
"Kamu mau kemana?" Tanya Ibu tampak terganggu.
Bagaimana mungkin ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh putrinya ini?
Fina menyukai Arka dan Ibu bisa melihatnya. Dia juga tahu bila kabar buruk keretakan hubungan pernikahan Asri dan Arka adalah kabar baik untuk Fina. Itulah kenapa Ibu sempat melarang Bapak memberi tahu Fina mengenai masalah ini agar tidak pulang ke rumah. Karena bukannya membantu menyelesaikan masalah, Fina mungkin akan menambah masalah untuk keluarga mereka.
"Mau ke rumah mereka, Bu." Jawab Fina tidak sabar.
Ibu tidak membiarkan itu terjadi. Dia menarik Fina masuk ke dalam rumah dan tidak membiarkannya keluar, apalagi sampai pergi menyusul Arka dan Asri.
"Gak boleh!" Larang Ibu mengunci pintu rumah.
Fina jadi dongkol melihat sikap Ibunya,"Kenapa sih, Bu? Fina kan cuma ke rumah mereka aja gak maksud ngapa-ngapain."
Ibu menggelengkan kepalanya tetap tidak memperbolehkan,"Masih tanya kenapa? Tuan Arka tidak senang kamu ganggu! Apalagi dia sedang bermasalah dengan Kakak mu!"
"Oh," Fina tidak keras kepala lagi.
Dia diam-diam tersenyum senang mendengar kabar baik ini.
Ia lalu memutuskan untuk bersabar menanti kabar baik selanjutnya, sembari menunggu ia mengurung dirinya di dalam kamar untuk melakukan perawatan wajah. Ini adalah hari yang telah ia tunggu-tunggu jadi ada baiknya mengeluarkan semua pesonanya.
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
Sementara itu dilain tempat, Arka membawa Asri pulang ke rumah mereka. Di rumah Ai dan Mega yang tadinya ada di taman sudah ada di rumah. Mereka berdiri diam di lantai tiga, memperhatikan Arka memikul Asri dengan mudah dari bawah.
Mereka tidak bisa memberikan komentar apapun karena ini adalah masalah rumah tangga Asri dan Arka. Seperti yang dibilang oleh suami mereka sebelumnya bahwa mereka berdua cukup melihat saja dari jauh dan menunggu pasangan suami-istri itu menyelesaikan permasalahan sebelum datang mendekat.
"Apa Paman Arka tidak takut jatuh saat membawa Asri naik naik tangga seperti ini?" Gumam Ai ngeri.
Mungkin jika digendong ala pengantin akan jauh lebih baik tapi ini...Asri dibawa dengan dipikul, seolah-olah Arka sedang memikul sekarung beras- ah, astagfirullah! Pikiran Ai melantur kemana-mana.
"Aku sebenarnya ngeri melihatnya, tapi doakan saja yang terbaik untuk sahabat kita itu. Semoga permasalahan mereka selesai dan semoga mereka tidak jatuh dari tangga tentunya." Balas Mega juga ikut mengamati Arka perlahan menaiki tangga dengan langkah ringan, padahal Asri sudah sangat ketakutan di atas bahunya.
"Mas Arka...Mas Arka tidak perlu membuang ku dari tangga ini! Kita, kita bisa bercerai secara baik-baik!" Teriakan konyol Asri membuat kedua sahabatnya dilantai tiga berdecak heran.
Bagaimana mereka tidak heran, disaat sedang genting-gentingnya pun Asri masih sempat berpikiran konyol.
"Membuang mu?" Tanya Arka seraya terkekeh.
"Benar, aku akan membuang mu tapi tidak di sini. Jadi, bersabarlah sedikit lagi." Sambungnya lagi membuat Asri kian panik.
Namun Arka tidak perduli, dia tetap membawa langkahnya ke lantai empat tempat kamarnya dan Asri berada. Ketika melewati lantai tiga, Arka menyapa Ai dan Mega dengan lambaian tangan santai yang mana ini lagi-lagi membuat dua gadis itu tercengang. Tersenyum lebar, Arka membawa langkahnya lebih cepat lagi sampai akhirnya mereka telah naik lantai empat.
__ADS_1
Arka kemudian membawa istrinya masuk ke dalam kamar, mengunci pintu beberapa kali sebelum akhirnya membuang kunci ke sembarang arah.
"Mas, Mas Arka- arghh!"
Bruk
Arka melemparkan Asri ke atas ranjang mereka.
"Nah, kita akan menyelesaikan masalah kita di sini." Kata Arka sambil membuka sabuknya dari pinggang.
Asri pikir Arka akan menggunakan sabuk itu untuk memukulnya, jadi dia panik dan ingin melarikan diri. Tapi Arka tidak membiarkan itu terjadi, ia menangkap Asri dengan mudah dan melemparkannya kembali ke atas ranjang tanpa ampun.
"Mas...aku gak suka cara ini." Kata Asri mulai terisak.
Dia tidak suka kekerasan, apalagi jika orang yang melakukan kekerasan adalah Arka, suaminya.
Arka tersebut lebar,"Awalnya memang sakit tapi setelah itu kamu pasti akan menikmatinya." Kata Arka terdengar agak janggal.
"Mas, aku-" Asri melongo ketika melihat Arka mulai melepaskan bajunya. Bahkan sabuk yang Asri sangka sebagai alat kekerasan tadi sudah Arka singkirkan entah kemana.
"Mas Arka mau ngapain?" Melihat Arka seperti ini memunculkan pikiran yang tidak-tidak di dalam kepala Asri. Bagaimana mungkin mereka masih bisa melakukan hal 'itu' disaat hubungan pernikahan mereka berada diujung tanduk.
__ADS_1