Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 121


__ADS_3

"Salah paham?" Bunda Safira mencibir, bola matanya kemudian bergerak melirik Rani dari sudut matanya.


"Coba jelaskan bagaimana sikap putrimu di belakang. Aku perhatikan sejak berdiri di sini dia terus menerus memperhatikan menantu laki-laki ku. Apakah ini masih salah paham?"


Setelah kata-kata ini jatuh, sontak perhatian semua orang jatuh pada Rani. Gadis cantik itu membeku di tempat karena ditatap oleh banyak pasang mata. Rasanya ada yang salah. Mengapa orang-orang menatapnya dengan ekspresi itu?


Apakah dia melakukan sesuatu yang salah?


"Putriku...putriku adalah adik sepupu Vano jadi-"


"Sepupu lawan jenis tidak bisa disebut sebagai saudara karena mereka bukan mahram. Mungkin jika hati putrimu murni memiliki rasa persaudaraan, aku mungkin tidak akan mempermasalahkannya. Tapi nyatanya tidak, putrimu menyukai menantuku dan dia juga mendapatkan dukungan darimu, Nyonya Mei." Potong Bunda Safira tanpa ampun.


Kedua mata dinginnya menatap Rani dengan pandangan menilai. Membuat nyali Rani menciut tidak memiliki keberanian untuk bersuara. Dia hanya menggeser tubuhnya mendekati bibi Mei untuk meminta perlindungan. Tidak hanya kepada bibi Mei, namun Rani juga sempat menatap Ustad Vano beberapa kali dengan tatapan memohon. Memberikan Ustad Vano isyarat agar dia menenangkan kemarahan Bunda Safira.


Namun Ustad Vano hanya mengabaikannya. Bersikap seolah tidak mengerti petunjuk yang Rani lemparkan.

__ADS_1


"Ini... benar-benar salah paham, Nyonya Safira. Putriku dulu memang sempat menyukai Vano tapi sekarang sudah tidak lagi karena Vano sudah menikah dengan Ai." Bibi Mei berusaha menjelaskan sambil berdoa Bunda Safira melepaskan masalah ini.


Bunda Safira bukanlah lawannya, Bibi Mei mengakuinya dengan jujur. Lihat saja keningnya yang mulai bercucuran keringat dingin. Dihadapan Bunda Safira dia benar-benar mati kutu. Beberapa kali dia tidak bisa menyelesaikan kata-kata pembelaan karena setiap ucapannya pasti akan dipotong!


"Oh, benarkah? Tapi mengapa apa yang dikatakan adik ipar ku berbeda dengan perkataan mu, Nyonya Mei?"


Bibi Sifa!


Nyonya Mei dengan takut-takut melihat bibi Sifa. Ketika pandangan mereka bertemu, Bibi Sifa menyapa Bibi Mei dengan seringai miring di wajahnya


Kata-kata ini terdengar sangat kejam. Siapapun yang mendengarnya pasti akan langsung marah. Terutama dari pihak Bunda Safira sendiri. Mereka terlihat geram dan mempertanyakan nilai moralitas Bibi Mei serta putri-putrinya.


"Bibi Mei, apakah benar yang dikatakan Bunda Safira?"


Khususnya Ustad Vano. Orang yang paling marah saat ini adalah Ustad Vano. Dia adalah seorang suami yang sangat mencintai istrinya dan calon Ayah, jadi bagaimana mungkin dadanya tidak terbakar amarah saat mengetahui istri yang dia cintai akan digantikan oleh wanita lain dan anak yang dia harapkan telah divonis gugur sebelum Allah menetapkan ketetapan-Nya.

__ADS_1


"Vano... Itu..." Membantah pun rasanya sangat sulit.


"Akui saja. Mengapa kalian semua suka berbelit-belit?" Desak Bibi Sifa gatal ingin membuka mulut Bibi Mei agar memuntahkan semua ucapannya tadi ketika membicarakan Ai.


"Hah, baiklah, aku mengakuinya. Semua yang Nyonya Safira katakan memang benar. Putri pertama ku menyukai Vano tapi tidak bisa bersama karena Vano sudah memilih Aishi. Sangat disayangkan memang. Dibandingkan dengan Aishi, putriku jauh lebih baik, ini adalah kenyataan Nyonya Safira dan aku tidak mengada-ada. Sekalipun Ai akhirnya bisa hamil tapi bukan berarti kehamilannya baik-baik saja atau mampu bertahan. Siapa yang akan tahu jika beberapa bulan kemudian Aishi keguguran-"


Semakin Ai mendengarnya semakin sesak hatinya. Dia memiliki ketakutan di dalam hatinya jika suatu hari Allah tiba-tiba mengambil-


"Jangan dengarkan dia. Ingat, Nabi Muhammad ﷺ mengabarkan bahwa Allah berfirman, "Aku sesuai persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau" (HR. Ahmad). Jadi, berprasangka lah yang sebaik-baiknya kepada Allah agar kamu dan anak kita berada dalam lindungannya." Bisik Ustad Vano membimbing pikiran Ai agar tetap tenang dan damai.


Pikiran orang hamil kadang suka berlebihan jadi sebagai seorang suami Ustad Vano harus mengawasinya untuk keamanan istri maupun anaknya.


"Nah, sekali lagi kamu membuatku sangat terkesan." Potong Bunda Safira dingin.


Bibi Mei dengan bijaksana menutup mulutnya. Dia telah berbicara terlalu banyak, tidak baik, hasilnya pasti buruk. Bunda Safira dan keluarganya bukanlah orang yang mudah diprovokasi.

__ADS_1


"Kamu tahu? Bahkan dokter sekalipun tidak berani menjatuhkan vonis terhadap kondisi pasiennya sebelum dia melihat semua data perkembangan pasien tersebut. Adapun kamu, bukan dokter juga bukan siapa-siapa tapi masih berani memberikan vonis kepada putriku. Apakah kamu tidak takut masalah ini akan menghancurkan kedua keluarga?!" Geram Bunda Safira sangat marah.


__ADS_2