Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 60


__ADS_3

Kesalahan yang sama?


Ai menggelengkan kepalanya membantah. Suaminya tidak pernah melakukan kesalahan, justru ia sendiri lah yang menciptakan masalah untuk suaminya. Hah, setelah ini ia berencana untuk meminta maaf kepada suaminya.


Setelah selesai membuat sarapan, mereka semua menghidangkan makanan di atas meja makan dan memanggil para suami untuk segera ke meja makan. Selama makan, Ustad Vano tampak sangat dewasa di depan Ayah dan Paman Tio. Ia terlihat tidak malu ataupun enggan di depan Ayah dan Paman Tio, padahal selama 3 hari ini ia terus saja di tekan oleh mereka berdua.


Mereka menyelesaikan sarapan dengan mudah dan sempat mengobrol sebentar sebelum pamit pulang.


...🍃🍃🍃...


"Mas Vano kok gak bilang udah di sini dari 3 hari yang lalu?" Mereka saat ini ada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan pulang.


Ustad Vano melirik istrinya di samping. Ia meraih tangannya dan menggenggam tangan itu lembut sambil fokus melihat ke depan.


"Aku gak mau ganggu waktu kamu bersama Bunda dan Bibi Saqila, di samping itu beberapa hari ini aku sangat sibuk untuk menyelesaikan beberapa urusan kantor. Jadi, aku memutuskan untuk menyelesaikan semua itu dulu sebelum menemui kamu." Ustad Vano tidak menyebutkan soal kejahilan Ayah dan Paman Tio di depan istrinya.


Cukuplah hanya dia seorang yang tahu mengenai masalah ini- padahal Ai sudah mengetahui hal ini dari Bunda dan Bibi Saqila.


Ai menghela nafas panjang, ia ingin mengatakan sesuatu akan tetapi perhatiannya tiba-tiba ditarik oleh sesuatu di pinggir jalan- tepatnya di dalam semak-semak pinggir jalan yang menunjukkan pemandangan tidak senonoh.


Jalan yang mereka lewati memang jalan pedesaan yang belum mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.


"Astagfirullah Mas, tolong hentikan mobilnya!" Pinta Ai panik.

__ADS_1


Bila orang yang ada di balik semak-semak itu adalah perkumpulan anak-anak dewasa yang memang ingin bersenang-senang, mungkin Ai tidak akan setakut ini.


Akan tetapi sayangnya itu tidak terjadi karena orang yang ada di dalam semak-semak itu adalah sekumpulan anak laki-laki berseragam SMA yang sedang mengelilingi seorang anak kecil.


Kejamnya!


"Kamu kenapa, sayang?" Ustad Vano segera menghentikan mobilnya.


Tangan Ai yang sedang ia genggam saat ini pun terasa dingin dan bergetar.


"Mas, tolong selamatkan anak itu!" Mohon Ai sembari menunjuk seorang anak berpenampilan kacau dan kotor yang sedang dikelilingi oleh anak laki-laki berseragam SMA.


Ustad Vano mengikuti arah yang ditunjuk oleh istrinya, dan


Perasaannya langsung menjadi dingin ketika melihat pemandangan itu.


Tanpa menunggu banyak waktu lagi Ustad Vano segera melepaskan tangan dingin istrinya, meminta sang istri untuk tetap di dalam mobil sementara ia keluar.


Dari dalam mobil Ai bisa melihat suaminya berlari menuju semak-semak tempat perkumpulan. Khawatir, Ai mendengar suara keributan dan sempat ada perkelahian. Akan tetapi Ustad Vano adalah orang yang telah lama menenggelamkan dirinya di dalam dunia bela diri sehingga mudah baginya menumpas beberapa anak laki-laki itu. Mereka semua kalah telak dan ingin melarikan diri, Ustad Vano tentu saja tidak membiarkan itu terjadi tapi karena ia hanya sendirian saja anak laki-laki berseragam SMA itu secara bahu membahu saling membantu dari cengkeraman Ustad Vano. Namun, untung saja Ustad Vano sempat memfoto salah satu anak laki-laki itu sehingga bila terjadi sesuatu ia bisa membawanya ke hukum.


"Ya Allah, mengapa Mas Vano tidak kunjung keluar? Apa ia baik-baik saja?" Ai khawatir, ia ingin turun dari dalam mobil menyusul sang suami. Tapi langkah itu segera ia urungkan ketika melihat suaminya keluar dari semak-semak dengan seorang anak kecil di dalam pelukannya.


"Apa Mas Vano baik-baik saja?" Tanya Ai panik setelah membantu suaminya membuka pintu belakang.

__ADS_1


Ustad Vano menganggukkan kepalanya,"Aku baik-baik saja tapi tidak dengan anak ini. Sayang, kita harus segera membawa anak ini ke rumah sakit karena kondisinya benar-benar mengkhawatirkan."


Ustad Vano terlihat sangat panik. Sungguh, bagaimana mungkin ia tidak panik ketika melihat seorang anak di bawah umur di perk*sa secara beramai-ramai di depan mata kepalanya sendiri?


Anak ini masih kecil, dia masih amat sangat kecil tapi perlakuan yang di dapatkan sungguh sangat kejam!


Bagaimana bila dia tidak bisa menahan semua siksaan itu?


Bagaimana bila dia tidak bisa memahami hidup setelah mendapatkan siksaan itu?


Apa yang akan anak ini lakukan setelah besar nanti?


Tidakkah ia akan membenci orang-orang di sekitarnya, dunia, dan bahkan tidakkah ia membenci Allah karena merasa tidak mendapatkan perlakuan yang adil?


Ustad Vano tidak bisa membayangkannya!


"Astagfirullah, darah.." Ai shock melihat tetesan darah berjatuhan dari arah ************ anak itu.


Anak kecil berambut pendek dengan penampilannya yang kacau seperti orang jalanan yang tidak memiliki tempat tinggal. Pakaian yang anak ini gunakan pun pakaian kebesaran dan ada robek dimana-mana, menampilkan sosok kurus nan lemah yang sangat menyedihkan.


Sekilas anak ini seperti anak laki-laki, mungkin itu karena penampilannya yang lusuh dan memiliki rambut pendek tidak terawat. Akan tetapi melihat tindakan remaja berseragam SMA tadi, Ai tahu bila anak ini adalah perempuan.


"Bagaimana mungkin..." Ia menyentuh kaki kurus anak itu, di sana masih meninggalkan jejak darah kering yang artinya jika perlakuan ini sudah terjadi lebih dari satu kali.

__ADS_1


__ADS_2