Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
42. Mas Vano, Lepas!


__ADS_3

Ustad Vano masih berdiri di tempat, memperhatikan punggung ramping istrinya menyiapkan tempat tidur mereka seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada perasaan bahagia ataupun menyenangkan yang terbentuk di dalam hatinya karena malam ini ia terpaksa harus tinggal berjauhan dengan istrinya.


Sekalipun semalam, namun hatinya sungguh tidak rela berpisah. Ia tidak ingin ditinggalkan oleh Ai.


"Aku tahu ada sesuatu yang membuatmu bersikap seperti ini." Gerakan tangan Ai menjadi kaku.


Ia menggigit bibirnya merasa bersalah, menunduk, ia kembali melanjutkan kembali pekerjaannya sembari memunggungi sang suami yang tidak pernah berpaling menatapnya.


Ai tahu pasti suaminya sangat sedih melihat sikap tidak berbakti nya sebagai istri yang mengecewakan. Ai pun sama, Ai kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak mampu membuat Ustad Vano bahagia.


Dia ingin percaya pada dirinya sendiri, pada janji kesetiaan Ustad Vano namun keraguan di dalam hatinya sudah mengakar entah sejak kapan. Membuatnya mempertanyakan ketulusan suaminya sendiri dan begitu mudah merasa cemburu.


Perasaan sesak itu merambat dengan mudah di dalam hati, menumbuhkan rasa tidak aman juga tidak nyaman di dalam hati, hingga timbullah rasa jarak di antara ia dan suaminya.


Ai tidak tahu apa mungkin ini karena perasaannya atau tidak tapi semenjak kedatangan Rani, tubuhnya menuntut untuk menjauhi Ustad Vano.


"Ai, jika ada masalah lebih kita bicarakan semuanya dengan terbuka. Jangan seperti ini, jangan menjauhi, okay?" Ustad Vano melangkah ringan mendekati Ai, memeluknya hangat untuk berbagi kerinduan.


Di dalam pelukannya, Ustad Vano merasakan bila tubuh sang kekasih tersentak kaget. Mengikuti keinginan tubuh, Ai tanpa pikir panjang menarik tangan Ustad Vano menjauh dari perutnya, perasaan penolakan dan ketidaknyamanan membuat Ai menjadi resah tidak bisa menahan diri untuk tidak memohon.


"Mas Vano, tolong lepaskan aku." Katanya memohon.

__ADS_1


Jujur, dia sebenarnya cukup kecewa melihat sang suami yang masih belum peka- ah, naif memang. Padahal dia tidak ingin Ustad Vano mengetahui tentang pembicaraannya dengan Bibi Mei hari itu, namun hati terdalamnya berteriak keras tidak adil, menuntut suaminya untuk mencari tahu sendiri.


"Tidak, Ai. Aku tidak akan pernah melepaskan sebelum kamu mau membicarakannya denganku." Ustad Vano menolak dengan tegas, ia tidak kalah keras kepalanya dengan Ai.


Bukankah sebelumnya ia pernah mengatakan jika ia adalah tipe laki-laki yang egois dan posesif bila menyangkut Ai. Malangnya, sifat buruk ini dipicu oleh perhatian yang Ustad Azam berikan kepada Ai. Meskipun ia tahu bahwa sahabatnya itu tidak memiliki niat apapun kepada istrinya, namun tetap saja rasa cemburu tidak bisa dihilangkan dari hatinya.


Dia cemburu, muncul ketakutan bila suatu hari Ai ingin berpisah darinya dan menemukan laki-laki yang lebih baik dari dirinya. Ustad Vano tidak mau membayangkannya akan tetapi kepalanya seolah tidak bisa ia kendalikan.


Berulangkali ia membayangkan hari itu datang dan menghancurkannya dunianya.


"Mas, aku harus segera pergi karena Asri dan Mega telah menunggu kedatanganku di bawah." Kepala Ai pusing, ia gelisah ingin segera melepaskan diri dari suaminya.


Entahlah, perasaan ini sudah mengganggunya sejak beberapa jam yang lalu.


"Mas Vano, lepas!" Teriak Ai mulai terisak sedih.


Padahal ia telah memohon tapi kenapa Ustad Vano tidak mau mendengar?


Dia tidak nyaman berdekatan tapi mengapa Ustad Vano tidak bisa melihatnya?


Ai tidak tahan berdekatan dengan suaminya tapi kenapa... suaminya tidak mengerti?

__ADS_1


"Sayang, kamu...nangis?" Ustad Vano sontak melepaskan pelukannya.


Ia ingin menyentuh wajah sang istri namun sang istri justru berpaling menjauh tidak ingin disentuh. Mereka terjebak dalam kebisuan yang membeku. Canggung namun menyakitkan rasanya melihat Ai menangis terisak di depannya sendiri tanpa bisa ia sentuh.


"Apa aku menyakitimu?" Ustad Vano bertanya sendu.


Ingin rasanya ia mendekap Ai, membawanya ke dalam pelukan dan mendekapnya erat. Ia sungguh ingin melakukan itu tapi ia tidak bisa karena Ai pasti akan semakin tersakiti.


"Maaf, Mas." Ai mengusap wajah basahnya.


"Aku butuh waktu untuk sendiri." Bisiknya merasa bersalah.


Ustad Vano terdiam, untuk sejenak ia tidak bisa memberikan respon apapun. Lidahnya terasa kelu tidak bisa digerakkan. Emosi kekecewaan mewarnai hati dan pikirannya, diam...ia menundukkan kepalanya mengalah.


"Pergilah, jika kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk memanggilku."


Ai mengigit bibirnya menahan luka, mengangguk ringan, ia lalu membawa langkah kakinya keluar dari kamar. Meninggalkan sang suami yang masih berdiri di tempat memandangi pintu kamar yang telah tertutup rapat.


"Ada apa, Ai?" Bisiknya sendu.


"Kenapa sulit sekali membicarakannya?"

__ADS_1


Dia benar-benar tidak mengerti, ia sungguh tidak mengerti mengapa Ai semarah ini kepadanya. Sikap ini persis seperti yang Ai tujukan kepadanya di malam itu-


"Astagfirullah...ini tidak ada hubungannya dengan fisik Ai lagi'kan? Memangnya siapa yang akan merendahkan kondisi istriku di sini- apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan keluarga ku yang ada di rumah Kakek?" Ustad Vano mengusak-usak kepalanya berpikir.


__ADS_2