
"Aku bertanya apakah kamu sudah selesai dengan semua yang ingin kamu katakan?" Ustad Vano menekan Ai, memaksanya untuk menjawab pertanyaannya.
Gelisah, Ai menganggukkan kepalanya di bawah pengawasan Ustad Vano.
"Aku...sudah selesai, Mas." Bisik Ai menjawab tanpa berani menatap wajah dingin Ustad Vano.
Ustad Vano meluruskan punggungnya. Diam, ia membawa pandangannya menatap ke arah jendela balkon, di luar sana hujan begitu deras dan memiliki udara lembab yang cukup dingin. Seharusnya malam ini dilewati dengan suasana hangat, kasur yang hangat, dan selimut yang hangat pula.
Itulah yang seharusnya.
Namun yang Ustad Vano dapati justru sebaliknya. Bukan sambutan hangat, pelukan hangat, ataupun kasur yang hangat, tidak... Ustad Vano tidak mendapatkan itu semua. Bukan lah kehangatan namun sebuah perasaan dingin yang menyambutnya.
Dingin, ini sangat dingin dan mengecewakan.
Berhari-hari ia tersiksa oleh kerinduan, mencoba menahan diri untuk tidak menghubungi sang istri agar ia bisa segera menyelesaikan pekerjaannya di kantor dan pergi menyusul sang istri ke kota C. Ia kira kedatangannya akan disambut dengan hangat, ia kira kedatangannya dapat meredakan rasa rindu yang menyiksa, ia kira semuanya akan semanis itu.
Tapi kenapa?
Adalah kekecewaan yang menyambut kedatangannya.
"Aishi Humaira, mengapa kamu begitu lancang mencela Allah?"
Ai terkejut, ia menatap suaminya tidak percaya.
"Astagfirullah, Mas! Bagaimana mungkin aku mencela Allah? Demi Allah-"
__ADS_1
"Bersumpah lah bila kamu mau Allah menuntut sumpah ini di akhirat kelak." Potong Ustad Vano dingin.
Ai merasa kian bingung,"Tapi aku sungguh tidak pernah mencela Allah, Mas."
"Benarkah? Lalu kenapa kamu mengatakan jika dirimu adalah orang yang cacat sedangkan gadis-gadis di luar sana sempurna?"
Ai tertegun, ia meremat tangannya kuat.
"Bukankah itu benar?" Dia cacat sedangkan gadis-gadis di luar sana di lahirkan sempurna.
Bukankah ini adalah sebuah kebenaran?
Ai tidak berbohong'kan?
"Aku tidak-"
"Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman di dalam surat At-Tin ayat ke 4, bahwa 'Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,'.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
Wahai Aishi Humaira, jelaskan mengapa kamu merendahkan dirimu sendiri dan mengklaim dirimu adalah orang yang cacat disaat Allah telah menegaskan kepada hamba-Nya bahwa kita semua telah diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, tidakkah kamu merasa malu telah menghakimi kekuasaan Allah? Tidakkah kamu malu telah menghakimi ciptaan Allah?"
Sepotong ayat ini bagaikan sebuah tamparan keras untuk Ai. Dia termenung, kedua tangannya bergetar panik ketakutan. Ia langsung tersadar bahwa tindakannya sungguh hina, ia tersadar bahwa tindakannya sungguh lancang.
Malu?
__ADS_1
Bagaimana mungkin ia tidak malu?
Ia sungguh sangat malu dan dilanda perasaan ketakutan karena telah bersikap tidak sepantasnya kepada Allah. Ia takut, air matanya kian deras dan suara isakan nya perlahan mulai terdengar dibawah derasnya suara hujan di luar sana.
"Astagfirullah...aku sungguh tidak bermaksud seperti itu, Mas." Ai menggelengkan kepalanya panik.
"Tapi kamu melakukannya, Ai! Kamu memandang dirimu adalah orang yang cacat dan mengklaim gadis-gadis di luar sana yang tidak terlahir seperti kamu adalah sebuah kesempurnaan, astagfirullah... Aishi Humaira, sudahkah kamu melupakan bahwa kesempurnaan adalah milik Allah semata. Kesempurnaan adalah milik Allah saja, sementara kita hamba-hamba-Nya tidak pernah luput dari kekurangan dan kelemahan, jadi bagaimana mungkin kamu mengatakan bahwa mereka adalah sebuah kesempurnaan?"
Ai menggelengkan kepalanya kuat, dia membantah namun di dalam hatinya yang terdalam ia bahwa ia sangat salah di sini. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya benar bahwa ia sangat lancang di sini.
"Aku tidak bermaksud mengatakan itu semua, aku tidak bermaksud mencela Allah, Mas! Aku hanya ingin mengatakan bahwa Mas seharusnya tidak perlu menahan diri lagi bersamaku tapi menikahlah dengan gadis yang bisa membahagiakan Mas Vano. Menikahlah dengan gadis yang bisa melahirkan keturunan untuk Mas Vano, menikahlah dengan gadis yang memiliki bentuk tubuh yang indah, menikahlah dengan mereka yang bisa membuat Mas-"
"Aishi Humaira!" Potong Ustad Vano marah.
Ia berdiri dari duduknya, menatap Ai yang kini tengah tertunduk dengan terisak menyedihkan tidak berani mengangkat kepala. Ustad Vano tahu bahwa hati istrinya saat ini pasti sangat kesakitan, hatinya sakit karena merendahkan diri sendiri- akan tetapi Ustad Vano juga sakit di sini. Ia tidak bisa menerima permintaan tidak masuk akal Ai, ia tidak bisa memenuhi permintaan Ai karena sumber kebahagiaannya adalah Ai, Aishi Humaira. Gadis pemalu yang selalu suka merendahkan diri padahal hanya Allah yang tahu betapa spesial ia di hari Ustad Vano.
"Bagaimana mungkin kamu sekejam ini kepadaku? Bagaimana mungkin kamu sekejam ini kepada suamimu sendiri, wahai Aishi Humaira!" Ucap Ustad Vano marah bercampur kecewa.
Hatinya sangat kecewa mendengar permintaan langsung sang istri, cerai dan berpindah mencari gadis lain, ya Allah...betapa hancur yang dirasakan Ustad Vano.
Betapa hancur hatinya mendengar permintaan kejam ini.
"Bagaimana mungkin Aishi, bagaimana mungkin kamu meminta cerai dariku dan bahkan memintaku untuk mencari gadis lain di luar sana, ya Allah... Apa hatiku selama ini tidak cukup tulus untukmu, wahai Aishi Humaira? Apa semua sikap dan perhatianku selama ini belum cukup tulus untuk dirimu, wahai Aishi Humaira? Apa semua perjuangan yang telah aku lewati dengan susah payah selama bertahun-tahun ini untuk mendapatkan mu tidak cukup memuaskan hatimu? Apa semuanya masih belum cukup, istriku?" Dia bertanya dengan suara serak, tidak seperti sebelumnya, kali ini tidak ada lagi nada marah ataupun kekesalan melainkan sebuah kesedihan.
Ustad Vano bingung dan bertanya-tanya, apa lagi yang harus ia lakukan untuk memenangkan hati istrinya?
__ADS_1