
"Ya Allah, bagaimana mungkin Ustad Vano dan Paman Arka membiarkan mereka pulang? Menginap lah di rumah ini untuk beberapa malam karena Ustad Vano dan Paman Arka pasti memiliki banyak hal yang ingin dibicarakan dengan kalian berdua."
Ini adalah sapaan yang ramah untuk para tamu, normalnya. Namun Ai dan Asri tidak mengerti apa yang sahabat mereka rencanakan. Pasalnya Mega harusnya tahu jika Ai dan Asri tidak terlalu nyaman dengan dengan mereka berdua apalagi sampai menginap di sini.
Hei, bukan berarti Ai dan Asri pelit, ini tidak seperti itu jadi jangan salah paham.
.
"Yah, jika kalian ingin menginap maka menginap lah. Kami memiliki banyak kamar tamu di rumah ini." Ujar Arka tidak mau ambil pusing.
Toh, mereka juga tidak kekurangan kamar di rumah ini. Lantai satu memiliki banyak kamar kosong yang tidak memiliki penghuni.
__ADS_1
Rani tersenyum malu, wajahnya memerah menahan euforia kebahagiaan yang sudah sejak tadi idam-idamkan.
"Apa Paman dan Kak Vano tidak keberatan?" Dia melirik ekspresi Ustad Vano.
Ustad Vano tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Sedari tadi Ustad Vano akan menundukkan kepalanya berbicara dengan Ai dan mungkin saja, karena terlalu sibuk berbicara dengan Ai, ia tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Atau...yah, dia mendengarnya namun sama seperti Arka, dia tidak keberatan memiliki orang tambahan di rumah ini.
"Apa yang membuat mereka keberatan? Tidak, tidak apa-apa. Kami memiliki banyak kamar kosong di sini jadi tinggallah dan menginap di sini. Paman Arka dan Ustad Vano malam ini memiliki banyak waktu luang untuk berbicara dengan kalian. Oh astaga, jangan berpikir kalian membuat kedua pasangan pengantin baru itu terganggu, tidak, mereka tidak akan terganggu. Sudah ku bilang bukan malam ini kalian bisa menghabiskan waktu bersama mereka karena malam ini aku, Ai, dan Asri akan tinggal di kamar yang sama. Sama seperti kalian, kami juga memiliki banyak hal yang perlu dibicarakan!" Kata-kata ini begitu mudah diucapkan, tanpa pertimbangan dan tanpa meminta dulu pendapat yang lain- ah, tepatnya meminta pendapat Ustad Azam, Ustad Vano, dan Arka yang kini tengah menatapnya horor.
Terutama Ustad Azam sendiri. Tak pernah sekalipun istrinya menyebutkan akan menginap bersama Ai dan Asri. Jelas saja ia tidak akan mengizinkan istrinya pergi, akan tetapi ia tahu istrinya melakukan ini semua untuk memberikan pelajaran kepada Ustad Vano dan Arka, kedua suami konyol yang masih belum menyadari kesalahan mereka. Hanya saja, bukankah ini cukup tidak adil untuknya mengingat yang bermasalah adalah Ustad Vano dan Arka namun yang ikut mendapatkan imbasnya adalah ia.
__ADS_1
"Kalian akan tidur di dalam satu kamar?" Ustad Vano bertanya ngeri, baru bereaksi setelah Mega mengatakan kata-kata horor ini.
Mega dengan senyuman polos menjawab,"Semenjak reuni, kami tidak pernah berkumpul dan membicarakan banyak hal. Jadi, mumpung kalian reuni dengan Rani, maka aku dan kedua sahabatku akan melakukan reuni pula. Jadi, tolong izinkan kedua sahabatku pergi yah, atau kalau tidak mereka akan sangat sedih!"
Ustad Vano terdiam. Dia sekarang menyadarinya jika semua tindakan maupun kata-kata Mega adalah sebuah sindiran untuknya dan Arka.
Sindiran, tapi kenapa?
Apa karena kedatangan Rani dan Riani, tapi bukankah mereka adalah adik sepupunya?
Bersambung..
__ADS_1
Part sedikit karena 1 bab dibagi dua🍃