Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 94


__ADS_3

"Jadi kapan kita pergi melakukan pemeriksaan?" 


Ai mengeratkan pelukannya,"Ai tidak tahu, Mas."


Ustad Vano tersenyum,"Bagaimana jika kita membeli tespek dulu? Mama bilang penggunaannya sangat mudah dan tidak menggunakan banyak waktu."


Istrinya takut ke rumah sakit, dia bisa mengerti perasaannya. Namun Ustad Vano tidak mau menunggu dua hari lagi karena baginya itu terlalu lama. Dia ingin memastikannya secepat mungkin dan menggunakan tespek adalah satu-satunya solusi terbaik saat ini.


"Tespek?" Tanya Ai ragu.


"Hem, kita tidak perlu ke rumah sakit untuk memastikannya dan kita juga tidak perlu menunggu dua hari lagi untuk mengetahuinya, cukup gunakan tespek saja." Kata Ustad Vano menjelaskan.


Ai terdiam, ia menatap ragu suaminya,"Ayo kita coba istriku, jangan takut, okay?"


Terdiam lama, Ai akhirnya menganggukkan kepalanya setuju. Meskipun takut gagal tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Toh, semuanya ada di tangan Allah.


"Alhamdulillah, maka malam ini aku akan pergi membeli tespek di apotik setelah melaksanakan sholat isya." Ustad Vano bersyukur istrinya mau dibujuk.


Ai mendongak menatapnya,"Harus dipakai malam ini ya, Mas?" Tanyanya agak takut.


Mendengar pertanyaan ini sontak mengundang tawa rendah Ustad Vano. Ia menertawakan ketidaktahuan istrinya yang polos tapi agak geli. Dibandingkan dirinya yang laki-laki, Ai yang notabene adalah perempuan justru tidak tahu menahu bagaimana tespek itu digunakan. Tapi untunglah ia mengetahuinya dan dapat mengajari istrinya agar tidak keliru.


"Sayang, tespek hanya digunakan di pagi hari dan dengan urine pertama mu. Jadi saat subuh nanti kamu bisa menggunakannya tapi ingat, digunakan bila kamu mengeluarkan urine pertama. Selain itu hasilnya akan sangat meragukan. Sekarang Ai paham, kan?" Jelas suaminya membuat Ai langsung tercerahkan.

__ADS_1


Jelas saja Ai malu diajari oleh suaminya yang laki-laki.


"Em, terima kasih, Mas. Aku sejujurnya tidak pernah melihat Bunda menggunakan tespek." Kata Ai mengakui.


Mungkin saja Bunda menggunakan, hanya saja ia menyimpannya dan mungkin hanya membicarakannya dengan Ayah karena itu adalah masalah pribadi. Dan sekarang Ai dan Ustad Vano juga berada di posisi ini.


"Sebenarnya tespek digunakan sebagai jalan alternatif bila tidak ingin bersusah payah ke rumah sakit, tapi ada juga pasangan suami-istri yang tidak terlalu yakin menggunakan tespek sehingga mereka memilih melakukan pemeriksaan ke rumah sakit langsung, atau ada juga situasi dimana beberapa pasangan akan menggunakan tespek sekaligus melakukan pemeriksaan di rumah sakit agar hasilnya akurat."


Ai semakin mengeratkan pelukannya di tubuh suaminya.


"Lalu bagaimana dengan Mas Vano sendiri? Apa tidak masalah hanya menggunakan tespek?" Tanya Ai malu.


Ustad Vano menganggukkan kepalanya tidak masalah,"Tidak masalah istrinya, bagiku apapun hasilnya akan terlihat juga di tespek." Karena Ustad Vano telah berencana akan membeli banyak tespek dari merek berbeda sehingga hasilnya jauh lebih akurat.


"Um, bismillah, Mas. Apapun hasilnya besok kita harus menerimanya dengan lapang dada." Kemungkinan untuk gagal tidak diragukan lagi.


"Apapun hasilnya aku akan ikhlas, istriku. Jadi, hilangkan takutmu karena jika tidak berhasil, kita masih memiliki Alsi. Putri kita yang sedang berjuang melepaskan traumatis nya."


Ai mengangguk ringan, merasa tenang karena apa yang suaminya katakan adalah sebuah obat mujarab untuk hatinya yang sedang ketakutan. Tidak apa-apa, mereka masih memiliki Alsi, putri cantik mereka yang pemalu dan tulus, mereka tidak akan menyia-nyiakan Alsi seumur hidup mereka.


"Iya, Mas. Alsi kita sudah mulai terbuka untuk semua orang, dia tidak lagi penakut dan Alhamdulillah, kondisinya semakin membaik hari demi hari." Mereka kini mulai membicarakan Alsi, putri mereka yang telah berusia 5 tahun dan sangat cerdas. Sekalipun tidak pernah sekolah tapi Alsi sudah bisa mengenali kata-kata sederhana. Ini adalah hasil dari ketekunan Alsi yang selama ini telah diam-diam belajar semampunya.


Tidak dipupuk saja ia sudah sangat cerdas apalagi setelah memasuki bangku sekolah nanti. Alsi pasti akan mewarisi Ai pikir Ustad Vano.

__ADS_1


"Alhamdulillah, dia akan segera berbaur dengan kita di sini. Tapi Ai, apa kamu tidak lapar?" Tanya Ustad Vano tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.


Ustad Vano tiba-tiba merasa lapar- atau lebih tepatnya itu terjadi karena memang sudah waktunya untuk makan malam. Tapi anehnya rasa laparnya malam ini karena ditentukan oleh sebuah makanan yang tiba-tiba ingin ia makan malam ini. Ia ingin makanan ini tersaji selagi hangat di depannya tapi dimasak langsung oleh istrinya.


Ai melepaskan diri dari pelukan suaminya. Jika dilihat dari waktu sebenarnya ia saat ini sudah ada di dalam dapur.


"Sedikit, Mas. Bagaimana dengan Mas Vano sendiri?"


Ustad Vano mengangguk tanpa malu-malu,"Aku sungguh sangat kelaparan. Tapi aku ingin makan nasi goreng buatan mu malam ini dengan ekstra telur sebagai pelengkap sajinya. Apa kamu mau memasakkan ku, istriku?"


Setiap kali mengingat nasi goreng buatan istrinya, Ustad Vano akan berdecak lapar ingin memakannya.


"Mas Vano ingin makan nasi goreng sekarang?" Ini cukup aneh untuk Ai pribadi.


Bersambung...



😊!


Sekedar pengingat, ini hanyalah dunia novel yang tercipta dari imajinasi atau karangan author jadi jangan di baperin sampai ke dunia nyata, ya 😂. Ambil sisi positif tapi jangan sisi negatif, sesederhana itu 😊.


Oh ya, maaf saya baru up sekarang karena beberapa minggu ini saya sering drop. Mungkin karena pergantian cuaca atau entahlah, saya tidak terlalu tahu. Tapi yang pasti saya gak bisa nulis sehingga semua novel jadi molor.

__ADS_1


Mohon maaf yah dan selalu jaga kesehatan semuanya, semoga kita semua selalu dalam lindungan dan rahmat Allah SWT.


Oh, ya jangan lupa puasa Rajab, yah🍃


__ADS_2