Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 141


__ADS_3

Asri tersenyum lebar,"Lalu apakah Bibi ini cantik? Atau, apakah Bibi ini lebih cantik dari teman Kakak tadi?"


Gadis itu,"...." Aku masih 19 tahun!


Mendengar pertanyaan Asri, anak-anak itu secara kompak melihat ke arah Ai yang di seberang sana lalu beralih menatap wajah muram gadis itu. Sekali lihat saja mereka langsung tahu siapa yang lebih cantik. Dan kaca dasarnya anak-anak selalu berkata jujur atau mengungkapkan isi hatinya secara langsung.


Maka dari itu mereka secara kompak menjawab,"Teman Kakak lebih cantik."


"Wajah teman Kakak sangat cantik!" Yang lain mengatakan ini.

__ADS_1


Dan yang lainnya lagi mengatakan ini,"Dia sangat jelek." Kata seorang anak sambil menunjuk gadis itu.


Gadis itu sangat marah dan malu. Hei, semua orang selalu setuju bila anak kecil mengatakan yang sebenarnya. Inilah yang membuat gadis itu sangat marah.


"Jadi, siapa yang seharusnya dipanggil monster di sini?" Tanya Asri dengan senyuman lebar di wajahnya yang ceria.


Sisi ceria Asri langsung membuat anak-anak terinfeksi. Mereka menjadi lebih berani berbicara dan tanpa sadar melupakan keberadaan gadis itu. Mereka tidak tahu jika jawaban polos mereka telah membuat wajah gadis itu sepenuhnya suram. Di dalam kepala gadis itu telah muncul adegan dimana dia melemparkan anak-anak ini satu demi satu ke dalam got untuk melampiaskan kemarahannya.


"Iya, Ayah bilang monster memiliki wajah yang jelek jadi Kakak Angga adalah monster yang sebetulnya." Anak di samping dengan polosnya menunjuk gadis itu sebagai monster.

__ADS_1


"Iya...iya... Ibuku juga bilang begitu. Kakak Angga lebih jelek dari teman Kakak, makanya dia...dia dipanggil monster hehehe.." Kata anak yang lain dengan tawa menyebalkan nya yang tidak enak di dengar- khusus untuk gadis itu pribadi tentunya.


Mendengar jawaban polos anak-anak itu satu demi satu, suasana hati Asri dan Mega jelas sangat puas. Mereka secara gamblang tersenyum lebar dihadapan gadis itu untuk menunjukkan siapa yang buruk dan siapa yang benar-benar baik di sini. Dan lihat, setiap anak memilih Ai dan menghitamkan gadis itu. Sampai-sampai anak yang bernama Angga, adik gadis itu sendiri ikut berbicara yang sangat mengundang tawa mereka berdua.


"Kakakku adalah orang yang sangat galak dan suka memukulku di rumah. Dia tidak sebaik Umi Alsi. Kakakku juga sangat jelek di rumah. Rambutnya pendek dan agak keriting, jarang di sisir hahahah... tapi dia selalu menganggap dirinya sebagai calon istri Kak Vano."


Namun ketika kalimat terakhir jatuh, senyuman Asri dan Mega langsung membeku. Mereka saling melirik satu sama lain, lalu menoleh ke belakang untuk melihat Ai. Entah Ai dengar atau tidak, ekspresi diwajahnya tidak mengalami perubahan apapun. Dia masih lembut dan masih pula sibuk menghibur Alsi.


Setelah Angga mengatakannya mereka akhirnya mengerti mengapa gadis itu memusuhi Ai dan mengapa gadis itu mencemari nama baik Ai juga Alsi. Ternyata ini karena perasaan terpendam gadis itu untuk Ustad Vano. Dia menyukai Ustad Vano, tapi sayangnya Ustad Vano sudah memiliki Ai di dalam hatinya.

__ADS_1


"Oh, menarik. Sekarang aku mengerti mengapa kamu melakukan ini kepada sahabat kami." Kata Mega dengan senyuman aneh di bibirnya.


Dia mengambil ponsel dari dalam saku gamisnya. Mengotak atik nomor seseorang dan langsung mengklik tombol telepon untuk menghubunginya.


__ADS_2