
Ustadz Azam ingin membeli hadiah untuk istrinya tercinta. Rencananya dia ingin membeli sebuah perhiasan dan beberapa pernak-pernik wanita. Untuk perhiasan dia sudah membuat janji dengan toko perhiasan di kota ini dan dua hari kemudian bisa diambil. Sedangkan untuk pernak-pernik wanita seperti perawatan kulit atau semacamnya, ustadz Azam meminta bantuan Mega.
Dia ingin membawa Mega pergi tapi Firda juga mengikuti. Sejujurnya dia tidak setuju dengan kehadiran wanita lain di sini, tapi untuk menghargai Firda dia tidak mengatakannya.
Sementara Mega terjebak dalam dilema. Jika dia tahu kakaknya tidak akan antusias melihat kedatangan Firda bersamanya, maka mungkin dia tidak akan membawa Firda ke sini. Kakaknya terlihat tidak setuju Firda ikut bersama mereka, tapi tidak memberikan komentar apapun dan bertindak seolah Firda tidak ada di sini.
"Kak Mega suka warna apa, kak?" Mereka sekarang ada di toko pakaian.
"Dia suka warna merah. Lemari pakaian kami dipenuhi oleh warna merah karena baju-bajunya lagi dominan menggunakan warna ini. Selain itu dia juga suka mengganti sprei dengan warna merah yang sangat mencolok. Yakin deh kalau kami tidak tinggal di rumah Arka mungkin rumah kami akan dipenuhi dengan segala macam berwarna merah." Cerita ustadz Azam sembari menggelengkan kepalanya.
Terkadang dia heran dengan kesukaan istrinya terhadap warna merah. Dan terkadang dia merasa bahwa itu wajar saja karena tempramen istrinya sangat mirip dengan makna warna merah tersebut. Berani dan kuat, dia mengerti mengapa istrinya menyukai warna merah.
"Apakah kak Azam juga suka warna merah?" Firda ikut menyela pembicaraan mereka.
Kupingnya terasa panas mendengar mereka membicarakan Mega terus-menerus. Entah itu di jalan atau di dalam mobil, tapi tidak pernah lepas dari nama wanita ini. Membuatnya mati penasaran dan bertanya-tanya seperti apa rupa wanita yang bernama Mega itu sehingga membuat Sasa terkagum-kagum kepadanya dan yang paling menyakitkan adalah ustadz Azam tidak pernah berhenti tersenyum ketika menyebut nama ini.
"Bagiku semua warna sama saja, tapi karena istriku menyukainya, maka aku akan lebih menyukainya daripada warna yang lain." Jawab ustadz Azam tidak berbohong.
Firda menganggukkan kepalanya mengerti. Wajah pucatnya tersenyum pahit.
"Kalau begitu kita langsung belanja saja agar tidak membuang banyak waktu." Sasa berpura-pura melihat jendela di luar gedung yang mulai kehilangan warnanya karena kedatangan sang malam.
"Bentar lagi malam, kak. Aku nggak bisa lama-lama di sini karena teman sekamarku mengundang ke acara ulang tahun adiknya. Kami tidak membuat pesta besar melainkan hanya makan-makan biasa saja di dalam kamar." Awalnya dia mengatakan tidak bisa pergi ke acara ulang tahun adik teman kamarnya tapi melihat pertemuan hari ini tidak berjalan lancar maka Firda memutuskan untuk tidak berlama-lama di luar.
Lagi pula kakaknya pasti sudah ingin angkat kaki dari tadi karena merasa risih dengan kehadiran Firda.
"Oh iya tadi pagi kamu bilang teman sekamar mu lagi ngadain acara. Kamu pergi aja nggak apa-apa, mereka pasti berharap dengan kehadiran kamu. Masalah kak Azam biar aku aja yang temani, kebetulan aku tidak punya acara apapun malam ini." Firda langsung bersorak di dalam hati karena bisa berduaan dengan pujaan hatinya.
__ADS_1
Tuhan tahu betapa senangnya dia saat ini.
"Tidak perlu membantuku. Setelah membeli pakaian di sini aku tidak akan keluar lagi karena asistenku sudah mengirim pesan bahwa akan ada rapat malam ini di hotel." Tolak ustadz Azam tidak menginginkan bantuan Firda.
