
Allah tahu betapa berserah diri hati ini mengharapkan ridho-Nya, Allah tahu betapa aku sangat mempercayai janji-Nya, Allah tahu...dan aku tahu Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba yang berserah diri lagi berdoa kepada-Nya.
Memejamkan mataku erat, aku lalu pergi menghampirinya istriku yang telah menunggu di depan anak tangga. Meraih pinggang tipisnya sebelum berjalan bersama-sama turun ke bawah. Di depan rumah, aku mengecup sayang kening dan puncak kepala Ai sebagai bekal langkah ku ke masjid. Dia terlihat sangat malu dengan rona merah yang mulai mengembang indah di pipinya. Ya Allah, bila waktunya tepat mungkin aku sekarang sudah memenjarakan istriku di dalam kamar dan tidak akan pernah membiarkannya keluar untuk bertemu dengan orang lain, aku ingin satu-satunya orang yang pernah memasuki iris matanya adalah aku, hanya aku, dan hanya ada aku seorang.
...🍃🍃🍃...
Di luar sudah terang ketika kami keluar dari masjid. Aku, Ustad Azam dan Paman Arka keluar bersama-sama dari masjid. Di luar kami di sapa ramah oleh tetangga yang lain, kami bersalaman dan mengucapkan beberapa kata sopan untuk saling memperat tali silaturahmi. Sepanjang jalan pulang kami akan dihentikan oleh beberapa tetangga yang ingin menjalin hubungan silaturahmi, ini adalah salah satu jalan kebaikan dan kami tidak seharusnya menolak.
Akan tetapi itu hanya bila sebatas menyambung tali silaturahmi. Ironisnya beberapa Ibu-ibu akan secara gamblang memperkenalkan kami dengan putri-putri mereka dengan maksud tertentu, tak ayal ini membuatku dan yang lainnya merasa tersinggung. Karena di jari manis kami sudah tersemat cincin pernikahan dan seharusnya mereka bisa melihat itu dengan jelas karena faktanya kami tidak pernah menyembunyikannya. Akan tetapi mereka tampaknya tidak mengerti atau mungkin berpura-pura tidak mengerti,
Haah...aku tidak tahan lagi.
"Maaf Bu, aku harus pulang karena istriku pasti sudah menunggu kedatanganku." Tolak ku melanjutkan pembicaraan.
"Oh..iya, Nak Vano jangan sungkan datang mampir ke rumah yah." Katanya kepadaku seraya mendorong putrinya agak ke depan- mendekatiku.
Aku tersenyum tipis, tidak mengatakan apa-apa selain salam sebagai doa agar Allah memberikan mereka keselamatan.
Aku langsung pergi tanpa menoleh ke belakang untuk menatap mereka, langkah kakiku segera dipercepat karena tidak sabar ingin bertemu Ai, melihat apakah istriku sudah mendapatkan hasil dari tespek yang aku tinggalkan. Sepanjang di dalam masjid pikiran ini terus saja menggangguku, membuatku dilanda cemas dan gelisah khawatir bila istriku di rumah saat ini sedang bersedih.
__ADS_1
"Tidak buruk, huh." Paman Arka mengejar langkah ku.
Aku tersenyum tipis, "Istriku jauh lebih penting."
Tidak lama kemudian aku dan mereka akhirnya sampai di rumah. Dengan pikiran campur aduk aku bergegas masuk ke dalam rumah dan segera naik ke lantai dua. Masuk ke dalam kamar, aku mengambil nafas panjang berusaha menenangkan diri sebelum memanggil Ai, istriku tercinta.
"Ai?"
Namun aku tidak melihat batang hidung istriku di kamar. Aku lalu menoleh melihat pintu kamar mandi yang kini sedang tertutup rapat. Aku berjalan mendekat, mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak mendengar suara Ai di dalam kamar mandi.
"Sayang, aku masuk, yah." Kataku meminta izin.
Aku menghela nafas panjang merasa geli dengan tindakan ku sendiri.
"Mungkin dia sekarang sedang ada di dapur." Kataku sembari menutup pintu kamar mandi- tapi, gerakan tanganku tiba-tiba mandek di tengah jalan ketika melihat wadah putih di atas wastafel, wadah putih itu menampung 7 tespek tanpa kotak perlindungan yang aku beli semalam.
Aku tertegun, jantungku berdegup kencang menahan gugup. Perlahan aku membawa langkah kakiku mendekati wadah putih itu.
Mengintip ke dalam, air urine Ai masih ada di sana dengan ujung-ujung tespek tenggelam mulai melakukan tugasnya.
__ADS_1
Aku bertanya-tanya, sudah berapa lama benda ini terendam di dalam sana.
"Apa tidak masalah aku melihat satu tespek saja?" Tanyaku pada diriku sendiri.
Pasalnya aku sangat penasaran dengan hasilnya. Meskipun kecil kemungkinan tapi aku tidak berkecil hati sebab Allah selalu ada bersamaku.
Dia tidak akan pernah meninggalkan ku.
"Aku rasa tidak apa-apa karena aku masih punya 6 lagi." Kataku meyakinkan diri sendiri.
Akan tetapi aku tidak langsung mengambil tespek itu, pertama-tama aku menenangkan diri sendiri dulu dengan mengambil nafas beberapa kali. Setelah cukup tenang, aku memejamkan mataku dengan mengucapkan basmallah di dalam hati. Tangan kananku terulur menyentuh wadah, mengambil salah satu batang tespek dan membawanya ke depan ku.
Sekali lagi aku mengambil nafas panjang sembari membuka kedua mataku- sontak aku langsung menahan nafas ketika melihat dua garis merah yang bersinar terang di atas tespek.
"Positif?" Bisik ku dengan jantung yang semakin berdebar kencang.
Terkejut, aku kemudian mengambil sisa tespek di dalam wadah dan melihatnya satu persatu. Semuanya menunjukkan dua garis merah terang, sangat terang tanpa ada keraguan sedikitpun.
Dua garis,
__ADS_1
Istriku hamil.