
Di waktu berikutnya, suasana indah yang diharapkan oleh Rani dan Riani tidak pernah terjadi. Mereka melihat satu demi satu dari Arka, lalu Ustad Azam, dan terakhir Ustad Vano turun dari kamar masing-masing. Mereka bertiga saling menatap dengan ekspresi membosankan sebelum masuk ke dalam ruang keluarga, ruang yang berhadapan langsung dengan ruang tamu tempat istri mereka tidur.
Rani dan Riani pikir mereka bisa melakukan pembicaraan yang mencairkan suasana, membicarakan hal-hal menyenangkan yang membuat mereka berlima lebih dekat lagi. Akan tetapi beberapa kali mereka berdua bicara, tidak ada satupun yang merespon ucapan mereka berdua. Seakan-akan mereka berdua adalah udara tidak kasat mata yang hanya bisa dirasakan tapi tidak terlihat.
Rani kecewa. Padahal ia memiliki harapan yang sangat tinggi saat ini tapi Ustad Vano tampak tidak perduli dengan apa yang ia bicarakan. Sikapnya sangat berbeda 180 derajat dari Ustad Vano sebelumnya yang lebih ramah dan terbuka.
"Kak Vano." Rani berdiri malu-malu dari duduknya.
Ia memberanikan diri ingin duduk di samping Ustad Vano, namun langkah dan keinginannya terpaksa harus tertahan ketika melihat Ustad Vano menaikkan kedua kakinya di sofa, menyebarkan selimut hangat di atas tubuhnya bersiap akan lepas landas ke dunia mimpi.
Rani mengepalkan kedua tangannya kecewa, menghela nafas panjang ia lalu mundur ke belakang ingin kembali ke tempat duduknya. Akan tetapi lagi-lagi langkah kakinya harus tertahan ketika mendengar suara kecil di dalam hatinya.
Rani, kamu tidak bisa menyerah begitu saja! Ingat, kamu telah datang jauh-jauh dari negeri Jiran, melepaskan sekolah mu yang tinggi dan menolak setiap ungkapan cinta dari laki-laki manapun yang datang semua itu kamu lakukan untuk siapa? Semua itu kamu lakukan untuk Kak Vano, Rani! Sekarang Tuhan sudah memberikan kamu kesempatan untuk menenangkan hatinya di saat gadis cacat itu tidak berada di sini! Ayo, Rani! Dekati Kak Vano untuk mengambil hatinya!. Suara-suara itu bagaikan sebuah cambuk untuk Rani.
Mengingatkan semua perjuangan yang telah ia lakukan untuk sampai di sini. Rani tidak mau semua perjuangannya sia-sia dan Rani lebih tidak mau lagi gagal mendapatkan Ustad Vano. Tidak adil memang untuk Ai selaku istri sah Ustad Vano. Sebagai sesama perempuan ia tahu pasti sakit rasanya bila orang yang dicintai dekat dengan wanita lain. Tapi apa yang bisa Rani lakukan?
Dia mencintai Ustad Vano, dan kekurangan Ai adalah peluang yang Tuhan sisipkan untuknya meraih kebahagiaan. Jadi, bagaimana mungkin ia melepaskan kesempatan ini begitu saja?
Rani tidak mau menyia-nyiakannya.
Benar, aku di sini karena Kak Vano. Tuhan telah menciptakan peluang untukku hari jadi aku tidak boleh menyerah. Aku pasti bisa memenangkan hati Kak Vano!. Batinnya berseru, menyemangati diri sendiri untuk mengambil langkah ke depan.
"Kak Vano." Dia memanggil dengan lembut, sarat akan nada malu-malu yang mengesankan.
Di bawah pasang mata Ustad Azam dan Arka, dia memberanikan diri mendukung dirinya di atas sofa- ah, lebih tepatnya di atas punggung kaki Ustad Vano.
__ADS_1
Di dalam tidurnya Ustad Vano mengernyit terganggu ketika merasakan sebuah beban berat di atas punggung kakinya. Dia sangat terganggu namun kedua matanya enggan terbuka. Sebab, ia benar-benar ingin beristirahat malam ini agar besok pagi ia bisa melancarkan aksinya.
"Kak Vano?" Suara lembut Rani masuk ke dalam pendengarannya.
Ustad Vano terkejut, sontak ia membuka matanya dan menatap wajah cantik Rani yang kini tengah menatapnya malu-malu dengan ekspresi horor. Ketakutan, tubuh Ustad Vano spontan memberikan reaksi penolakan. Ia mengangkat kakinya tinggi bermaksud menjauh dari Rani namun malang, tindakannya ini membuat Rani jatuh ke depan dan kepentok sisi meja.
Ustad Azam dan Arka,"....." Kami mengerti apa yang kamu rasakan, akan tetapi bukankah ini terlalu kasar? Batin mereka ngeri di dalam hati.
