Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
52. Asalkan Bersama Dirimu


__ADS_3

Ustad Vano bingung dan bertanya-tanya, apa lagi yang harus ia lakukan untuk memenangkan hati istrinya?


Harus apa lagi yang ia lakukan agar istrinya percaya betapa tulus perasaan di hatinya.


Harus apa lagi yang ia lakukan?


"Mas Vano..hiks..." Ai mengangkat kepalanya ingin membantah, namun ia dibuat terkejut dengan air mata yang kini telah membasahi wajah suaminya.


"Mas Vano.." Dia perlahan berdiri, menatap suaminya dengan tatapan permintaan maaf juga rasa bersalah.


"Aku mencintaimu, Aishi." Ungkapnya dengan nada memohon.

__ADS_1


Ai memejamkan matanya menahan rasa bahagia juga penyesalan, menyesal karena telah begitu lancang membuat suaminya menangis.


Betapa berdosa nya ia kepada sang suami, ia yakin para bidadari di surga saat ini pasti sedang mencemoohnya, mengancam akan mengambil Ustad Vano di surga kelak.


"Aku sungguh sangat mencintaimu. Selama tahun-tahun itu aku menunggu dengan sabar kedatangan mu, aku menunggu dengan sabar hari pertemuan kita, dan aku menunggu dengan sabar Ayah mau menyerahkan dirimu kepadaku. Aku telah melalui semua itu, rasa sakit dan siksaan menahan rindu, aku telah melewati semua itu. Jadi, bagaimana mungkin aku mau menceraikan kamu setelah semua perjuangan itu? Jadi, bagaimana mungkin aku menceraikan kamu setelah aku akhirnya berhasil mendapatkan kamu? Tidak, Aishi! Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi! Kamu tidak akan pernah bisa lepas dari diriku!"


Untuk semua siksaan dan perjuangan yang telah ia lewati agar bisa mendapatkan Ai, dia tidak akan pernah membiarkan Ai lepas dari dalam hidupnya. Bila Ai tidak mencintainya lagi maka Ustad Vano bisa melakukan banyak hal untuk membuat Ai kembali mencintainya.


"Aku sangat mencintai mu." Ulanginya menekankan.


Kedua tangannya yang sudah berkeringat dingin dan gemetaran perlahan melepaskan kain jilbab yang menutupi kepalanya. Di hadapan sang suami yang melepaskan jilbab panjang itu.

__ADS_1


"Lalu... kenapa kamu ingin berpisah denganku bila kamu benar-benar mencintaiku?" Ustad Vano tidak mengerti ini.


Ai menunjuk dirinya sendiri.


"Karena ini, karena aku yang tidak bisa memberikan keturunan untukmu, Mas."


"Sebelum menikah mungkin Mas Vano telah memikirkan semua konsekuensi yang akan Mas terima saat menikahi ku. Ya, aku tahu ini dan aku sungguh sangat bersyukur untuk kesediaan Mas Vano. Akan tetapi seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa aku tidak akan bisa menjamin kesediaan Mas Vano ini akan bertahan selamanya. Suatu hari nanti Mas Vano pasti ingin seperti suami-suami di luar sana, menjadi seorang Ayah untuk buah hati sendiri dan suatu hari pula Mas Vano pasti ingin seperti suami-suami di luar sana, memiliki istri cantik yang memiliki bentuk tubuh sempurna dan dapat memuaskan 'keinginan' di atas ranjang. Hari itu pasti datang, Mas, dan sebelum semuanya terlambat aku ingin kita mengakhirinya-"


"Lagi-lagi kamu bersikap lancang kepada, Ai. Beraninya kamu menghakimi kehidupan ku sebelum ketetapan Allah datang? Aishi Humaira, apa perasaan ku ini begitu rendah dihadapan mu? Bagaimana mungkin ketulusanku begitu mudah goyah disaat Allah sendiri yang menjaga hatiku?" Lagi, untuk yang kesekian kalinya malam ini Ustad Vano memotong semua ucapan Ai.


"Janji Allah itu pasti, Ai, dan Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba yang berdoa maupun hamba yang berserah diri kepada-Nya. Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Dan kamu harus tahu ini Ai, bahwa perasaan ku kepadamu telah lama ku serahkan kepada Allah. Perasaan ini sudah lama aku berikan kepada Allah, maka bagaimana mungkin Allah mengecewakan ku disaat diri ini telah berserah diri kepada-Nya? Tidak, Ai. Allah tidak akan pernah melakukannya. Dia telah menjaga hati ini untukmu dan Dia juga telah melapangkan hati ini untukmu. Allah telah melapangkannya Ai sehingga apapun ketentuan yang harus aku dapatkan setelah menikahi mu inshaa Allah telah diterima hatiku dengan ikhlas sejauh mana aku menginginkan mu menjadi istriku. Aku memang menginginkan seorang anak hadir di tengah-tengah kita dan aku tidak mau menampik bahwa aku memang mengharapkannya. Akan tetapi semua itu bergantung pada kehendak Allah. Bila Allah ridho, maka jadilah kita memiliki seorang keturunan tapi bila Allah tidak ridho, maka jadilah kita tidak memiliki seorang keturunan. Namun semua itu tidak masalah, Ai. Ada atau tidaknya seorang anak di antara kita tidak akan menjadi masalah untuk kita karena yang terpenting adalah ridho Allah. Kita hidup di dunia ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah dan mengejar ridho Allah, maka mendapatkan ridho Allah saja sudah cukup untuk kita berdua Ai. Asalkan bersama dengan dirimu dan Allah pun ridho terhadap pernikahan ini, maka semuanya saja sudah cukup untukku."

__ADS_1


__ADS_2