Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 172


__ADS_3

15 menit kemudian mereka sampai di sebuah gubuk yang dipenuhi oleh banyak orang. Kedatangan mobil mereka sontak menarik banyak perhatian dari para tamu acara resepsi. Kerabat yang mengenal Asri langsung membuka mulut berbisik satu sama lain, menghela nafas secara terang-terangan dan berbicara bahwa Asri sangat beruntung. Dia putus sekolah tapi menikah dengan orang kota, sudah begitu kaya raya dan memiliki mobil. Nasibnya sungguh berbeda dengan anak-anak di kampung ini. Padahal rata-rata gadis di kampung ini sudah tamat SMA dan ada pula yang kuliah namun mengapa mereka tidak memiliki nasib yang sama dengan Asri?


Setidaknya menikah saja dengan karyawan kantor di sebuah instansi kecil, tapi harapan ini rasanya sedikit sulit apalagi sampai bermimpi melihat anak-anak mereka berjodoh dengan orang kota sekaya Arka.


"Asri teh sekarang kaya, hidupnya sudah nyaman dan lebih suka tinggal di kota daripada di desa. Karena terlalu nyaman dia teh lupa dengan keluarganya yang ada di kampung." Di antara beberapa Ibu-ibu yang sedang bergosip, pasti ada satu atau dua orang yang tidak bisa menahan kecemburuan di hati dan mulai membuka mulut untuk mencari-cari kesalahan Asri.


Ibu yang lain juga menjawab,"Di kota enak. Suami kaya raya dan tinggal di rumah mewah, memangnya siapa yang tidak mau memiliki kehidupan nyaman ini, Bu?"


"Dia sekarang sombong karena hidup nyaman. Setelah pergi ke kota dia tidak mau lagi datang ke kampung ini. Padahal teh Bibi dan sepupunya juga ada di sini." Kabarnya mereka mendengar bahwa keluarga Asri yang ada di kampung sebelah atau tempat tinggal Asri sebelumnya telah dibawa pergi ke kota bersama-sama. Sedangkan keluarga yang ada di sini ditinggalkan begitu saja. Banyak penduduk desa yang merasa ini tidak adil dan sering mengompori keluarga Asri yang ada di sini untuk pergi menuntut keadilan. Harusnya semua orang tinggal di kota bersama-sama.


Qodarullah, Bibi dan sepupu yang di sini mengerti mengapa Asri membawa keluarga yang lain sedangkan mereka tidak sehingga mereka tidak terpancing oleh perkataan penduduk desa yang cemburu.


"Sombong gak ada gunanya karena harta tidak akan bertahan lama. Ada masanya orang di bawah ada juga masanya orang di atas. Hidup ini seperti roda. Ngomong-ngomong, kalian tahu tidak bahwa suami Asri adalah laki-laki paruh baya? Keluargaku yang ada di desa sebelah mengatakan bahwa Asri sengaja menghalangi laki-laki paruh baya itu saat melarikan diri dari pernikahannya. Dia tahu bahwa menikah dengan Rodi tidak berguna apa-apa, melainkan hanya merugikan diri sendiri. Jadi daripada menyusahkan hidup dengan laki-laki yang tidak mampu melakukan apa-apa lebih baik dia menikah dengan laki-laki paruh baya itu. Dia memang sudah tua tapi jabatannya sebagai bos tanah, tunggu saja laki-laki paruh baya itu mati maka semua harta akan jatuh ke tangannya. Ini adalah taktik yang sudah biasa digunakan oleh orang-orang miskin yang ingin memanjat tempat tidur orang-orang kaya."


Karena desa mereka agak berjauhan, mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya dan hanya mendengar beberapa rumor simpang siur yang penyebar di beberapa desa. Ada yang mengatakan bahwa suami Asri adalah laki-laki yang tampan dan kaya raya, ada pula mengatakan bahwa suami asli adalah laki-laki paruh baya yang sudah reyot. Dan ada beberapa rumor lagi yang tidak enak didengar di telinga tapi masih dibicarakan juga. Kebanyakan orang yang cemburu lebih meyakini rumor buruk untuk menutupi ketidakpuasan di dalam hati.


