
"Mas Azam besok pagi harus ke kota C, yah? Apa enggak bisa ditunda?" Suara lembut Mega bergema lembut di dalam kamar mereka.
Saat ini Azam tengah duduk di meja kerjanya untuk mempersiapkan dokumen yang akan dia bawa ke kota C besok untuk melakukan perjalanan bisnis. Sedangkan istrinya, wanita cantik yang sesekali bergerak mengelus permukaan perutnya itu sibuk mondar-mandir di dalam kamar untuk menyiapkan pakaian dan kebutuhan apa yang akan dia gunakan selama tinggal di kota C.
Kebetulan dia akan tinggal di sana selama 3 hari 4 malam sehingga pakaian yang dipersiapkan lumayan banyak dan cukup mengisi koper mininya.
"Enggak bisa, sayang. Aku juga maunya diundur aja atau kalau bisa enggak usah pergi aja karena aku khawatir ninggalin kamu sendirian di rumah dalam keadaan hamil. Tapi ini adalah tugasku dan betapa buruknya jika aku sampai melalaikannya." Ucap Azam merasa bersalah kepada istrinya.
Dia sebenarnya tidak mau pergi karena istrimu benar-benar tak bisa ditinggalkan lama-lama. Bukan karena mereka lengket tapi karena ustad Azam takut terjadi apa-apa kepada calon ibu dari anak-anaknya itu. Dokter juga mengatakan kepadanya bila wanita yang sedang hamil muda, apalagi ini adalah kehamilan pertama memiliki kerentanan yang sangat tinggi terhadap keguguran. Sehingga dokter selalu mewanti-wanti agar istrinya tidak terlalu banyak berpikir, tertekan, ataupun melakukan pekerjaan berat agar kandungan dan istrinya baik-baik saja.
__ADS_1
Mendengar khawatiran suaminya saja hatinya langsung menghangat dan rasa enggan berpisah yang sempat berkobar di dalam hatinya sedikit berkurang.
"Mas Azam tenang saja. Aku di sini tidak sendirian karena ada Ai dan Asri yang akan menemani ku di rumah. Adapun mas Azam di luar kota juga harus menjaga kesehatan dan jangan terlalu lelah. Jika mas Azam terlalu lelah dan sampai jatuh sakit, aku mungkin akan sangat tertekan." Suaranya memang lembut tapi nada yang syarat akan ancaman sangat sulit disembunyikan.
Ustad Azam anehnya tertawa mendengar ancaman istrinya yang sangat sopan di telinga.
"Insya Allah selama di sana aku akan tetap menjaga kesehatan dan akan selalu menghubungi kamu." Janji ustad Azam seraya merapikan semua dokumen yang akan dia bawa besok dan memasukkannya ke dalam koper lainnya.
"Sayang, kamu mau..." Kata-katanya segera terhenti ketika kelopak matanya terangkat menatap sang istri.
__ADS_1
Mega mungkin tidak menyadari tatapan suaminya karena dia sibuk mengelus perutnya yang sudah tidak rata lagi. Perutnya masih terasa tidak nyaman, entahlah, sampai kapan perutnya akan seperti ini. Rasanya agak mules tapi tidak seperti mules pada umumnya, ini aneh dan membuatnya terkadang mengambil nafas tertahan untuk meredupkan rasa tidak nyamannya.
"Ada apa? Kamu tidak nyaman?" Ustad Azam langsung berdiri mendekati istrinya, memeluk sang istri lembut dan membantunya duduk di atas ranjang mereka dengan hati-hati.
Mega tersenyum lemah,"Keluhan yang sama, mas. Mungkin karena ini baru satu bulan." Kata Mega tidak berbohong.
Ustad Azam mengernyit khawatir,"Apa kamu terlalu lelah bekerja selama ini?"
Wanita hamil terlalu rentan kelelahan dan mudah stres jadi ustad Azam sangat mengantisipasi hal ini.
__ADS_1
Mega menggelengkan kepalanya membantah karena dia tahu proporsi tubuhnya sendiri dan dia juga tahu batasannya. Selama ini dia tidak melakukan sesuatu yang menantang atau pekerjaan berat yang menguras tenaga, jadi dia harusnya baik-baik saja.
"Mungkin karena bayi kita sedang dalam masa pertumbuhan di dalam sana?" Ujar Mega menebak.