Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 112


__ADS_3

"Benarkah?" Tanya Arka dengan mata menyipit.


Riani tersenyum lebar berusaha terlihat setenang mungkin untuk menutupi rasa gugup di hatinya. Kedua tangan ramping Riani bersembunyi saling meremas dari balik kain dress selutut nya. Dia gugup, muncul kepanikan di dalam dirinya ketika memikirkan kemarahan Arka.


Walaupun masih tidak percaya Arka akan lebih memilih mendengarkan Asri daripada dirinya, akan tetapi Riani menyadari dengan benar bila ia berada di posisi yang salah saat ini. Tindakannya kemarin tidak dibenarkan dan Arka pasti ingin meminta penjelasannya untuk masalah yang ia ciptakan kemarin sehingga membuat gaduh rumah tangga Arka dan Asri.


"Benar, Paman. Aku dan Bibi Asri memiliki hubungan yang baik-baik saja selama ini." Jawab Riani masih mepertahankan sandiwaranya.


Bahkan di saat genting seperti ini ia masih saja sempat berbohong sekalipun ia tahu bahwa kebingungannya sama sekali tidak berguna. Arka tidak akan mempercayainya karena Asri pasti sudah menceritakan semuanya.


Ugh, lagi-lagi semua ini dimulai dari Asri, gadis desa tidak tahu diri yang telah berhasil merangkak ke dalam kehidupan Arka.


Riani kian jengkel rasanya saat melihat lengan ramping Asri melingkari lengan kuat Arka langsung di depannya tanpa merasa canggung. Tidak hanya pamer kemesraan tapi Asri juga berani memprovokasinya dengan cara mengabaikan keberadaannya di sini, bersikap sok malu-malu di depan Arka seolah tidak ada siapapun di sini.


Ahh!


Riani geram ingin mencabik-cabik wajah tidak tahu malu Asri!


"Bagus jika tidak ada masalah yang terjadi di antara kalian, aku senang kalian bisa akur." Arka berkata ringan yang sangat melegakan untuk Riani.


Ia pikir masalah ini sampai di sini saja- tapi, ia baru saja mengambil nafas lega beberapa detik saja sebelum mendengar pertanyaan menakutkan dari Arka.


"Tapi inilah yang membuat ku heran, jika benar hubungan kalian berdua baik-baik saja lalu kenapa kamu memberikan berita bohong kepada istriku?" Tanya Arka masih menggunakan nada ringannya.


"Be-berita bohong apa yang Paman maksud? Aku tidak tahu apa yang Paman bicarakan." Katanya dengan suara terbata-bata.


Dia kali ini tidak bisa menahan panik yang merayap masuk ke dalam hatinya.


****, semuanya berakhir!

__ADS_1


Ini adalah raungan pertama yang bergema di dalam dada Riani. Tidak hanya gagal menjalankan misi namun ia juga tertangkap basah oleh targetnya sendiri. Jadi, bagaimana mungkin Riani tidak merasa gelisah?


"Apa kamu benar-benar tidak tahu atau hanya berpura-pura tidak tahu saja?" Tanya Arka sinis yang langsung memberikan dampak besar kepada Riani.


Badannya menggigil tanpa sadar tidak berani menatap bola mata kelam Arka. Dia tidak tahu alasannya kenapa tapi saat ini mata Arka terlihat begitu aneh dan sedikit menyeramkan. Riani seperti melihat lautan tidak berujung di dalam sana, dalam dan gelap, dua kata ini menggambarkan ketakutannya.


"Aku... Paman, aku..." Riani tidak memiliki keberanian melayangkan sebuah kebohongan lagi karena saat ini Arka terlihat begitu menakutkan untuknya.


Arka tersenyum miring, tangan besarnya menepuk ringan tangan Asri yang sedang melingkari lengan kirinya. Arka tahu bila Asri tidak tahan lagi dengan pembicaraan ini dan ingin segera menyelesaikannya. Tapi, sayangnya Arka bukanlah orang yang terburu-buru. Ia suka merasakan saat melihat buruannya terjebak di dalam perangkap, merasa takut dan gelisah, dia menikmati perasaan ini.


