Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 100


__ADS_3

"Aku juga Mas, aku juga mencintai Mas Vano." Ungkap ku tulus membuat Mas Vano mengembangkan sebuah senyuman lebar. Aku melihat ada kelegaan di dalamnya dan tatapan penuh kebahagiaan itu, aku tahu Mas Vano juga merasakannya karena aku pun juga merasakan perasaan yang sama.


"Sudah azan subuh, Mas." Kataku mengingatkannya.


Dia menunduk kembali, mengecup singkat bibirku sebelum mencium lama keningku.


"Aku pergi ke masjid dulu. Kamu turunlah temui Mega dan Asri untuk melakukan sholat bersama-sama di mushola." Pesan Mas Vano sembari menggenggam tanganku ikut bersamanya turun ke bawah.


"Tentu, Mas. Aku dan mereka akan sholat bersama di mushola." Kataku membuatnya tersenyum.


Aku tidak ingin besar kepala tapi jujur, Mas Vano sangat suka tersenyum bila bersamaku. Tidak hanya suka tersenyum namun ia juga sangat mudah tersenyum ketika bersamaku. Tidak seperti ketika sedang bersama orang lain, Mas Vano selalu menggunakan wajah datarnya yang menakutkan. Terlihat sangat pelit senyum dan memiliki rasa jarak yang tidak mudah didekati. Padahal dari pengalaman ku saat tinggal di pondok pesantren, banyak dari teman-teman kamar dan para senior yang ketahuan memendam suka kepada Mas Vano. Tetapi mereka segan mendekati Ustad Vano karena tidak sanggup membendung sorot mata tajamnya yang mengerikan.


"Istriku," Mas Vano tiba-tiba berbalik menatapku dengan sebuah senyuman yang tidak pernah luntur dari wajah tampannya.


"Aku meninggalkan tespek di atas meja kerjaku, gunakanlah dengan mengikuti langkah-langkah pemakaian di luar kemasan." Bisik Mas Vano sebelum pergi berlari keluar mengikuti Paman Arka dan Ustad Azam yang telah menunggu di gerbang.


Tespek, uh?


Aku lupa menanyakannya dimana tespek itu ditaruh tapi Mas Vano lebih dulu mengingatkanku.


"Kenapa, Ai? Subuh-subuh gini wajah kamu udah merah aja." Goda Asri entah sudah sejak kapan ada di dekatku.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku menolak memberitahu,"Bukan apa-apa, hanya saja hari ini jauh lebih manis dari yang aku bayangkan." Kataku malu.


Setelah mengantar Mas Vano ke depan pintu aku lalu kembali ke dalam kamar untuk mengambil mukena dan...mencoba tespek yang Mas Vano beli.


Sebelum menggunakan mukena pertama-tama aku mengambil tespek yang Mas Vano taruh di atas meja kerja dan betapa terkejutnya aku ketika melihat tespek yang Mas Vano beli lebih dari 3 batang.


Semalam aku pikir jika Mas Vano hanya membeli 1 atau 2 tespek, jika lebih dari itu maka kemungkinan hanya 3 batang paling banyak. Tapi lihat tespek yang ada di atas meja,


"Satu, dua, tiga, empat, lima.... tujuh tespek?" Hitung ku tidak percaya.


Mas Vano membeli 7 batang tespek dari merek yang berbeda-beda. Aku tahu apa yang Mas Vano pikirkan ketika membeli tespek sebanyak ini tapi tetap saja rasanya agak menggelikan karena setahuku orang paling banyak menggunakan 3 tespek.


Lalu aku membawa semua tespek itu bersamaku masuk ke dalam kamar mandi dengan gelas putih yang akan aku gunakan sebagai wadah untuk menampung air urine ku. Sebelum memulai semua proses aku terlebih dahulu membaca langkah-langkah yang harus aku lakukan agar bisa mendapatkan hasil yang akurat. Setelah semuanya pasti, aku kemudian menampung air urine ku ke dalam wadah, memasukkan semua batang tespek ke dalam wadah dan menunggu sampai 15 menit kemudian.


Namun karena harus melakukan sholat subuh bersama Mega dan Asri di mushola, aku pikir hasil akhirnya lebih baik aku lihat setelah selesai sholat subuh saja.


Jadi aku menaruh wadah urine beserta 7 tespek itu ke atas meja wastafel sebelum mengambil air wudhu dan pergi menyusul kedua sahabatku di bawah.


Sesampai di mushola aku melihat situasi Mega sepertinya tidak tampak baik-baik saja. Ia agak lemas dan wajahnya pun memiliki warna pucat.


"Apa kamu baik-baik saja, Mega?" Tanyaku lupa mengucapkan salam saking cemasnya.

__ADS_1


Ketika melihat aku masuk Mega dan Asri terlihat sangat terkejut. Mereka spontan saling menjauh setelah Mega buru-buru menutup perutnya kembali dengan mukena.


"Apa kamu sakit perut?" Pasalnya aku tadi melihat tangan Asri mengelus-elus permukaan perut datar Mega tapi ketika aku masuk Asri buru-buru menyingkirkan tangannya.


Mega menatapku aneh, dia sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


"Itu..aku..sakit perut karena salah makan semalam, tapi aku sudah minum obat hari ini jadi seharusnya aku akan baik-baik saja."


Aku menghela nafas panjang, perihal salah makan memang biasa terjadi dan dampaknya juga terkadang tidak fatal sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sembuh.


"Alhamdulillah kalau kamu sudah minum obat, Inshaa Allah beberapa waktu lagi perut kamu akan kembali nyaman." Kataku bersyukur.


Tapi Mega sepertinya tidak merasa lega atau mungkin obatnya masih belum menunjukkan hasil sehingga dia masih kesakitan. Jika begini maka lebih baik Mega tidak usah ikut sholat saja bersama kamu- tidak, sejujurnya tatapan yang Mega tunjukkan kepadaku adalah sebuah perasaan bersalah. Mega terlihat tidak enak hati kepadaku dan terkesan menghindari tatapan ku, tapi karena apa?


Aku pikir kami bertiga tidak pernah memiliki konflik atau pernah bertikai sebelumnya. Dan bahkan semalam semuanya masih baik-baik saja jadi tidak ada alasan Mega merasa tidak nyaman bersamaku, bukan?


"Ayo sholat sebelum suami kita pulang dengan keadaan perut lapar. Kalian tidak mau'kan terlambat menyiapkan sarapan lagi seperti beberapa hari yang lalu?" Asri memecahkan keheningan yang baru saja tercipta di antara kami.


"Asri benar juga, ayo kita segera sholat. Aku tidak mau mendengar keluhan Mas Azam saat mengetahui sarapan masih belum siap." Ini murni sebuah kebohongan. Tentu saja sikap aneh mereka berdua masih menjadi perhatian utama ku.


"Yah, ayo kita sholat." Kataku sembari meluruskan berdiri di samping Mega.

__ADS_1


__ADS_2