Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 115


__ADS_3

Rani spontan bertanya,"Kenapa, Paman? Masalah apa yang adikku buat sehingga Paman sangat marah?"


Riani pasti telah membuat Arka sangat marah sehingga ia tidak diizinkan lagi menunjukkan batang hidungnya di depan Arka. 


Sebagai seorang Kakak, Rani kasihan kepada adiknya tapi sebagai seorang gadis yang egois, dia marah karena gara-gara masalah ini rencananya untuk dekat dengan Ustad Vano terganggu.


Yah,


Dia merasa bersalah tapi dia juga sangat mencintai Ustad Vano. Dia tidak ingin kehilangan Ustad Vano tapi dia juga tidak ingin kehilangan senyum Ustad Vano.


Dia dilema.


"Bukankah aku sudah mengatakannya secara jelas sebelumnya? Tanya adikmu sendiri yang jelas lebih mengetahui detailnya. Sekarang pulanglah, jangan buat mood ku semakin rusak." Usir Arka tanpa belas kasih.


Dia sangat marah Sejujurnya. Jika Asri tidak ada di sampingnya mungkin dia sudah pasti meledak-ledak dan mempermalukan Riani dengan kejam. Namun untungnya ada Asri yang berhasil membantunya mengendalikan semua ini. 


Ada istrinya terkasih.


"Tolong maafkan adikku, Paman. Aku berjanji setelah kejadian ini dia tidak akan menganggu Paman lagi." Kata Rani berjanji dengan wajah yang tidak lebih buruk dari Riani.


Meskipun ia tidak tahu masalah apa yang Riani ciptakan untuk Arka sehingga mereka harus mendapatkan perlakuan dingin, tapi Rani yakin bila masalah itu pasti tidak sepele dan akan membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan maaf dari Arka.


Rani menghela nafas panjang. Dia lalu membantu adiknya yang lemas berdiri dan memapahnya pergi keluar di bawah sikap acuh tak acuh Ustad Vano maupun Arka.


Hari ini mereka berdua benar-benar merasa malu- atau mungkin lebih tepatnya mereka berdua dipermalukan oleh Ustad Vano dan Arka. 


Harapan indah diundang datang ke sini seketika pupus diterbangkan angin. Mereka berdua hari ini kalah telak untuk permainan yang mereka mulai sendiri dan mendapatkan dampak buruk yang sangat memalukan.


"Dek, aku gak tahu masalah apa yang kamu buat untuk Paman Arka sehingga membuatnya semarah ini. Tapi satu hal yang pasti, kamu benar-benar mengecewakan aku dan Mama, dek. Aku gak tahu apa yang harus aku jelaskan ke Mama nanti setelah mendengar kabar ini. Dan aku juga tidak bisa menjamin Mama tidak akan marah kepadamu karena telah berani menghancurkan rencana Mama. Kali ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa." Karena faktanya Rani juga sangat kecewa.

__ADS_1


Setelah kejadian ini Ustad Vano melemparkannya tatapan dingin tanpa asa rasa akrab sedikitpun.


"Aku minta maaf, Kak... semua ini salah gadis desa itu. Jika dia tidak mengatakan yang tidak-tidak kepada Paman Arka, semua ini pasti tidak akan pernah terjadi dan Paman Arka tidak akan memberikan ku bagi dingin hiks..." Bahkan dalam situasi seperti ini pun ia masih menyalahkan Asri- gadis desa yang sedari awal memilih diam dan tidak pernah mengatakan sepatah pun untuk menjatuhkan Riani dalam pertemuan tadi.


Rani menghela nafas panjang. Ia menolak berkomentar karena suasana hatinya saat ini sangat suram. Ia ingin marah tapi sayangnya tidak bisa melampiaskan kemarahannya di sini.


Dia butuh waktu dan tempat untuk menenangkan pikirannya.


...🍃🍃🍃...


Sementara itu di dalam rumah, Asri dan Arka segera kembali ke dalam kamar mereka untuk berdiskusi, meninggalkan Ustad Vano dan Ai berduaan.


Karena istrinya sedang hamil, Ustad Vano membawa Ai ke ruang santai di taman belakang. Di sana mereka bisa bersantai sambil melihat pemandangan hijau dari taman yang sangat bagus untuk kesehatan mata dan mental.


