Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 116


__ADS_3

Setelah mengetahui kehamilan Ai dan Mega, rumah mereka segera didatangi oleh keluarga masingmasing dengan berbagai macam makanan, suplemen, dan hadiah untuk menyenangkan hati para bumil.


Ai dan Mega hamil di usia yang cukup muda, kehamilan mereka datang di waktu yang lebih cepat dari harapan semua orang. Terutama untuk Ai sendiri. Karena situasinya yang spesial, beberapa orang meragukan Ai suatu hari akan mengandung seorang anak. Kebanyakan dari mereka di dominasi oleh keluarga Ustad Vano yang masih mengadopsi pemikiran 'sains' dan mengutamakan fakta bahwa kondisi Ai benar-benar tidak memungkinkan untuk mengandung.


Tapi, siapa yang akan mengira bila semua keraguan mereka segera tersapu bersih saat kepala keluarga mengumumkan tentang kehamilan Ai. Dan hal yang paling mencengangkan adalah usia kandungan Ai yang sudah memasuki dua bulan, artinya rahim Ai dalam keadaan subur saat menikah dengan Ustad Vano sehingga pembuahan cepat terjadi.


Kabar kehamilan Ai mengejutkan sekaligus menyenangkan untuk keluarga Ustad Vano, tentu saja bagi sebagian orang kabar ini tidak terlalu enak di dengar.


Dengan wajah masam mereka mengatakan bila kehamilan Ai tidak akan bertahan lama. Mungkin suatu hari nanti Ai akan kehilangan bayinya karena terlalu cepat pamer dan bahagia.


Siapa yang memiliki sikap apatis ini? Entahlah, tidak ada yang pernah memikirkannya karena semua orang memiliki senyuman di wajahnya.


"Ai, selamat untuk kehamilan mu. Kami semua sangat senang mendengarnya." Satu persatu keluarga Ustad Vano menyentuh tangan Ai, menepuknya ringan dengan sebuah senyuman tulus di wajahnya.


Tidak hanya memberikan ucapan selamat, namun mereka juga memberikan hadiah kepada Ai.


"Bibi, tidak usah." Tolak Ai malu saat Bibi Ustad Vano memberikan Ai paper bag hitam.


"Jangan ditolak, Nak." Bunda Safira yang selama ini menemani putrinya berbincang dengan banyak orang akhirnya membuka suara.


Tangan Bunda Safira meraih tangan kanan Ai, mengarahkannya untuk memegang paper bag hadiah dari Bibi Ustad Vano.

__ADS_1


"Ini adalah niat baik keluarga. Di dalamnya ada suka cita, harapan, dan doa jadi tidak seharusnya ditolak. Ingat lho, Nak, Allah gak suka dengan hamba yang suka menolak rezeki, apalagi bila rezeki itu datang dari keluarga mu." Nasihat Bunda Safira lembut dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajah cantiknya.


Meskipun tidak semuda 15 tahun yang lalu, akan tetapi kecantikan di wajahnya tidak pernah memudar. Dia masihlah Safira Sauqi, wanita tangguh yang mencintai keluarganya.


Ai malu setelah di nasihati oleh Bunda Safira. Meskipun apa yang Bunda Safira katakan memang benar, tapi karakternya yang pemalu membuatnya enggan menerima hadiah tersebut.


"Apa yang Bunda kamu katakan memang benar, Ai. Ambilah hadiah ini karena Bibi menyiapkannya dengan tulus. Bibi berharap Tuhan senantiasa melindungi kamu dan bayi kamu." Katanya sambil menjejalkan hadiah tersebut ke tangan Ai.


Ai tersenyum malu,"Bibi, terima kasih."


Setelah itu mereka berbincang sebentar sebelum Bibi Ustad Vano pergi. Hampir semua orang telah menyalami Ai, kecuali Bibi Mei dan kedua putrinya, Ai telah mendapatkan banyak kata-kata menyentuh.


Bibi Mei, Rani, dan Riani berdiri di tempat yang agak jauh dari Ai. Mereka memandangi Ai yang telah dikelilingi oleh banyak orang dengan perasaan yang sangat rumit.


