarga suamiku maka sejak itu pula mereka bukanlah hanya sahabat melainkan keluargaku. Oh ya, kamu harus tahu bila suami Aishi adalah wakil presiden di perusahaan Mas Arka dan suami Mega adalah sekretaris pribadi Mas Arka di perusahaan. Jadi, selain karena hubungan keluarga, Mas Arka sengaja meminta mereka tinggal di sini untuk mempermudah urusan pekerjaan. Apakah kamu mengerti sekarang?"


Ini adalah pukulan berat untuk Fina. Ia tidak menyangka jika kedua sahabat Kakaknya ini begitu beruntung menikah dengan keluarga Arka, keluarga kaya raya.


Ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin kebetulan di dunia ini begitu banyak?


Kakaknya menikah dengan Arka- laki-laki tampan nan kaya, lalu kedua sahabatnya menikah dengan keluarga Arka yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan Arka, oh hei, mengapa mereka bertiga begitu beruntung.

__ADS_1


"Adikmu pasti berpikir jika aku dan Aishi berasal dari kalangan bawah," Untuk pertama kalinya Mega gatal ingin menyombongkan diri di depan orang lain.


Pasalnya tampang sok cantik Fina benar-benar membuatnya jengkel.


Asri tidak membatah nya, karena ia juga tahu bila adiknya telah berubah banyak dan lebih materialisme. Padahal mereka adalah orang miskin, jika tidak ada Arka, maka mereka pasti sampai dengan detik ini masih berada di desa.


"Kamu mungkin harus mengetahui satu hal bahwa pernikahan itu tidak dilandaskan pada uang ataupun kekayaan. Jika benar begitu, maka sahabat ku Aishi tidak akan menikah dengan keponakan Paman Arka, sebab Aishi adalah putri pebisnis nomor satu negeri ini dan bahkan Aishi telah memiliki perusahaan besar atas nama dirinya. Jika ia mau, ia bisa memilih ribuan laki-laki yang jauh lebih kaya dari keluarga Paman Arka, tapi nyatanya dia tidak melakukan itu karena apa yang ia yakini adalah pernikahan tidak berpatokan pada uang atau kekayaan." Ujar Mega memberikan pelajaran kepada Fina.


Siapa yang tidak mengetahuinya Aishi Humaira?


Putri dari pebisnis nomor satu negeri ini. Ia sangat kaya, memiliki banyak uang, dan bahkan perusahaan dari orang tua kandungnya telah beralih menjadi miliknya. Namun, ia tidak pernah sombong dan selalu rendah hati. Bahkan, tak jarang ia merendahkan dirinya sendiri hanya karena ia terlahir berbeda.


"Aku... tidak pernah berpikir seperti itu." Bantah Fina lemah.


Penilaian Mega benar-benar akurat, pikirnya.


Ia sekarang tidak hanya cemburu Kakaknya bisa menikah dengan laki-laki kaya, namun ia juga cemburu karena Kakaknya bisa berteman dengan orang-orang kaya pula.


Bila seperti ini... bukankah ia bisa mencoba berteman dengan mereka berdua?


Fina tiba-tiba mengembangkan sebuah harapan.

__ADS_1


"Kamu memang tidak mengatakan itu tapi sikap mu telah menunjukkan semuanya. Aku tidak tahu kamu memiliki masalah apa tapi sekarang aku sudah ada di rumah ini jadi aku harap kamu bisa berhati-hati lagi dalam bersikap. Kau tahu, orang yang ku hormati adalah Asri dan bukan dirimu. Di masa depan nanti bila ku dapati kamu melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan maka pintu keluar selalu terbuka untukmu." Peringat Mega serius.


__ADS_2