
Asri mengobrol ringan sepatah dua patah dengan Arka sebelum mereka berpisah karena Arka harus menemani para tamu laki-laki untuk berbicara. Dia lalu menoleh ke tangga dan tidak sengaja melihat Ustad Azam sedang berbicara dengan Mama Ustad Vano. Apa yang mereka bicarakan pasti ada kaitannya dengan situasi Mega yang tengah dibopong oleh Ustad Azam.
Hah, tanpa sadar dia menghela nafas panjang melihat situasi kedua sahabatnya. Karena hamil kedua sahabatnya itu satu demi satu tepat di pelukan suami masing-masing. Meskipun terlihat tidak nyaman tapi Asri juga merindukan posisi itu.
Dia berharap suatu hari nanti rahimnya dapat dibuahi buah cintanya dengan Arka. Menyusul kedua sahabatnya yang sudah memulai perjalanan menciptakan rumah yang harmonis dengan kehadiran anak-anak.
"Kak Asri?" Panggilan Fina mengangetkan Asri dari lamunannya.
Asri kaget melihat Fina sudah di sini saja bersamanya. Padahal dia ingat adiknya masih sekolah minggu minggu ini di kota B dan belum bisa pulang sebelum menyelesaikan UTS. Tapi mengapa sekarang adiknya sudah ada di sampingnya saja?
__ADS_1
"Kamu gak sekolah lagi, dek?" Tanya Asri tiba-tiba merasa marah karena Fina lagi-lagi tidak mengindahkan tugasnya sebagai seorang pelajar.
Karena hei, demi uang kuliah Fina yang tidak main-main banyaknya, Asri harus dipaksa menikah dengan anak juragan Romlah di desanya. Namun takdir Allah nyatanya sangat indah. Bukannya menikah dengan laki-laki bertatto itu, dia malah dipertemukan dengan suaminya.
Pertemuan yang membuat mereka berakhir terikat pernikahan.
"Enggak, Kak. Izin sekali aja gak apa-apa kok. Lagian aku penasaran pengen lihat jamuan orang kaya." Kata Fina sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Arka.
"Ya Allah, dek. Kamu gak boleh begini. Bapak dan Ibu menaruh harapan besar sama kamu jadi jangan kecewakan dia. L
__ADS_1
Kamu juga tahu bahwa Bapak dan Ibu juga rela mengambil hutang agar kamu bisa sekolah di kota B. Sekarang kamu sudah mendapatkan impian kamu sekolah di kota B maka kamu jangan menyia-nyiakan kesempatan ini, dek." Nasihat Asri serius dengan nada sedikit marah.
Sebelum menikah dengan Arka, dia juga sangat ingin bersekolah dan enggan meninggalkan pondok pesantren jika rencana pernikahan tidak harus dilakukan.
Sayangnya, Fina sama sekali tidak menganggap serius nasihatnya. Kepalanya yang dikepang rapi malah sibuk menatap Arka. Kini Arka sedang berbicara dengan pihak laki-laki keluarganya. Karena pihak perempuan sibuk mengobrol dengan keluarga Ai, maka pihak laki-laki hanya bisa membuat perkumpulan sendiri agar tidak menggangu para perempuan.
"Kan masih ada, Kak Asri. Nanti kalau aku butuh biaya lebih Kak Asri bisa membantuku. Kan Kak Asri sekarang banyak uang jadi gak apa-apalah bantu biaya kuliah ku sedikit aja." Kata Fina enteng yang sangat menyebalkan di dalam pendengaran Asri.
Asri mengepalkan kedua tangannya marah. Dia kesal karena mata adiknya terus menerus menatap suaminya dengan tatapan panas, dan dia juga kesal karena adiknya ternyata tidak menganggap serius kuliahnya sendiri.
__ADS_1
Padahal Bapak dan Ibu memiliki harapan yang sangat besar kepadanya.
Asri berkata ketus,"Jika kamu begini terus maka jangan berharap aku akan memberikan kamu satu sen pun. Kakak gak rela membuang-buang hasil kerja keras suami Kakak hanya untuk orang yang tidak menganggap serius belajar." Pernyataan ini langsung membuat Fina marah sekaligus tidak puas.