Dia malu pernah merendahkan Ai, memvonisnya tidak akan bisa memberikan keturunan, tapi tidak sampai tiga bulan semua kata-kata merendahkannya langsung dibantah oleh kenyataan bahwa Ai hamil dan sudah 2 bulan!


Malu dan marah, emosi ini telah membanjiri hati Bibi Mei semenjak dia mendengar kabar kehamilan Ai.


"Apa yang perlu di bahagiakan? Ini hanya hamil biasa saja dan belum melahirkan jadi seharusnya kita tidak perlu datang ke sini. Lagipula dia memiliki tubuh yang cacat sejak lahir dan aku percaya, dia tidak mampu mengandung dengan normal." Ucap Riani culas saat melihat mata-mata penuh kekaguman keluarganya berbicara dengan Ai.


"Hus, jangan ngomong sembarangan, dek. Kalau Paman Arka dan Kak Vano dengar, mereka tidak akan pernah memaafkan kamu!" Peringat Rani kepada adiknya.

__ADS_1


Riani memang tidak dibolehkan datang ke rumah ini apalagi sampai memperlihatkan wajahnya di depan Arka. Tapi karena Kakek juga ada di sini, Arka memutuskan untuk menutup mata. Bersikap seolah-olah dia tidak pernah melihat Riani.


"Apa yang dikatakan Riani benar. Ini adalah fakta dan tidak bisa disembunyikan Rani. Ai lahir cacat, dengan kondisinya itu dia tidak mudah hamil. Namun sekalinya hamil, dia sangat rentan dan mudah keguguran. Yah... tentu saja hasil akhirnya sudah kita ketahui, dia tidak akan bisa mempertahankan bayinya. Paling beberapa minggu atau bulan lagi kita akan mendengar kabar jika dia keguguran. Hah...jadi pada dasarnya kedatangan kita di sini sia-sia." Bibi Mei tidak hanya membela Riani namun dia juga setuju dengan apa yang dikatakan putrinya itu.


Ai cacat, menurut Bibi Mei hamil tidak akan mudah dan tubuhnya sangat rentan untuk keguguran. Maka dari itu datang ke sini untuk memberikan ucapan selamat rasanya sangat membuang waktu atau katakan saja, sia-sia.


"Ma, jangan katakan itu lagi. Aku tidak mau Kak Vano menjadi sedih." Bisik Rani dilema.


Benarkah Ai akan keguguran?


Maka bila benar begitu, Ustad Vano akan sangat kesulitan memiliki keturunan. Pada saat itu terjadi, apakah dia masih memiliki kesempatan untuk datang memenuhi hal yang tidak bisa dipenuhi oleh Ai?


"Sedih? Istrinya tidak berguna dan tidak memuaskan hati, jadi daripada merasa sedih dia mungkin akan mencari seorang pengganti. Nah, satu-satunya pengganti yang paling cocok dengan Vano adalah kamu, dia mungkin akan menikahi kamu suatu hari nanti." Bibi Mei melambaikan tangannya tidak perduli, bersikap seolah-olah hari itu akan benar-benar datang.


"Benarkah- ah!" Rani sangat shock melihat sebuah cairan hijau menodai gaun putihnya.


Marah, dia langsung menatap sang pelaku yang telah menodai gaun nya. Kata-kata kesal penuh marah segera tersangkut di dalam mulutnya saat melihat orang itu adalah Bibi Sifa, adik dari pebisnis sukses yang telah disegani banyak orang. Bibi Sifa adalah adik Ayah Ali sekaligus Bibi untuk Ai, istri Ustad Vano.


Bibi Sifa terlihat menyesal,"Oh, maaf. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya."


Mulutnya berkata menyesal tapi sorot matanya menunjukkan kepuasan. Bibi Sifa adalah orang yang tidak mudah disinggung, pikir Bibi Mei.

__ADS_1


Bersambung...


URRAAA...Bab di sini saya rombak. Ceritanya berbeda jauh dengan yang ada di lapak sebelah 🍃


__ADS_2