
Untuk menyenangkan keluarga Ai, Bibi Mei terpaksa mengganti hadiahnya. Dia pergi mengambil perhiasan unlimited yang baru saja diambil sore ini dari toko perhiasan terkemuka di dalam negeri. Dia terpaksa menggunakan perhiasan mahal ini untuk menyenangkan hati Ai sehingga Bibi Sifa maupun keluarga Ai yang lain mau melupakan insiden tadi.
"Ma, apa kita harus melakukan hal ini?" Keluh Riani melihat kotak perhiasan itu kini telah dipindahkan ke paper bag putih untuk diberikan kepada Ai.
Perhiasan ini mahal dan terbatas, jujur Riani lebih suka menyimpan nya daripada harus memberikannya kepada orang lain apalagi orang itu adalah Ai, gadis sok lembut dan sombong yang telah menghalangi kebahagiaan Kakaknya.
Hei, untuk sekelas hadiah, perhiasan ini sepertinya terlalu berlebihan karena nilainya yang tinggi.
"Kamu pikir Mama rela melakukan ini? Jika saja kamu bisa mengontrol mulut dan lidahmu maka Mama tidak akan pernah mengorbankan perhiasan ini." Bibi Mei sudah marah dan panik karena Bibi Sifa, dan dia sekarang semakin bertambah marah saat melihat perhiasan mahalnya harus berpindah tangan bahkan sebelum dia sempat menggunakannya.
Bukankah ini sangat menjengkelkan?
"Aku...aku tidak tahu jika masalahnya akan seserius ini." Bisik Riani lemah sarat akan penyesalan.
Bibi Mei mendengus dingin, semarah apapun dia kepada Riani, dia tetaplah seorang Ibu yang berhati lembut.
"Maka belajarlah untuk menutup mulut dan bersikap bijaksana seperti Rani."
Setelah mengatur suasana hatinya Bibi Mei lalu membawa kedua putrinya menghampiri Ai di ruang tengah yang masih ramai dikelilingi orang.
Bibi Mei membawa Riani menyapa semua orang dengan senyuman manis yang dibuat-buat sedangkan Rani sendiri mengikuti di belakang mereka dengan ekspresi sendu yang tidak bisa disembunyikan.
__ADS_1
Cemburu rasanya melihat Ai dikelilingi oleh banyak orang. Mereka memuji kecantikan Ai, temperamennya yang lembut, dan sikapnya yang rendah hati. Pujian mereka semakin terdengar menyebalkan saat membahas kehamilan Ai. Mengatakan bila anak itu akan menuruni kecantikan Ai dan ketampanan Ustad Vano.
Ugh, menyebalkan.
Posisi itu seharusnya menjadi milikku. Batin Rani cemburu.
"Ai, Bibi ucapkan selamat atas kehamilan mu. Bibi harap kamu dan bayi di dalam kandungan mu tetap sehat sampai hari lahiran mu nanti." Ucap Bibi Mei berusaha terdengar sangat tulus.
Ai tersenyum canggung. Kata-kata merendahkan yang pernah Bibi Mei ucapkan dulu masih sangat segar di dalam ingatannya jadi bagaimana mungkin dia bisa tersentuh dengan kata-kata palsu Bibi Mei?
Hanya saja dia tidak ingin mengungkapkannya dan merespon Bibi Mei dengan sebuah senyuman tipis.
"Ah..." Senyum di wajah Bibi Mei menjadi kaku,"Nyonya Safira pasti bercanda. Bagaimana mungkin aku masih bisa tersenyum palsu di hari bahagia keponakan ku?"
Bunda Safira tersenyum lembut namun sorot matanya jelas tidak selembut senyumannya.
"Entahlah, hati seseorang hanya Allah yang tahu. Namun, menurut pengalaman ku sebagai jaksa, aku menilai bahwa senyuman Nyonya Mei jelas tidak tulus. Mengapa? Apakah kehamilan putriku tidak memuaskan mu?"
Semua orang tahu jika Bunda Safira tidak memberikan wajah kepada Bibi Mei dan tidak main-main dengan ucapannya. Dia jelas tidak puas dengan sikap sok ramah Bibi Mei, tapi apa alasannya?
Bukankah mereka sekarang keluarga?
__ADS_1
Bibi Mei tidak bisa lagi mempertahankan senyum palsunya. Dia panik dan cemas namun berusaha terlihat normal, bahkan ekspresi wajahnya dia manipulasi seserius mungkin.
"Mengapa aku tidak puas? Kehamilan Ai adalah kabar baik untuk keluarga kami-"
"Kamu." Potong Bunda Safira dingin,"Orang yang tidak puas dengan kehamilan putriku adalah kamu Nyonya Mei dan aku tidak pernah menyebut pihak keluarga Vano." Koreksi Bunda Safira.
Riani meneguk ludahnya kasar, kedua tangannya terkepal menahan rasa takut dan keringat dingin yang telah membanjiri telapak tangannya. Dia terkejut, ya, dia tidak pernah menyangka bila Bunda Safira adalah orang yang setajam ini.
Ini membuatnya shock.
"Ini pasti salah paham Nyonya Safira-"
"Salah paham?" Bunda Safira mencibir, bola matanya kemudian bergerak melirik Rani dari sudut matanya.
"Coba jelaskan bagaimana sikap putrimu di belakang. Aku perhatikan sejak berdiri di sini dia terus menerus memperhatikan menantu laki-laki ku. Apakah ini masih salah paham?"
Bersambung...
Kuis nih, bab selanjutnya udah saya tulis jadi tinggal publish. Apakah double up atau tidak ini tergantung pembaca jadi kalau bisa jawab up selanjutnya lebih dari 1 tapi kalau enggak, yah... nanggung wkwkwkw..
Pertanyaannya yah, hobi ini bisa menjadi obat sekaligus racun untuk penulis, coba tebak hobi apakah itu?
__ADS_1