Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 75


__ADS_3

Asri dan Arka akan keluar nanti malam setelah Arka pulang dari kantor. Kabar baik ini telah diketahui oleh Ai dan Mega. Mereka ikut merasa gembira mendengar kabar baik dan berdoa dengan tulus semoga hubungan sahabatnya semakin membaik.


Untuk merayakan kabar baik tersebut, Ai, Mega, dan Asri memutuskan untuk ke taman depan komplek. Taman itu memang tidak sebesar yang ada di pusat kota tapi juga tidak terlalu kecil. Taman ini lumayan luas, ada banyak tawa anak-anak terdengar dimana-mana dan para orang tua pun menjadikan taman ini sebagai tempat untuk berkumpul.


Di beberapa tempat mencolok mereka akan melihat sekumpulan orang-orang sedang berolahraga mengikuti irama musik senam. Mereka terlihat sangat bersemangat dengan peluh dan keringat mulai mengalir di kening mereka.


"Kita duduk di sini saja." Kata Mega seraya menggelar tikar di bawah pohon besar yang sangat adem.


Ai dan Asri tidak tinggal diam, secara bekerja sama mereka membantu Mega menggelar tikar. Menaruh barang-barang bawaan mereka di atas tikar dengan hati-hati dan rapi. Mereka berencana menghabiskan waktu sore di sini sehingga makanan maupun minuman di rumah mereka borong ke tempat ini.


"Di sini sangat menyenangkan." Kata Ai sembari memanjakan matanya menatap anak-anak di seberang sana.


Mereka tertawa keras, saling mengejar satu sama lain tanpa perlu takut jatuh ke tanah. Ai merasakan rasa cemburu juga kesedihan di sini. Cemburu karena ia tidak pernah melewati masa anak-anak penuh kebahagiaan ini dan merasa sedih karena ia tidak akan memiliki kesempatan untuk memiliki mereka. Hah, sejujurnya meratapi nasibnya ini tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Ia harusnya bersyukur ada Alsi di hidupnya dengan sang suami. Setidaknya Alsi akan mengisi kekurangan dan kekosongan yang ia rasakan.


"Jangan khawatir, Ai. Suatu hari Alsi pasti bisa seperti mereka." Kata Mega salah paham.


Mega pikir sahabatnya sedang sedih memikirkan kondisi Alsi di rumah.


"Benar, Ai. Aku perhatikan Alsi adalah anak yang kuat. Baru beberapa hari dirawat dia sudah mengalami kemajuan yang pesat, jadi tidak menutup kemungkinan kurang dari satu bulan ia sudah sembuh sepenuhnya dan dapat bermain seperti anak-anak itu." Asri pun ikut menghibur sahabatnya, memberikan kata-kata penenang agar sahabatnya tidak terlalu sedih lagi.


Sembuh?

__ADS_1


Sembuh bukan berarti Alsi bisa kembali normal seperti anak-anak itu. Kenapa Ai bisa mengatakannya?


Ya, dia mengatakannya karena ia pernah berada di posisi Alsi. Luka dari masa lalu tidak akan mungkin bisa disembuhkan, jika iya, maka akan meninggalkan bekas dan bekas itu akan selalu membayangi.


Daripada kasusnya dulu yang hanya mendapatkan pelecehan non seksual, kasus Alsi terbilang lebih berat karena ia dilecehkan secara non seksual dan seksual. Dia diperkosa oleh banyak pria dan bahkan kejamnya ia juga disodom*, maka sudah pasti luka yang Alsi rasakan sungguh sangat menyakitkan dan akan menjadi bayang-bayang nya sampai dewasa nanti.


Ini meninggalkan trauma untuk Alsi.


"Hem, aku juga berharap seperti itu." Gumam Ai tidak mau membahas masalah ini.


"Lalu bagaimana dengan nanti malam? Apakah kamu sudah menyiapkan pakaian apa yang akan kamu gunakan saat pergi nanti?" Tanya Ai mengalihkan topik pembicaraan.


Diingatkan tentang nanti malam, pipi Asri langsung merona malu. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal seraya menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah menyiapkan pakaian apa yang akan aku kenakan nanti malam. Em... sebenarnya aku sangat malu dan bingung nanti malam aku harus melakukan apa." Kata Asri mengakui.


Sepanjang hari ini dia terus berpikir apa yang harus ia lakukan bila Arka membawanya pergi ke tempat yang mewah, apakah ia bisa makan dengan rapi dan anggun nantinya atau malah justru sebaliknya, dia makan dengan kacau sehingga membuat Arka menjadi malu.


Akh... setiap memikirkannya Asri pasti akan semakin panik.


"Jangan gugup, Asri. Paman Arka tidak mungkin membawa mu ke tempat yang aneh-aneh. Jika kalian pergi makan maka makanlah dengan tenang. Jika perlu, aku sarankan agar kamu jangan membuat banyak gerakan sehingga memperburuk citra mu di depan Paman Arka." Saran Mega sama sekali tidak membuatnya tenang.

__ADS_1


Asri buru-buru mencari air dingin untuk melegakan tenggorokannya tapi ia lupa membawanya ke sini. Di sini hanya ada beberapa minuman jus buatan mereka dan Asri tidak bisa merasa lega setelah meminumnya.


"Aku akan pergi ke sana untuk membeli minuman air putih." Kata Asri kepada kedua sahabatnya sambil menunjuk mini market yang dicat merah dan biru.


Ai dan Mega menganggukkan kepalanya ringan, menatap punggung sahabat mereka semakin menjauh mendekati mini market itu.


Di dalam mini market Asri langsung pergi ke bagian belakang, ia membuka lemari es dan mengambil 3 botol air putih dingin sebelum pergi ke kasir.


Di kasir ia tidak langsung membayar karena ada antrian di depannya.


"Kamu ambil aja yang ini, ukuran L." Perempuan di depannya sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang kini tengah berdiri di depan sebuah rak kecil.


"Kok kamu tahu ukuran punya aku?" Laki-laki itu bertanya dengan nada godaan.


Tentu saja, mereka melakukannya dengan cara berbisik-bisik agar tidak di dengar oleh orang lain, tapi malangnya Asri mendengar percakapan mereka.


Namun Asri adalah Asri, dia tidak perduli dengan urusan pasangan sejoli ini karena itu bukanlah urusannya- sebelum ia mendengar balasan perempuan itu.


"Gimana gak tahu setiap kita ketemu kamu selalu bawa Durex ukuran L!" Jawab perempuan itu ketus.


Durex?

__ADS_1


__ADS_2