Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 123


__ADS_3

Ustad Vano mendengarkan semua yang semua orang katakan tidak terkecuali Rani, tapi dia sama sekali tidak perduli karena perhatiannya sudah lama diambil oleh istrinya. Karena Ai hamil, perutnya terasa keram dan tidak nyaman jadi dia dengan telaten memijat pinggang ramping istrinya. Memijatnya dengan ringan agar perut istrinya terasa lebih nyaman dan lebih baik.


"Nyaman?" Bisik Ustad Vano disela-sela memijatnya.


Ai mengangguk dengan jujur. Kedua matanya malah ikut terpejam merasakan pijatan lembut suaminya.

__ADS_1


Melihat kelakuan imut istrinya, Ustad Vano terkekeh ringan. Ai terlihat imut juga menggemaskan. Jika mereka hanya berdua saja, kedua pipi gembil Ai pasti sudah lama menjadi merah karena ulahnya.


Melihat interaksi pasangan suami istri yang sedang dimabuk cinta itu, Rani menjadi lebih cemburu dan bertekad memisahkan mereka. Karena orang yang paling tepat bersanding dengan Ustad Vano adalah orang yang sempurna, seperti dirinya.


"Tapi aku juga tidak bisa menyampaikan perasaan ku karena Kak Vano sudah menikah dengan Aishi. Tidak sampai beberapa waktu kemudian aku mendengar tentang kondisi Aishi yang spesial. Dia memiliki kekurangan dan mungkin tidak mampu untuk melahirkan bayi jadi aku memutuskan kembali ke Indonesia untuk mengejar cintaku lagi. Semuanya, tolong dengarkan aku baik-baik. Aku tidak masalah menjadi istri kedua asalkan aku bisa bersama dengan Kak Vano dan melahirkan anak-anaknya. Ini mungkin terlihat aku sangat egois tapi faktanya aku rela menjadi yang kedua agar Kak Vano memiliki keturunan dan penerus dariku. Anak-anak yang akan aku lahir kan, akan menemani hari tua kamu kelak. Dan dengan begini pula Kak Vano dan Aishi tidak terlalu kesepian saat melewati hari tua mereka." Itupun kalau Ai masih dipertahankan oleh Ustad Vano, namun kata-kata ini hanya bisa Rani katakan di dalam hatinya.

__ADS_1


"Tidak dibutuhkan." Orang yang merespon bukan lagi Bunda Safira ataupun Bibi Sifa, melainkan Ustad Vano, sang bintang masalah yang sedari tadi fokus melayani istrinya.


"Kak Vano-" Rani akan berbicara tapi dipotong lebih dulu oleh Ustad Vano.


"Kamu berpikir terlalu tinggi tentang dirimu sendiri." Potongnya menjatuhkan kepercayaan diri Rani.

__ADS_1


"Meskipun kamu menjelaskan kelebihan mu sejuta kali di depan ku, jawaban ku masih sama, kamu bukanlah orang yang diinginkan hatiku. Adapun istriku sendiri, Aishi Humaira, aku mencintainya dari dalam lubuk hatiku. Perasaan cinta ini sudah ada semenjak aku pertama kali bertemu dengannya 15 tahun yang lalu dan baru menyadari saat aku beranjak remaja melalui Ayah Ali. Demi istriku ini, aku bahkan rela pergi belajar ke pondok pesantren, tempat yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya untuk dimasuki. Aku dengan susah payah beradaptasi di sana, memaksakan diri belajar keras tentang agama dari dasar agar aku bisa menjadi imam yang layak bersanding dengannya. Jadi, setelah semua perjuangan keras ini bagaimana mungkin aku berpaling kepadamu ataupun wanita lain hanya karena kalian memamerkan diri kalian, kelebihan kalian, atau betapa sempurnanya diri kalian. Padahal faktanya... orang-orang yang suka menunjukkan dirinya sendiri dan merasa paling baik ataupun sempurna adalah orang cacat yang sebenarnya." Mengangkat kepalanya menatap Rani sambil melanjutkan ucapannya,"Cacat hati." Katanya singkat sebelum kembali menundukkan kepalanya memperhatikan sang istri yang sudah lama tertidur.


Hatinya praktis melembut melihat wajah damai istrinya. Sejak hamil, istrinya mudah sekali tertidur dan baru-baru ini mulai makan banyak. Dan hal yang paling Ustad Vano syukuri adalah Ai tidak mengalami gejala muntah-muntah parah yang seperti Mega lalui.


__ADS_2