Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah Cinta - 198


__ADS_3

Sementara itu di dalam rumah Asri sangat senang melihat lautan buah yang dibawa oleh suaminya. Dia hanya minta buah peach tapi suaminya memborong berbagai macam buah-buahan yang sangat lezat.


Arka bukannya boros tapi dia sengaja memborong banyak agar Asri tidak minta dibeliin ke kota lagi!


Ini sangat menyiksa. Sepanjang perjalanan Arka merasa naik rollercoaster karena jalan yang terlalu bergelombang. Sejujurnya setelah perjalanan ini dia bertekad tidak akan pernah datang ke kampung ini lagi karena perjalanan agak ekstrim. Berbeda jika dia ke kampung Asri. Walaupun jalannya bergelombang tapi masih manusiawi dan wajar. Arka tidak merasa kesal bila di sana.


Setelah membahagiakan istrinya dengan semua belanjaan, Arka tersenyum lebar saat melihat istrinya membagi-bagikan buah kepada Ibu dan yang lainnya. Asri hanya mengambil beberapa untuk dibawa ke dalam kamar.


Mereka berdua makan siang seadanya. Lagi-lagi telur ceplok sambal hijau sebagai lauknya. Arka tidak mengeluh karena istrinya sangat menyukai makanan sederhana ini. Lihat saja betapa lahap istrinya makan, melihatnya makan membuat nafsu makan Arka melonjak!


Selesai makan mereka berdua kembali ke kamar untuk tidur. Arka sangat kelelahan setelah perjalanan jauh. Begitu badannya menyentuh kasur, dia langsung tertidur.


"Kasian banget suamiku. Dia pasti capek." Gumam Asri merasa bersalah.


Dia membaringkan dirinya di samping Arka dan langsung ditarik ke dalam sebuah pelukan hangat.

__ADS_1


"Jangan kemana-mana." Suara Arka serak karena mengantuk.


Asri merasa manis. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Hum... wangi suaminya langsung menyeruak masuk ke dalam lubang hidungnya, sangat harum. Wanginya tidak membuat enek atau membosankan, justru memiliki sentuhan yang menyegarkan seperti sedang berteduh di hutan pinus, menghirup wanginya membuat Asri langsung rileks. Perlahan kelopak matanya terasa berat hingga dia tidak sanggup mengangkatnya lagi.


Dan gelap. Dia akhirnya tertidur.


Kelopak mata Arka bergerak. Tersenyum geli,"Dasar tukang tidur." Bisiknya seraya memperbaiki posisi kepala istrinya.


Seharusnya dia yang kelelahan lebih cepat tidur daripada Asri yang santai-santai di rumah. Tapi apalah daya. Istrinya ini memang penggemar tidur jadi dia mudah tertidur dimana-mana.


Memikirkan kemungkinan ini, Arka menatap wajah lembut istrinya.


Dia mau tak mau berharap bila istrinya akan menyusul kehamilan Ai dan Mega.


"Sayang, kamu sangat pintar membuatku gelisah." Bisik Arka gemas.

__ADS_1


Dia mengecup bibir istrinya beberapa kali dan mengecup keningnya lama. Puas, dia akhirnya bisa meneruskan tidurnya dengan damai. Istri di dalam pelukan dan pekerjaan ada yang urus, apalagi yang perlu dipusingkan!


Ini adalah nikmat hidup!


*****


Keesokan paginya Arka dan Asri bergandengan tangan sambil jalan-jalan di sekitar sawah. Mereka berdua terlihat sangat mencolok dan menarik perhatian. Beberapa orang akan datang menyapa dan sisanya hanya bisa melihat dari jauh.


Jangan katakan, wajah datar Arka membuat orang merinding jadi mereka tidak berani datang menyapa dan hanya bisa melihat dari jarak yang cukup.


"Mas, kapan dokter itu sampai?" Asri cemberut.


Semalam dokter mengalami masalah diperjalanan sehingga tidak bisa datang ke rumah tepat waktu.


Arka heran.

__ADS_1


"Sebentar lagi. Kenapa? Kemarin aku lihat kamu enggak mau ketemu sama dia? Kenapa sekarang tiba-tiba nanyain?"


__ADS_2