Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 184


__ADS_3

Fina rasanya semakin gila mendengar suaminya membandingkan dia dengan kakaknya, Asri!


Dia sangat kesal dan marah hingga membuatnya mulai menangis sedih. Tak ada yang benar-benar menginginkannya, bahkan suaminya pun tidak menginginkannya!


"Kalian semua jahat! Kalian tega membuang ku ke sini! Aku tidak mau!" Suara tangisannya menyebalkan buat Doni.


Tinggal di desa adalah mimpi buruk untuk Fina. Hidupnya akan terus terjerat kemiskinan sebanyak apapun dia bekerja. Dia tak mau memiliki kehidupan seperti ini. Dia ingin hidup di kota dan memulai kehidupan rumah tangga yang bahagia, tidak kekurangan apapun!


"Berhenti menangis. Suaramu membuat anak-anak diluar ketakutan. Nanti mereka jadi takut datang mengaji ke sini." Ejek Doni membuat Fina semakin terpukul.


Guru ngaji!


Guru ngaji di desa yang tidak memiliki nilai guna dan tidak menghasilkan uang?!


Kenapa dia berakhir dengan orang yang akan selalu terikat kemiskinan ini?


Fina sungguh tidak mengerti!


"Woo... kalian semua menganiaya aku! Aku membenci kalian!" Rutuk Fina sambil menangis.

__ADS_1


Doni mengangkat bahunya tidak perduli. Jangankan Fina yang memimpikan kehidupan kota, dia saja sangat enggan dengan pernikahan ini. Mana mau dia menghabiskan separuh waktunya untuk melayani wajah menyebalkan Fina yang sombong!


Tapi ini adalah perintah orang tua!


"Yah, tidak ada yang menyukai kamu. Tenang saja." Kata Doni membalaskan.


Fina terpukul. Dia sungguh tidak menyukai suaminya yang menyebalkan ini!


...*****...


Arka masuk ke dalam kamar dengan segelas air putih. Tadinya mau nyari cemilan juga untuk istrinya tapi setelah dilihat-lihat tidak ada yang enak. Sebenarnya sih semuanya enak saja tapi untuk Arka yang sudah terbiasa dengan kehidupan kota yang maju, dia merasa bahwa makanan di sini agak tertinggal.


Arka tidak marah. Dia tersenyum lebar sembari mempercepat langkahnya menghampiri Asri.


"Maaf, tadi aku sempat bingung nyari air dimana. Kamu minum ini dulu yah sambil nunggu orangku datang membawakan kita air minum." Katanya seraya membatu Asri minum.


Asri beneran haus. Dia langsung menghabiskan segelas air putih yang dibawa suaminya tanpa menyisakan setetes air pun.


Arka merasa perihatin dengan istrinya. Kehidupan di desa benar-benar sulit. Tidak terbayangkan bagaimana kehidupan istrinya dulu sebelum mereka berdua bertemu.

__ADS_1


"Apakah kamu mau air lagi?" Arka akan mengambilnya.


Tapi Asri buru-buru meraih tangan suaminya agar jangan pergi. Dia hanya ingin suaminya terus berada di sampingnya. Biasanya dia tidak seperti ini. Anehnya dia sendiri tidak menyadari sikap anehnya dari kemarin. Bawaannya mau manja-manja terus sama Arka.


"Cukup, mas. Aku udah cukup, kok." Asri menggelengkan kepalanya.


Dia memeluk lengan suaminya.


"Bukannya di sini ada air kotak ya, mas? Aku yakin air segitu banyaknya enggak mungkin habis kemarin." Biasanya kalau ada acara besar atau pernikahan tuan rumah pasti menyiapkan banyak makanan dan air minum kotak.


Sebanyak apapun orang atau tamu yang datang, mereka tidak akan bisa menghabiskan cadangan air tuan rumah.


Arka mencubit pipi istrinya sayang.


"Masih ada. Banyak malah."


Asri bingung.


"Ya udah, kita minum itu aja, mas, biar enggak usah nyusahin bawahan mas Arka." Jalannya penuh rintangan, Asri enggak tega membiarkan mereka ke sini, apalagi cuma sekedar bawa air doang.

__ADS_1


__ADS_2