Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
25. Serakah


__ADS_3

"Apa yang Ai katakan benar, Asri." Mega juga sependapat dengan Ai.


Hubungan saudara memang kental akan hubungan darah namun semua itu tidak akan ada gunanya bila berhubungan dengan keserakahan. Seringkali uang atau harta membuat manusia serakah, melupakan ikatan baik yang terjalin di antara mereka.


Padahal Allah sudah jelas-jelas mengatakan bila wanita, anak, dan harta adalah fitnah besar yang harus dihindari.


Manusia kerap lupa bahwa harta tersebut tidak kekal dan tidak akan dibawa mati. Begitulah jenis manusia jika sudah terlena dengan kenikmatan dunia. Naudzubillah.


Allah SWT berkali-kali mengingatkan hambanya dalam hal harta benda serta kekayaan dunia yang di kaitkan dengan anak keturunannya.


Allah SWT berfirman dalam surah Al Munafiqun ayat 9:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ.


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah SWT. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka Itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al Munafiqun: 9)


Allah SWT memperingatkan kepada hamba-Nya agar mereka tidak terlena dengan kenikmatan dunia berupa harta dan anak keturunan.


Allah SWT telah menetapkan bahwa harta dan anak keturunan merupakan fitnah dan ujian bagi hamba-Nya di dunia.


Bagaimana mereka menyikapi kenikmatan dalam mendapatkan harta dan anak keturunan, apakah dengan kenikmatan tersebut mereka lalai dari ketaatan kepada Allah SWT ataukah dapat mambantu mereka dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT?


Allah SWT berfirman dalam surah At Taghabun ayat 15 :

__ADS_1


إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ.


Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah lah pahala yang besar”. (QS. At Taghabun: 15)


Benar wanita, harta, dan anak-anak adalah sebuah cobaan yang berbungkus kenikmatan. Baik dan buruk hasilnya di hadapan Allah adalah tergantung bagaimana cara manusia memperlakukan kenikmatan itu sendiri. Apakah bisa mendekatkan kepada Allah SWT atau justru sebaliknya, malah menjauhkan?


"Aku tahu apa yang kalian pikirkan tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karena ia adalah adikku. Aku pikir selama ia masih bertindak dalam batas wajar semuanya pasti akan baik-baik saja, di samping itu aku percaya bila Mas Arka tidak akan pernah berpaling menatap adikku sekalipun dia jauh lebih cantik."


Mega tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu karena ia tahu bahwa Asri jauh lebih cantik daripada Fina entah itu dari akhlak maupun fisiknya.


"Jangan karena ia adalah adikmu membuat kamu lalai dalam menegakkan keadilan. Tidak, Asri. Katakan kepadanya untuk jangan mengganggu rumah tanggamu dengan Paman Arka. Kamu berhak bahagia dan kamu sudah cukup mengorbankan diri untuknya. Selebihnya, biarkan Allah yang memutuskannya perjalanan hidupnya. Dan Asri, kamu harus yakin dengan dirimu sendiri bahwa kamu adalah gadis yang cantik dan pantas bersanding dengan Paman Arka. Kenapa tidak ambil hikmahnya saja bila pernikahan ini terjadi karena kalian pantas untuk satu sama lain, bukankah begitu, Ai?"


Ai mengangguk cepat,"Apa yang Mega katakan benar, Asri. Bila Paman Arka saja menerima semua kelebihan dan kekurangan mu, maka kenapa kamu tidak bisa menerima dirimu sendiri? Bersikaplah adil untuk dirimu sendiri, Asri."


Asri mengangguk ringan. Hatinya terasa begitu hangat setelah mendapatkan semangat dari kedua sahabatnya. Inilah yang membuat Asri tidak mau kehilangan mereka, karena selain mengingatkan untuk terus berada di jalan yang benar namun mereka juga saling menguatkan bila diterpa masalah.


Ya, seharusnya beginilah sesama saudara saling menjaga.


Ada suara ketukan meja, mereka spontan menoleh ke belakang dan melihat Arka sudah berdiri di pintu masuk dengan kain celemek yang masih belum dilepaskan.


"Makanan sudah siap." Katanya kepada mereka.


Melihat keberadaan Arka di sana, mereka bertiga sontak mengadakan rapat dadakan.

__ADS_1


"Apa dia mendengar pembicaraan kita tadi?" Bisik Mega khawatir.


"Aku pikir dia tidak mendengarnya." Ai menghibur kedua sahabatnya meskipun ia juga sebenarnya cukup gugup.


Asri tidak tenang,"Bagaimana jika dia mendengar pembicaraan kita? Apa yang harus aku katakan bila dia bertanya nanti?"


Mereka dengan panik membuat diskusi, sedangkan Arka kini tengah bersedekap dada memperhatikan sikap konyol mereka bertiga.


"Apa yang aku dengar?" Tanya Arka tiba-tiba sudah berdiri di belakang Asri.


Mereka bertiga sangat shock, mundur ke samping sofa untuk menjaga jarak.


Arka mengernyit menatap istrinya,"Apa yang kamu bicarakan tadi? Apa yang tidak bisa aku dengar?"


Asri gelagapan. Tangan kanannya bergerak menyentuh tangan Mega dan mencubitnya ringan.


"Akh...Asri apaan sih cubit cubit tangan aku?" Keluh Mega sengaja menjahili Asri.


Asri sangat malu. Niat hati ingin meminta bantuan kepada Mega malah balas dipermalukan oleh Mega.


Hei, padahal ia baru saja memberikan pujian kepada kedua sahabatnya ini!


Arka heran,"Kamu kenapa?"

__ADS_1


Asri menggelengkan kepalanya. Dia memperbaiki duduknya di bawah pengawasan mata Arka sebelum berbicara.


"Itu...kami sedang membicarakan urusan...para gadis. Yah, ini adalah pembicaraan pribadi sehingga Mas Arka ataupun Ustad Vano dan Ustad Azam tidak boleh mendengarnya." Asri berbohong.


__ADS_2