Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 150


__ADS_3

Pasangan suami-isteri itu menyeret putri mereka ke sebuah rumah besar di kompleks perumahan mereka. Rata-rata rumah di kompleks perumahan ini memang elite dan besar tapi rumah yang paling menonjol adalah rumah ini. Bos dan wakil bos perusahaannya tinggal di rumah ini jadi tidak heran rumahnya sangat besar.


"Ma, aku takut." Bisik gadis itu di samping Mamanya.


Dia sangat takut bertemu dengan Mega lagi karena menurutnya gadis itu sangat menyebalkan. Akan tetapi daripada menakutkan Mega, sebenarnya dia takut akan kemarahan Ustad Vano karena suaranya di dalam telpon tadi sangat dingin. Dari telpon saja suaranya sangat mengerikan apalagi bertemu langsung dengan kemarahan Ustad Vano, gadis itu tidak bisa membayangkannya.


"Jika kamu tahu bagaimana rasanya takut lalu kenapa kamu masih membuat kesalahan ini?" Balas Mamanya dalam suasana hati yang buruk.


Dia marah dan membenci kebodohan putrinya yang tidak masuk akal. Sebagai seorang Ibu yang melahirkannya, dia tidak pernah mengajarkan atau mendukung putrinya melakukan tindakan bodoh ini karena dia tahu resikonya sangat besar. Lagipula tidak baik rasanya merusak kehidupan suami-istri orang lain, apalagi hubungan mereka sangat harmonis dan damai.


"Aku gak tahu masalahnya akan sangat serius." Bisik gadis itu cemberut.

__ADS_1


Itu benar-benar diluar perkiraannya.


Mamanya mendengus tidak senang tapi tidak mengatakan apa-apa. Setelah diizinkan masuk ke dalam, mereka bertiga dipersilahkan duduk di ruang tamu.


Mereka bertiga sangat gugup menunggu kedatangan Ustad Vano dan Ai. Demi menyenangkan mereka, Mama terpaksa mengikhlaskan salah satu perhiasannya yang paling mahal dan berharga serta baru saja dibeli satu bulan yang lalu. Perhiasan ini adalah hasil tabungannya selama beberapa bulan dan sangat penting untuknya. Saking pentingnya, dia hanya menggunakan perhiasan ini beberapa kali di acara-acara sosialita. Tidak pernah menyangka bila barang yang telah susah payah dia dapatkan ini harus berpindah tangan dalam waktu yang sangat singkat.


Terbakar oleh rasa gugup, punggung belakang mereka langsung menegang ketika mendengar suara langkah kaki perlahan masuk ke dalam ruang tamu.


"Tolong jaga pandangan mu." Tegur Ustad Vano tidak senang.


Dia tidak suka istrinya ditatap sedemikian rupa oleh laki-laki lain apalagi sampai diam-diam mengaguminya karena jujur saja Ustad Vano adalah orang yang posesif dan mudah cemburu.

__ADS_1


"Ah, aku minta maaf, Pak." Ayah buru-buru menundukkan kepalanya.


Mama dan gadis itu sontak menatap Ayah tidak puas. Sebagai seorang istri tentu saja dia merasa tersinggung dengan sikap Ayah. Pasalnya dia masih di sini tapi mata Ayah sangat fokus menatap gadis lain.


"Dasar genit!" Rutuk Mama berbisik.


Ustad Vano mengabaikan mereka bertiga karena perhatiannya kini tengah beralih pada istrinya yang pemalu.


"Duduklah." Dia membantu istrinya duduk di sampingnya.


Lalu tangan besarnya mengambil tangan ramping Aish, memainkannya di antara jari-jari untuk menenangkan suasana hatinya yang buruk.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas." Bisik Ai malu.


__ADS_2