Oh hei, dia adalah Arka, CEO perusahaan properti terkenal kota ini.


Sejak memasuki bisnis hatinya tidak benar-benar bersih, semuanya terlihat monoton- sampai akhirnya ia bertemu dan menikah dengan Asri. Gadis desa nan polos itu menyelamatkan Arka dari dunia yang seharusnya tidak bisa disebut sebagai dunia karena dunianya kali ini berputar pada orang yang tepat.


"Kamu tidak bisa mengatakannya? Maka aku tidak keberatan mengatakannya untukmu. Mungkin saja setelah mendengar apa yang aku katakan, kamu tidak akan lupa lagi." Arka tidak melihat kegelisahan Riani- oh, mungkin lebih tepatnya dia mengabaikan kegelisahan keponakannya.


Arka tidak kejam, dia hanya bertindak sebagaimana mestinya. Yah, salahkan sendiri Riani yang terlalu banyak omong dan menjengkelkan.


"Apa kamu sudah mengingatnya kembali? Apa aku boleh tahu darimana kamu mendapatkan semua kepalsuan itu?" Lanjut Arka dengan rasa kedinginan yang tidak mudah di dekat.


Riani bisa melihat kemarahan dari nada suaranya.


"Aku..." Riani mengepalkan kedua tangannya gelisah bercampur malu.


Dia benar-benar tidak memiliki harapan.


"Aku mendapatkannya dari orang lain." Jawab Riani berbohong.


"Oh, kamu masih berani memainkan kebohongan di sini?" Arka bertanya sedetik kemudian.

__ADS_1


Tersenyum miring,"Aku pikir kamu sudah mengenal ku dengan cukup baik tapi ternyata dugaan ku salah."


Riani langsung menatap wajah Arka dengan ekspresi membantah.


"Tidak, Paman! Aku sangat mengenal-"


"Lalu, kenapa kamu masih saja berbohong?" Potong Arka tanpa ampun.


Riani segera bungkam. Wajah pucat pasi nya menatap Arka dengan ekspresi menyedihkan di wajahnya. Tapi sayangnya Arka tidak perduli dan hanya menatapnya dengan datar.


"Apa Paman tidak merasa jijik?" Tanya Riani lemah.


Arka tidak menjawab dan hanya menontonnya, sedangkan Asri di samping gelisah ingin segera mengakhiri pembicaraan. Tampaknya pembicaraan ini akan berakhir buruk dan jauh dari bayangan Asri.


"Apa Paman tidak merasa jijik terikat dengan gadis desa udik itu?" Riani masih mengulangi pertanyaan yang sama.


Arka tersenyum, tangan kirinya melepaskan pegangan Asri dan beralih melingkari pinggang Asri di bawah pengawasan mata Riani.


"Kenapa aku harus merasa jijik? Dia adalah istriku dan aku suka berada di dekatnya." Jawabnya santai.


Riani menatapnya tidak percaya, meragukan pendengarannya sendiri yang sejujurnya tidak pernah mengalami masalah.


"Dia orang miskin, putus sekolah, udik, dan jelek. Apakah ini tidak cukup menjijikkan?" Tanya Riani tidak tenang.


Emosi di dadanya meluap-luap ingin dilepaskan.


Arka masih menjaga senyumnya meskipun hatinya sudah sangat marah saat mendengar istrinya dijelek-jelekkan di depan kedua matanya langsung.


"Istriku adalah yang terbaik, tidak ada yang tahu ini selain diriku sendiri."

__ADS_1


Lagi-lagi jawaban yang menjengkelkan, Riani tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.


"Kenapa Paman lebih perduli kepada gadis desa itu daripada kepadaku? Kenapa Paman lebih mendengarkan dia daripada mendengarkan ku? Paman bertanya apa aku melakukan semuanya, ya! Aku memberikannya foto dan video palsu agar dia tidak mengganggu Paman lagi. Aku melakukan semuanya demi kebaikan Paman karena aku tahu gadis desa ini tidak pernah memiliki niat baik kepada Paman. Ia mendekati Paman karena uang dan kekayaan yang Paman miliki! Dia memiliki pikiran kotor ini!" Ucap Riani dengan kemarahan yang meledak-ledak.


__ADS_2