Mereka melihat Rani duduk di atas kaki Ustad Vano dan mereka hanya diam saja. Itu karena mereka yakin jika Ustad Vano tidak akan mempermasalahkannya- yah, Ustad Azam dan Arka masih beranggapan bila Ustad Vano masih menganggap Rani sebagai sepupunya.
Tapi siapa yang akan mengira bila Ustad Vano akan memberikan reaksi sekeras itu, membuat Rani terkejut dan yang lebih tragisnya lagi jatuh kepentok sisi meja.
"Apa Kakak tidak apa-apa?" Di antara mereka semua, satu-satunya orang yang bereaksi cepat adalah Riani.
Ia tidak tinggal diam saja melihat Kakaknya seperti itu dan segera datang membantunya berdiri.
Dia berbohong, sebenarnya keningnya agak sakit karena berbenturan dengan sudut meja. Akan tetapi ia tidak bisa mempermalukan dirinya sendiri di depan Ustad Vano.
"Syukurlah jika kamu tidak apa-apa." Suara Ustad Vano dingin memberikan kejutan untuk Rani dan Riani.
Mereka kompak menoleh melihat Ustad Vano yang kini tengah terduduk dengan wajah datar yang sebenarnya cukup asing untuk mereka berdua- ah, mungkin lebih tepatnya untuk Rani pribadi karena ia lebih banyak tinggal di luar negeri tapi tidak dengan Riani, sebab Riani lebih banyak tinggal di mansion besar karena tidak suka pindah-pindah sekolah di luar negeri. Karena tinggal di sini, beberapa kali Riani akan bertemu dengan Ustad Vano, setiap kali bertemu Ustad Vano memang ramah tapi entah kenapa ada kesan dingin dan jarak dari sikapnya.
"Apa Kak Vano tidak ingin meminta maaf? Lihat baik-baik kening Kakak ku, warnanya jadi merah karena ulah Kak Vano!" Riani adalah gadis yang picik, ia memanfaatkan situasi ini untuk memojokkan Ustad Vano.
Ustad Vano masih tidak merubah warna wajahnya, ia menatap Rani dan Riani dengan ekspresi datar, membuat kedua orang itu merasakan jarak di antara mereka.
__ADS_1
"Ulahku? Bagaimana mungkin ini ulahku di saat dia sendiri yang tiba-tiba datang dan mengejutkan ku." Bantah Ustad Vano acuh tak acuh.
Respon dingin Ustad Vano tidak hanya mengejutkan Rani dan Riani, namun juga mengejutkan Ustad Azam dan Arka. Dasarnya, mereka masih melihat sikap penyayang dan ramah Ustad Vano beberapa jam yang lalu, tapi mengapa dalam waktu singkat temperamennya segera berubah?
Terutama untuk Ustad Azam sendiri, ia terkejut dengan poin perubahan ini. Seolah-olah ia kembali di pondok pesantren dan melihat Ustad Vano yang menjadi idola tak tersentuh pondok pesantren.
Apa telah terjadi sesuatu? Beberapa jam yang lalu dia tidak pernah seperti ini. Batin Ustad Azam berpikir.
"Aku tidak tahu apa yang telah membuat Vano semarah ini kepada Rani, tapi aku tahu jika Vano tidak akan mentolerir tindakan Rani selanjutnya." Bisik Arka menilai di samping.
Dia mengenal dengan baik keponakannya ini. Dia tahu bila keponakannya ini adalah laki-laki datar yang tidak terlalu suka berekspresi dari sejak kecil. Tapi tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Sejak bertemu dengan Ai keponakannya tidak sedatar dulu- yah, sebenarnya tidak juga karena wajah datar ini bahkan masih berlaku sampai dengan saat ini.
Hanya Ai satu-satunya orang yang bisa membuat wajah datar itu memiliki ekspresi.
Hem, cinta benar-benar aneh. Bisik Arka di dalam hatinya mengenang.
"Paman sudah tahu rupanya. Dia selalu seperti ini di pondok pesantren." Balas Ustad Azam berbisik.
Mereka diam-diam berbisik di tengah ketegangan yang dirasakan oleh Rani dan Riani.
"Aku tidak pernah mengejutkan Kak Vano." Rani membela diri.
"Kamu menduduki kakiku bahkan disaat kamu tahu tidak ada ruang di sofa ini yang bisa diduduki." Ustad Vano dengan dingin mengingatkannya.
Rani langsung menjadi gugup dan malu, ia mengakui bahwa seharusnya ia tidak melakukan itu, tapi walaupun begitu tidak seharus-Nya Ustad Vano memberikan reaksi semarah ini'kan?
__ADS_1
"Itu...itu karena aku ingin membicarakannya sesuatu dengan Kak Vano-"
"Masih banyak sofa kosong di sini yang bisa kamu duduki, jadi kenapa harus mempersulit ku?" Ustad Vano bertanya geram, bila ia tahu sebelumnya bila Rani menyukainya maka ia akan memilih untuk mengabaikannya.