
Bibi Sifa tersenyum sopan tanpa pandangan merendahkan. Tangan kanannya yang ramping melambai pada seorang pelayan wanita di ujung sana. Pelayan itu lalu datang dengan nampan kosong di atasnya.
"Tolong bawakan aku beberapa tissue untuk membersihkan noda di pakaian tamu kita." Sambil berbicara tangan Bibi Sifa terulur menaruh gelas kosong yang ada di tangan kirinya.
Pelayan itu melihat gelas kosong di atas nampan dan melirik gaun Rani yang telah kotor ternoda cairan jus hijau.
Memahami kebingungan di mata pelayan itu, Bibi Sifa lalu berkata.
"Aku tadi mengambil langkah yang salah sehingga hampir terjatuh. Tapi untung saja aku masih bisa menyeimbangkan kakiku agar tidak jatuh, namun malang, minuman itu tumpah dan mengenai gaun tamu ini. Jadi tolong bawakan aku beberapa tissue." Gaya bicaranya sangat sopan tanpa ada nada provokasi, dan sikapnya pun memiliki rasa kesopanan yang menyenangkan.
Tapi ada yang salah dengan kata-katanya. Menurut Bibi Sifa mereka adalah tamu dan itu tidak dibenarkan karena mereka adalah anggota keluarga Ustad Vano. Sekalipun tidak pernah bertemu seharusnya Bibi Sifa tahu bukan bila orang-orang yang datang ke sini semuanya adalah anggota keluarga dan tidak ada orang asing.
Tentunya kata-kata Bibi Sifa agak tidak mengenakkan di dalam pendengaran mereka bertiga.
"Kami bukanlah tamu, Bibi Sifa." Cegah Riani tidak memiliki rasa takut seperti yang dirasakan Bibi Mei dan Rani.
"Riani..." Panggil Bibi Mei memperingati.
Dia tidak bodoh dan dia menduga bila Bibi Sifa sempat mendengar pembicaraan mereka karena itulah Bibi Sifa datang menyinggung mereka.
Tapi Riani masih jauh dari berpikir dewasa. Dia seumuran dengan Ai dan pikirannya pun masih belum dewasa. Di usianya ini dia mudah bertindak gegabah dan ceroboh, membuat orang-orangnya kadang khawatir seperti saat ini.
"Hem," Perhatian Bibi Sifa kini tertuju pada Riani, gadis cantik dengan tatapan angkuhnya.
__ADS_1
"Lalu, kalian adalah?"
Riani memutar bola matanya secara terang-terangan mencemooh. Di kepalanya saat ini dia menggemakan sebuah pandangan meremehkan bila gen keluarga Ai sangat buruk karena baik Ai maupun Bibi Sifa memiliki IQ yang rendah.
"Kami adalah keluarga Kak Vano. Mamaku adalah Bibi Kak Vano dan kami berdua adalah sepupunya. Jadi kami bukan tamu tapi keluarganya, lain kali tolong koreksi kata-kata Bibi Sifa saat bertemu dengan kami, oke?"
Mendengar suara angkuh Riani menjelaskannya posisi mereka di sini, senyuman Bibi Sifa semakin tertarik lebar. Senyuman ini entah kenapa membuat kepala Riani mati rasa tanpa alasan, seolah-olah mengandung makna tertentu.
"Keluarga?" Ucap Bibi Sifa dengan suara yang dibuat-buat.
"Apa kalian bercanda?"
Riani tidak mengerti,"Apa aku terlihat bercanda?" Tanyanya tidak senang.
"Tidak, tapi setahuku keluarga akan saling menjaga anggotanya satu sama lain. Tapi kalian bertiga sepertinya lebih suka melihat anggota keluarga mendapatkan penderitaan." Senyuman di wajahnya perlahan menghilang dan sorot matanya menjadi lebih dingin.
"Jangan bermain-main." Peringat Bibi Sifa serius.
"Kalian pikir kami akan diam saja melihat anggota keluarga kami menderita, hah...jangan bermimpi. Ingin menyakiti putri kami? Maka cobalah dan aku akan pastikan kalian bertiga akan sangat menyesalinya." Ucap Bibi Sifa dingin.
Seketika, mereka bertiga dan pelayan itu merasa jika udara berubah menjadi titik beku. Momentum yang Bibi Sifa ciptakan terlalu kuat, berbanding terbalik dengan sikap ramahnya barusan.
Riani, gadis yang sempat meremehkan Bibi Sifa tanpa sadar menyusutkan lehernya ingin bersembunyi dari Bibi Sifa. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi dan kehilangan warna, kedua bola matanya bergerak mengelak tidak memiliki keberanian untuk menatap Bibi Sifa.
__ADS_1
"Istriku, apa yang sedang terjadi?" Suara sang suami menarik Bibi Sifa dari mereka bertiga.
Dia menatap Paman Sahid dengan tatapan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Tangan kanannya segera meraih lengan sang suami dan memeluknya.
Bibi Sifa tiba-tiba menjadi wanita yang manja di depan suaminya.
"Mas, aku ingin membawa Ai pulang ke rumah." Kata Bibi Sifa tiba-tiba mengejutkan suaminya.
Bibi Sifa dan Paman Sahid memutuskan untuk tinggal di rumah karena tidak ingin jauh dari Ayah Ali juga keluarga yang lain. Di samping itu kedua orang tua Bibi Sifa sudah renta sehingga dia tidak ingin berjauhan dengan mereka. Dia harus selalu di samping kedua orang tuanya agar hatinya tidak gelisah.
"Kenapa, istriku? Bukankah Ai bahagia tinggal di sini." Paman Sahid bertanya heran.
Bibi Sifa melirik ketiga orang itu dengan tatapan tidak suka,"Lihat mereka bertiga, Mas." Kata-kata terang-terangan membuat mereka bertiga semakin tidak berkutik dan panik.
Paman Sahid tidak melihatnya karena pakaian mereka bertiga tidak tertutup,"Ada apa dengan mereka bertiga?"
Bibi Sifa menghela nafas panjang tampak sangat kesal.
"Mereka bilang Ai cacat Mas, tidak hanya itu saja, mereka juga bilang jika kehamilan Ai tidak akan bertahan lama. Dua atau tiga bulan lagi Ai akan keguguran. Di saat itu terjadi Vano pasti akan mencari pengganti dan wanita ini meminta putrinya untuk bersiap menggantikan posisi Ai! Mereka ingin menghancurkan rumah tangga putri kita, Mas!" Adu Bibi Sifa kepada suaminya.
Paman Sahid tertegun, sorot matanya menunjukkan emosi marah tertahan. Bagaimana mungkin ia tidak marah?
Putri yang mereka besarkan bersama-sama dengan semua orang di rumah ternyata telah ditargetkan oleh orang lain untuk disakiti. Maka apakah dia tidak akan marah?
__ADS_1
"Tuan...tuan, kalian salah paham." Bibi Mei ingin menjelaskan kepada Paman Sahid dan Bibi Mei, tapi Paman Sahid melambaikan tangannya tidak ingin mendengarkan.
Melihat ini dia menjadi gelisah dan panik. Kedua tangannya mulai berkeringat dingin menahan takut.