Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
40. Omong Kosong


__ADS_3

"Apa yang kamu bicarakan?" Tidak bisa mengontrol volume suara, Ustad Vano sontak bertanya panik, nada tidak rela juga enggan terdengar jelas dari suara Ustad Vano.


Begitupula Arka yang sudah memiliki sikap angkuh secara alami,"Kenapa kamu berbicara omong kosong?" Arka tidak malu dan tidak menahan diri pula untuk menunjukkan ketidaksetujuannya dari ucapan aneh Mega.


Mega tiba-tiba berbicara aneh, mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah dikatakan oleh istri normal manapun di dunia ini. Yah, mereka mempercayai bahwa tidak ada wanita yang mau di duakan terlepas dari Islam mengizinkan atau tidak.


Dan yang lebih kacaunya lagi, Mega tanpa sungkan mengatakan itu di depan Ustad Vano dan Arka, para suami yang dibuat gelisah oleh sikap 'menjaga-jarak' dari istri masing-masing.


Mega mengangkat bahunya tidak bersalah, memeluk lengan suaminya yang kokoh, ia lalu mengatasi sesuatu yang semakin memperbesar api kecemburuan di dalam hati Ustad Vano dan Arka.


"Aku hanya bercanda hehe... habisnya aku merasa aneh melihat Ai dan Asri sangat lahap memakan makanan pemberian dari suamiku, namun menolak makanan pemberian dari kalian berdua. Jadi, bagaimana mungkin aku tidak berpikiran seperti itu disaat perhatian dari suamiku membuat kedua sahabatku menjadi senang. Hem... walaupun ini aneh tapi sejujurnya aku tidak masalah Mas Azam berpoligami bila maduku adalah Ai dan Asri." Ini murni adalah sebuah kebohongan, dia tidak serius ketika mengatakannya.


Meskipun ia sangat menyayangi kedua sahabatnya, Mega pasti tidak akan sampai hati berbagi suami dengan mereka. Sebab, hati adalah tempat terdalam mengalahkan dalamnya lautan, hanya Allah yang tahu apa yang tersembunyi di sana. Ia tidak ingin menciptakan perselisihan di antara mereka hanya karena urusan hati, karena sungguh wanita begitu pandai menyembunyikan perasaannya selama bertahun-tahun tapi tidak dengan rasa cemburunya.


"Itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Ustad Vano serius, seolah-olah ini adalah sumpah yang ia tujukan kepada dirinya dan kepada Ustad Azam maupun Arka.

__ADS_1


"Kita semua sudah memiliki kebahagiaan masing-masing jadi alangkah baiknya saling menjaga untuk satu sama lain." Sambungnya lagi sembari mengirimkan makanan yang ada di atas piringnya ke piring Ai.


Perlahan kedua mata almond nya memperhatikan perubahan warna di wajah cantik istrinya. Warna merah merona, menyala tipis mulai menyebar di kedua pipi istrinya. Menambahkan kesan malu-malu yang selalu membuat Ustad Vano candu sekuat apapun ia melihatnya.


"Terimakasih, Mas." Bisik Ai tidak menolak lagi.


Ia menundukkan kepalanya, mengubur diri untuk menyantap makanan yang anehnya lagi tidak membuat Ai merasa enek atau mual. Bukannya merasakan penolakan seperti sebelum-sebelumnya, nafsu makan Ai malah semakin terpacu untuk menghabiskannya.


Ustad Vano lega melihat Ai tidak menolak lagi,"Makanlah yang banyak." Ucapnya perhatian.


Dia memang memiliki kesan gadis lembut nan manja, namun hatinya sangat keras kepala. Ia masih mencoba berjuang sekalipun ia tahu bila laki-laki yang ia sukai telah menikah.


"Em." Ai membalas malu.


Sementara itu di samping mereka, Arka mencoba melakukan pendekatan kepada Asri sama seperti yang Ustad Vano lakukan kepada Ai. Dengan suara selembut mungkin ia membujuk Asri untuk makan makanan pemberiannya tapi masih ditolak juga dengan alasan monoton seperti sebelumnya.

__ADS_1


Arka kecewa?


Tentu saja, ia kecewa karena Asri bersikap dingin kepadanya hari ini. Arka tidak menyukai hal ini, ia ingin Asri kembali menjadi gadis ceria yang telah membuat rumah begitu hidup.


Mereka menyelesaikan makan malam dengan cepat dan dalam suasana yang cukup rumit. Bila Ustad Vano saat ini agak lega karena Ai tadi tidak menolak pemberiannya, maka Arka justru sebaliknya.


Ia terlihat sangat muram, kedua matanya tidak pernah lepas dari Asri sementara Rani dan Riani mengoceh banyak hal di sampingnya.


Ia bukanlah Paman yang jahat dengan bersikap kasar mengabaikan kedua keponakannya ini, hanya saja saat ini pikirannya sangat terganggu ketika menyadari perubahan sikap Asri. Padahal, kemarin mereka masih baik-baik saja dan tidak pernah memiliki perseteruan.


Rani dan Riani tidak bisa tinggal lama di rumah ini karena semua orang mulai dari Ustad Vano, Ustad Azam, hingga Arka sibuk mengurus istri masing-masing. Padahal Rani dan Riani sempat berencana ingin menginap di rumah tapi tidak digubris oleh mereka.


Akan tetapi kesuraman mereka tidak bertahan lama karena suara manis Mega sekali lagi menarik perhatian semua orang.


"Ya Allah, bagaimana mungkin Ustad Vano dan Paman Arka membiarkan mereka pulang? Menginap lah di rumah ini untuk beberapa malam karena Ustad Vano dan Paman Arka pasti memiliki banyak hal yang ingin dibicarakan dengan kalian berdua."

__ADS_1


__ADS_2