"Aku sudah mendengarnya. Cek cek cek cek... Asri ini katanya sekolah di pondok pesantren tapi memiliki akhlak yang buruk. Masa iya mau nikah gara-gara uang? Apa dia pikir pernikahan itu hanya tempat bermain saja? Putri putriku jauh lebih baik daripada dirinya. Putriku memang tidak menikah dengan orang-orang di kota tapi memiliki akhlak yang jauh lebih bersih daripada Asri."


Mereka saling melempar kata-kata iri dan cemburu seolah-olah apa yang mereka katakan memang benar adanya. Mereka menutup telinga dan berpura-pura bahwa topik pembicaraan ini tidak akan menyakiti pihak manapun. Akan tetapi ketika melihat laki-laki tampan dan tinggi yang keluar dari mobil mahal itu, mereka langsung tercengang. Dan mereka bertambah iri dan cemburu ketika melihat laki-laki tampan nan tinggi itu membuka pintu mobil yang lain, lalu mengulurkan tangannya guna membantu Asri keluar dari mobil.


Sudah beberapa bulan tidak melihat Asri, semua orang yang melihatnya dan mengenal jelas melihat perubahan besar di dalam diri Asri. Dia jauh lebih cantik sekarang, kulitnya terawat dengan baik dan memiliki kesan anggun yang biasanya tertanam di dalam karakter orang-orang di kota. Lihatlah pakaian yang digunakan, tidak glamor... Tapi kualitas kainnya tidak bisa membohongi harganya yang tidak murah.

__ADS_1


Dada mereka terasa sesak dan gigi pun terasa ngilu, mereka berdecak menyesal andai saja yang berada di posisi Asri adalah putri-putri mereka.


"Hati-hati." Arka membantu Asri keluar dari mobil.


Saat menginjakkan kaki ke tanah, lutut Asri langsung lemas dan tidak bisa menstabilkan tubuhnya, hampir saja dia terjatuh jika sang suami tidak memeluk pinggang rampingnya.


"Langsung istirahat di dalam, yah? Kondisi kamu lagi nggak benar. Aku akan memanggil dokter untuk melihat apa yang terjadi denganmu." Ucap Arka khawatir.


Dia kira istrinya hanya sekedar mengantuk di dalam mobil tadi makanya dia tidur lama di dalam perjalanan. Akan tetapi setelah melihat kondisinya tadi, dia merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan istrinya.


"Nggak perlu memanggil dokter, mas. Aku akan baik-baik saja kalau beristirahat di dalam." Asri juga merasakan bahwa tubuhnya memang tidak fit, tapi memanggil dokter ke rumah ini sepertinya agak berlebihan karena perjalanan yang ditempuh tidak main-main.


Seolah melihat kekhawatiran istrinya, Arka tidak lagi memaksa. Tapi di dalam hatinya dia berjanji jika kondisi Asri belum membaik hingga besok, dia akan meminta dokter pribadinya untuk datang ke sini.


Mereka berdua lalu berjalan menuju tempat resepsi diadakan, yaitu di depan halaman rumah Bibinya. Ada banyak sekali orang yang datang menyapa dan dibalas dengan sapaan sopan pula oleh Asri. Terutama para Ibu-ibu yang sempat bergosip tadi, mereka langsung mengubah wajah ketika melihat Asri. Datang menyapa bersama putri masing-masing, diam-diam mereka berharap bahwa Arka akan melirik putri mereka yang selama ini selalu dilebih-lebihkan dan bahkan dipandang jauh lebih baik daripada Asri.


"Asri lama tidak bertemu. Sejak menikah di kota kamu tidak pernah pulang ke kampung. Banyak anak-anak merindukan kamu, termasuk putriku." Salah satu wanita tua yang bermulut besar tadi mendorong punggung putrinya ke depan Arka dan Asri. Maunya sih mendorong putrinya ke depan Arka kalau bisa, tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak terlihat serakah.


"Santi, ayo bicara, Nak. Kamu bilang sudah lama merindukan Asri. Sekarang dia sudah pulang, bicaralah." Sambil mendorong punggung Santi, mata wanita itu diam-diam melirik Arka. Dia penasaran bagaimana reaksi Arka melihat putrinya yang cantik.


