Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 136


__ADS_3

Sambil menyiapkan makanan mereka mengobrol beberapa patah kata tentang kehidupan mereka setelah hamil yang memiliki perbedaan yang sangat besar. Tentunya suami maupun keluarga masing-masing sangat memperhatikan mereka berdua.


Terutama Bunda Safira dan Mama Mega. Mereka sekarang memiliki hubungan yang baik sejak Ai dan Mega memiliki persahabatan yang baik,l hubungan suram kedua belah pihak pun menghilang. Mereka telah kembali ke jalan fitrah yang Allah ridhoi, menyambung tali silaturahmi yang sempat bermasalah karena masalah bertahun-tahun yang lalu.


"Assalamu'alaikum Ai, Ga." Salam Asri dengan kelelahan di wajahnya.


Walaupun lelah, warna merah nan manis yang mengembang malu-malu di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Jelas saja, sekali pandang pun Ai dan Mega sudah tahu apa yang terjadi. Karena Ai orangnya pemalu, dia berusaha tidak mengatakan apa-apa dan berpura-pura tidak melihat rasa malu sahabatnya.


Tapi Mega tidak, dia selalu orang menjadi blak-blakan.


"Aku tuh heran, yah, sama kalian berdua. Kok suka banget melakukan 'ibadah' di waktu-waktu menjelang magrib. Padahal waktunya gak banyak, tapi masih aja dilakuin dan ujung-ujungnya pasti disambung lagi malamnya." Ucapnya heran dengan ekspresi santai di wajahnya.


Efeknya sangat luar biasa. Asri tidak hanya malu tapi pipinya juga terbakar hebat rasanya. Dia tiba-tiba memiliki keinginan untuk menggali lubang di bawah kakinya untuk bersembunyi.

__ADS_1


"Itu...itu...salah Mas Arka!" Katanya malu seraya menundukkan kepalanya tidak ingin dilihat oleh kedua sahabatnya.


Mega dengan lempengnya menjatuhkan bom terakhir,"Tapi kamu suka, kan?"


...🌪️🌪️🌪️...


Ai sudah pergi ke bawah untuk memasak, meninggalkan sang suami yang sedang berurusan dengan dokumen-dokumen kantor. Pekerjaannya berjalan dengan baik dan tidak membutuhkan waktu lama karena dia hanya mengulas kembali apa yang dia kerjakan di kantor kemarin.


"Lho, Alsi kok tumben sendirian." Gumam Ustad Vano ketika melihat putrinya tertunduk lesu di atas anak tangga.


"Alsi." Panggil Ustad Vano mengagetkan Alsi.


Alsi menoleh. Berusaha memaksakan senyum di wajah cantiknya yang mulai berdaging dan jauh lebih lembut dari beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


"Abi. Kenapa Abi ada di sini?" Tanya Alsi lembut.


"Abi mau keluar cari Paman kamu, Nak. Nah, Alsi sendiri kok tumben sendirian. Kenapa hari ini gak mau nemenin Umi di dapur?"


Alsi terdiam. Lalu dia menundukkan kepalanya tidak berani melihat Ustad Vano. Bila dia mengatakan yang sejujurnya, mungkinkah Ustad Vano juga akan membencinya seperti yang anak-anak itu katakan?


Alsi takut. Alsi takut dibuang oleh Abi dan Uminya. Dia tidak ingin berpisah dengan kedua orang tua angkatnya.


"Nak, kamu kenapa, hem?" Ustad Vano melihat ada sesuatu yang salah dengan putrinya.


Alsi mengangkat kedua matanya yang memerah,"Abi, aku gak apa-apa, kok. Alsi cuma kangen aja sama Kakek." Bohong Alsi menyembunyikan kesedihannya dari Ustad Vano.


Ustad Vano akhirnya mengerti mengapa putrinya sangat sedih. Ternyata dia sedang merindukan Kakek baik hati yang telah merawatnya saat hidup di jalanan dulu. Tanpa Kakek itu, mungkin Alsi akan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggungjawab. Tapi untungnya Allah baik hati dan mengirimnya ke orang yang baik hati.

__ADS_1


"Jangan sedih, Nak. Nanti bila Abi tidak sibuk di kantor, kita dan Umi akan pergi berziarah ke makam Kakek. Bagaimana?"


Alsi tersenyum tipis, mengangguk kan kepalanya polos sangat pandai menyembunyikan kesedihan hatinya.


__ADS_2