"Mas Vano, aku pikir ada sesuatu yang salah dengan Rani tadi. Dia terlihat seperti habis menangis." Kata Ai memulai topik pembicaraan sambil merebahkan kepalanya di atas pangkuan suaminya.


"Jangan bicarakan tentang dia, aku tidak ingin momen manis kita terasa pahit karena membicarakannya." Kata Ustad Vano tidak senang.


Ai menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Semenjak pembicaraan mereka malam ini Ustad Vano menolak dengan tegas menyebut nama Rani. Bahkan hampir 4 kali ia menolak ajakan Rani ataupun Bibi Mei untuk makan bersama di rumah Kakek. 


Ustad Vano melakukannya bukan tanpa alasan atau sengaja bersikap tidak sopan, tidak, suaminya bukanlah orang yang seperti itu. 


Ustad Vano memberikan sikap dingin kepada mereka adalah petunjuk yang paling tegas jika dia tidak ingin terlibat perjodohan apapun dengan Rani atau siapapun itu.


Dia hanya ingin Ai, hanya ingin Ai seorang!


"Bagaimana bila kita bicarakan tentang bayi kita saja." Kata Ustad Vano girang seraya menyentuh perut kencang Ai yang sudah menonjol, mengusapnya ringan dengan tatapan sayang yang tidak bisa disembunyikan.


"Mas Vano suka yang mana, laki-laki atau perempuan?" Ini adalah pertanyaan yang paling sering pasangan suami-istri tanyakan ketika sedang mengandung.

__ADS_1


Ustad Vano tersenyum lebar,"Laki-laki ataupun perempuan, tidak masalah, Ai. Selama mereka adalah anak kita dan darah daging kita, aku akan selalu menerimanya." Jawab Ustad Vano tanpa perlu pikir panjang.


Ai juga sepakat dengan apa yang Ustad Vano pikirkan, laki-laki ataupun perempuan semuanya baik-baik saja. 


"Mas... Mas Vano tahu gak tadi siang kami semua sempat mengobrol tentang anak-anak." 


"Apa yang istriku bicarakan dengan mereka berdua?" 


Ai tersenyum malu,"Kami membicarakan tentang perjodohan, Mas. Seandainya di antara kami bertiga ada yang melahirkan perempuan atau laki-laki, kami ingin menjodohkannya agar hubungan kami bertiga semakin erat."


Ide ini tidak salah tapi Ustad Vano kurang setuju. Karena masalah cinta datangnya hanya dari Allah, mereka tidak bisa mengendalikannya akan kemana hati anak mereka berlabuh di masa depan nanti.


"Sayang, aku pikir kita jangan menjodohkan mereka dulu. Biarkan mereka memilih kemana hati mereka akan berlabuh tanpa perlu ada campur tangan kita berdua. Bukankah ini lebih baik?"


Ai tersenyum malu, ia menganggukkan kepalanya dengan patuh di depan suaminya.


"Lalu...lalu bagaimana dengan Alsi, Mas? Dia sama seperti diriku dan ditambah lagi dia memiliki masa lalu yang kelam, adakah laki-laki yang bertekad menikahinya nanti?" Tanya Ai khawatir.


Apa yang ia rasakan sama persis seperti apa yang Bunda Safira rasakan bertahun-tahun yang lalu.


Alsi adalah anak yang kurang beruntung. Di usianya yang sangat muda, kenyataan pahit telah menghancurkan harapannya. Entah apa yang akan terjadi di masa depan, masih adakah laki-laki yang datang menawarkan kebahagiaan kepada Alsi?


Ai mengkhawatirkannya.


"Jangan takut, istriku. Ingat, janji Allah pasti. Dia tidak akan pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya. Selain itu kita semua diciptakan berpasang-pasangan sehingga kita seharusnya tidak perlu khawatir bila Alsi tidak mendapatkan jodoh nantinya karena Allah sudah menjamin pasangannya. Sebagai orang tua, kita doakan saja yang terbaik untuknya semoga laki-laki tersebut mampu membimbing putri kita ke jalan yang Allah ridhoi." Ustad Vano berusaha menyapu ketakutan istrinya, meyakinkan Ai bahwa Alsi pasti akan bahagia.


Ai menghela nafas panjang, ia menggenggam erat tangan suaminya untuk menenangkan kekhawatirannya.


"Ai percaya suatu hari nanti Alsi akan hidup bahagia seperti kita berdua."

__ADS_1


__ADS_2