Ibu-ibu yang kalah start diam-diam mencibir melihat wajah sok ramahnya kepada Asri. Tapi mereka tidak mengatakan apa-apa dan berniat menonton pertunjukan.

__ADS_1


Santi juga sudah lama cemburu melihat Asri bisa menikah ke kota dengan orang kaya. Dan sekarang kecemburuannya semakin besar melihat teman bermainnya di sungai ternyata tidak hanya menikah dengan orang kaya di kota, tapi juga menikah dengan pria yang sangat tampan. Hatinya membara menahan iri, bertanya mengapa Asri sangat beruntung sedangkan dia dan gadis-gadis di desa tidak padahal mereka adalah teman masa kecil.


"Asri... Aku sudah lama ingin bertemu dengan kamu. Kamu tahu? Aku terkejut mendengar bahwa kamu sudah menikah. Lalu pria yang di samping kamu ini... Apakah suamimu?" Tanyanya dengan suara malu-malu.


Kedua pipinya merah merona, tidak bisa menyembunyikan keinginan di hati. Asri tidak buta. Dia tahu bahwa suaminya sedang didambakan oleh gadis lain. Dia marah dan cemburu. Tangan kurusnya meraih punggung tangan suami yang ada di pinggang dan merematnya kuat sebagai tanda ancaman bila sang suami berani macam-macam.


"Iya, Santi. Ini suamiku. Namanya Arka." Kata Asri enggan, berusaha menahan kecemburuan di dalam suaranya.


"Oh... Namanya Arka. Nama yang bagus, setampan pemiliknya." Santi memuji dengan nada suara malu.


Matanya yang coklat diam-diam melirik Arka berharap bahwa dia mendapatkan respon yang baik. Tapi senyumannya langsung membeku ketika melihat Arka sama sekali tidak melihat ke arahnya atau bahkan sekedar merespon apa yang dia katakan. Rasanya sangat memalukan melihat Arka bertingkah seolah tidak melihat siapapun dan mendengar apapun selain daripada memperhatikan Asri.


"Suamiku memang bagus di sudut manapun. Hanya saja dia tidak suka dipuji oleh wanita lain. Dia bilang mendengar pujian itu lebih baik daripada mendengar ujian orang lain. Kalau aku tidak salah mas Arka selalu menganggap bahwa pujian orang lain sebagai..." Asri benar-benar lupa apa yang Arka sebutkan waktu itu. Karena dia memang menganggap apa yang mereka bicarakan adalah sebuah candaan.


Asri bingung, matanya menatap ke atas sedang memikirkan apa yang mereka katakan waktu itu. Arka merasa bila istrinya sangat imut, hatinya tergelitik, godaan ini sungguh tidak tertahankan sehingga tangannya yang menganggur tanpa bisa dicegah menyentuh pipi gembil istrinya, dan mencubit pipi itu gemas.


Tertawa puas,"Seperti suara amplas. Benar-benar berisik. Aku tidak menyukainya."


Hati semua orang yang memiliki pikiran menyimpang kepada Arka langsung menjadi dingin. Tanpa perlu dijelaskan lagi mereka juga tahu bahwa Arka sama sekali tidak tertarik dengan Santi ataupun gadis-gadis lainnya.


"Mas Arka... Ini terlalu kasar!" Asri mengeluh tapi bibirnya tersenyum. Dia bahkan lupa jika pipinya agak sakit karena dicubit oleh sang suami.

__ADS_1


"Biarkan saja. Aku mengatakan yang sebenarnya bahwa pujian mereka bagaikan suara amplas yang mengganggu, aku membencinya. Oke, jangan terlalu banyak bicara. Ayo masuk ke dalam. Bapak dan Ibu sudah menunggu kita di depan." Arka tidak senang berada di pusat keramaian orang-orang ini.


Apalagi beberapa di antara mereka memiliki tujuan najis terhadap dirinya. Dia bukanlah orang yang bodoh, trik sekecil ini, bagaimana mungkin dia tidak melihatnya? Huh, apa mereka pikir dia adalah seekor ikan di sungai yang mau makan apa saja yang diumpankan oleh pancing. Sungguh naif.


__ADS_2