
Setiap pagi dia hanya mual sedikit dan muntah sekali atau dua kali, lalu setelah itu Ai akan makan apapun yang dia inginkan dan tidur jika kantuknya datang.
Hem, apa yang orang-orang katakan ternyata benar jika wanita akan berbeda saat sedang hamil atau mengandung.
Sementara Ustad Vano masih terjerat dengan sisi keimutan istrinya, Rani dan keluarga dari pihak Ustad Vano jelas tercengang mendengar pengakuan Ustad Vano. Mereka hanya tahu Ustad Vano tiba-tiba pergi ke pondok pesantren untuk belajar tapi mereka benar-benar tidak tahu mengenai rahasia ini. Jika Ustad Vano sangat bertekad belajar di pondok pesantren karena Ai, maka perasaannya kepada Ai sudah tidak diragukan lagi.
"15 tahun? Kak Vano pasti berbohong, kan?" Memaksakan senyum saja rasanya sangat sulit bagi Rani.
__ADS_1
Ustad Vano tanpa mengangkat kepalanya menjawab,"Percaya atau tidak itu adalah hak kamu untuk memilih. Tidak perduli pilihanmu, aku dan Ai tidak akan berpisah. Aku juga tidak tertarik menikahi wanita lain karena Ai saja sudah lebih dari cukup untukku. Kemudian mengenai kekhawatiran mu tentang anak-anak ku kelak, semuanya sudah kami serahkan kepada Allah. Jika Allah ridho kami memiliki seorang anak maka terjadilah, siapapun tidak akan bisa mencegah ataupun menghentikan. Dan jika Allah ridho kami tidak memiliki seorang anak, maka terjadilah. Mungkin itu adalah yang terbaik untuk kami berdua. Faktanya, siapapun tidak akan bisa memaksakan takdir karena segala sesuatu yang terjadi dan akan terjadi adalah kehendak Allah. Adapun kamu dan yang lain, bukan hak kalian menghakimi masa depan keluargaku. Bukan hak kalian juga mengklaim jika istriku tidak bisa mengandung atau melahirkan karena kalian adalah manusia, seorang hamba yang lemah dan tidak memiliki pengetahuan hal yang gaib. Jadi, tolong hentikan semua ini sebelum istriku benar-benar terganggu. Aku tidak ingin pernikahan ku mengalami masalah hanya karena klaim tidak berdasar kalian. Selain itu, aku dan istriku menjalani hidup dengan bahagia, sehingga kami tidak membutuhkan komentar kalian untuk menilai."
Sekali lagi Ustad Vano membuat kepercayaan diri Rani dan Bibi Mei menghilang. Mereka kesulitan untuk membalas karena faktanya, apa yang Ustad Vano katakan tidak ada yang salah. Hanya mereka lah yang telah membuat masalah dan keributan di sini.
Masalah ini pasti tidak akan dilupakan oleh Ustad Vano. Akan sangat menakutkan jika hubungan mereka di masa depan merenggang karena masalah ini. Memikirkannya saja membuat Rani takut dan tiba-tiba menyesali sikap impulsif nya hari ini, berpikir jika rencananya justru berbalik menjadi bumerang untuknya.
Ustad Vano sungguh tidak memikirkan wanita lain karena Ai adalah dunianya. Dia tidak ingin kehilangan Ai karena membawa wanita masuk sama dengan mengembalikan Ai ke orangtuanya. Ustad Vano tidak mau dan agak jengkel sebenarnya dengan tingkah laku Rani juga Bibi Mei. Padahal dia tidak pernah menunjukkan ketertarikan apa-apa tapi mengapa mereka masih memiliki pikiran untuk mengganggu pernikahannya?
__ADS_1
Ustad Vano marah di dalam hatinya. Dia bertekad di masa depan akan menjaga jarak dengan keluarga Bibi Mei untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kak Vano...aku-"
"Maaf semuanya, istriku sedang tidur jadi aku harus membawanya ke kamar kami." Potong Ustad Vano menolak untuk berbicara lagi.
Setelah mendapatkan persetujuan dari semua orang, Ustad Vano langsung mengangkat Ai dengan gaya ala pengantin dan membawanya pergi ke lantai dua, tempat kamar mereka berada.
__ADS_1