Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
55. Kamu Menginginkannya?


__ADS_3

Mengelusnya lembut dengan kedua mata terpejam sebelum kelopak mata itu kembali terangkat menatap sayang wajah merah istrinya.


.


"Aku tidak selemah yang Mama dan Papa ataupun Mas Vano pikirkan. Aku adalah wanita yang kuat, Mas. Aku bisa melakukan aktivitas apapun selama seharian, aku bisa melakukan apapun seharian dan itu bukanlah sebuah masalah untukku. Aku bisa Mas, aku bisa. Apalagi jika ini menyangkut mengenai akhirat ku, Mas. Aku mampu dan masih sangat mampu. Maka janganlah Mas Vano memutuskan ladang amal untuk akhirat ku kelak, jangan pula merasa khawatir yang berlebihan kepadaku, karena sungguh, aku adalah gadis yang kuat, Mas. Apalagi bila ini menyangkut soal akhirat ku, diri ini tidak akan mungkin menyerahkan kesempatan berharga itu pergi, Mas. Aku Aishi Humaira, aku adalah istri Mas Vano. Aku selalu berharap bila gelar ini tidak akan pernah lepas dari diriku hingga di akhirat kelak. Aku ingin gelar ini selalu ada sampai Allah ridho dan menyatukan kita kembali di surga-Nya, Mas. Lantas...lantas tolong jangan putuskan ladang amal ku, lagi. Aku tidak ingin jauh dari ridho Allah dan aku juga tidak ingin jauh dari ridho mu, Mas." Mohon nya dengan suara yang amat sangat tulus.


Ia mencintai suaminya, hanya Allah yang tahu betapa besar rasa cinta itu. Untuk bisa terus bersama dengan suaminya, ia seringkali melambungkan sebuah doa dikala sedang sholat ataupun tidak. Ia berdoa agar pernikahannya ini bertahan hingga mereka berada di akhirat kelak. Ia berdoa semoga pernikahan ini tidak akan pernah terputus meskipun mereka sudah ada di akhirat kelak.


Ia ingin seperti kisah cinta putri tercinta Rasulullah Saw, yaitu Fatimah RA dan Ali bin Abi Thalib. Yang kisah cintanya menggetarkan langit, membuat iri para bidadari surga dan sangat dikenang oleh kaum muslimin.


Ia berharap kisah cintanya semanis itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, istriku." Ustad Vano beralih menyentuh wajah basah istrinya, mengelusnya lembut dan penuh kehati-hatian.


"Aku sungguh tidak bermaksud memutuskan ladang amal mu."


"Maka jangan khawatir kepadaku, Mas, karena aku baik-baik saja." Bisiknya meyakinkan.


Ustad Vano menganggukkan kepalanya mengerti. Ia mengecup lembut puncak kepala istrinya dengan perasaan rasa syukur, di dalam hatinya Ustad Vano memanjatkan sebuah doa agar ia dan Ai tidak akan pernah terpisahkan sampai di surga Allah kelak.


Betapa bahagianya diri ini ya Allah, berada sedekat ini dengan sang kekasih setelah berhari-hari melewati penyiksaan rindu.


"Aku tidak akan memutuskan ladang amal mu, wahai istriku." Dia kemudian beralih mengecup kedua mata persik istrinya, merasakan bulu mata halus nan panjang yang membuat bibirnya tergelitik.

__ADS_1


"Mas," Panggil Ai dengan jantungnya berdegup kencang.


"Hem?" Ustad Vano berdehem ringan, suara seraknya yang candu memiliki magnet misterius, membuat Ai dilanda sebuah perasaan yang begitu mendebarkan.


Ustad Vano kian bergerak turun, mengecup pipi dan ujung hidung istrinya dengan rasa rindu yang semakin menguat ingin segera dihempaskan.


"Tidakkah," Setelah mencium puncak hidung Ai, dia bergerak menjauh menatap wajah merah istrinya yang sangat pemalu. 


Tangan besarnya mengelus wajah Ai dengan kedua mata yang tidak pernah berpaling dari wajah Ai.


"Kamu menginginkannya?" Bisiknya seduktif.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2