Malam ini memang tidak ada kegiatan apapun dari pihak klien karena pertemuan resminya dimulai dari besok. Sedangkan alasan yang dia buat tadi memang murni sebuah kebenaran kalau dia akan rapat dengan asisten dan bawahannya untuk jadwal pekerjaan besok. Meskipun rapatnya dijadwalkan pukul 09.00 malam, tapi karena tidak memiliki kegiatan lagi setelah membeli pakaian, dia memutuskan untuk mengadakan rapat setelah selesai makan malam.
Jauh dari istrinya membuat dia sangat rindu. Dan jujur saja dari tadi pikirannya terus melayang mengingat istrinya yang kini berada di rumah Mama. Pulang dari sini dia berencana untuk video call dengan istrinya. Bahkan meskipun mereka berpisah dia tidak akan lupa kewajibannya sebagai seorang Ayah yang baik. Dia akan tetap mengobrol dengan bayinya meskipun lewat video call, menceritakan cerita-cerita para nabi dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, serta membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an hingga istrinya tertidur.
Dia sudah merencanakannya sejak di rumah tadi pagi.
"Oh... Tapi katanya kakak ingin membeli hadiah yang lain lagi?" Wajah Firda langsung cemberut.
Tanpa meliriknya dia menjawab,"Tidak perlu. Hadiah ini sudah cukup."
Firda merasa jengkel karena ajakannya ditolak. Padahal dia ingin keluar dengan ustadz Azam untuk berkencan. Dia tidak percaya jika ustadz Azam tidak tertarik kepadanya. Habiskan saja beberapa waktu maka ketertarikan akan tumbuh dengan sendirinya. Selain itu, Ustadz Azam adalah orang kantor yang sibuk dan membutuhkan pelepasan hasrat jadi wajar saja ustadz Azzam memiliki wanita lain di luar selain istrinya di rumah. Dan yang lebih penting lagi wanita kedua jauh lebih memuaskan daripada wanita di rumah. Ini bukan rahasia umum lagi di kota yang sibuk maka dari itu Firda bertekad ingin mendekati pujaan hatinya ini sambil berharap buih-buih ketertarikan mulai tumbuh di dalam hati.
"Terima kasih kak, untuk hari ini. Maaf aku mengacaukannya." Bisik Sasa di akhir kalimat.
Ustadz Azam mengerti. Dia juga menyayangkannya. Bila Firda biasa-biasa saja dan tidak terlalu agresif seperti tadi, maka dia fine-fine aja. Dia tidak masalah ada orang tambahan di antara mereka berdua. Tapi masalahnya Firda terlalu terang-terangan. Sangat bodoh jika ustadz Azam tidak bisa membacanya.
"Tidak apa-apa. Pulanglah dan jangan keluar malam. Sering-sering telepon ke rumah biar Mama dan Papa nggak terlalu banyak pikiran." Pesan ustadz Azam kepada adiknya.
Sasa mengangguk dengan patuh dan berjanji akan menelpon orang tuanya nanti malam.
"Kak Azam terima kasih telah mengantarku pulang ke asrama. Aku sangat senang bertemu dengan kak Azam lagi. Karena terlalu senang aku lupa menyiapkan kakak hadiah pertemuan. Lalu kapan kak Azam kosong agar aku bisa mengirim hadiah yang tidak sempat kusiapkan?" Firda mulai melancarkan aksinya.
Dia sangat berharap ada pertemuan lagi setelah hari ini dan dia juga berjanji tidak akan melepaskan atau melewatkan kesempatan jika mereka bisa bertemu lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku tidak punya waktu dan sepenuhnya sibuk di kota ini." Jawab ustadz Azam menolak dengan acuh tak acuh.
Firda mengernyit tidak senang karena tawarannya ditolak lagi.
"Oh... Kakak pasti benar-benar sibuk. Kalau begitu bagaimana dengan nomor telepon? Sebelum menemui kakak aku akan bertanya dulu kepada kakak agar tidak mengganggu waktu kakak bekerja." Firda buru-buru mengambil ponselnya dari dalam tas dan bersiap mencatat nomor telepon ustadz Azam.
"Aku tidak menghafalnya." Jawab ustadz Azam singkat.
"Kalau begitu kakak bisa menyimpan nomor teleponku dulu-"
"Aku tidak membawa ponsel." Sela ustadz Azam cepat.
Kedua tangan Firda mengepal kuat menahan amarah. Apakah ustadz Azam sengaja?
Apakah ustadz Azam mengira jika dirinya buta tidak bisa melihat ponsel yang sudah dari tadi dipegang oleh ustadz Azam saat mereka keluar tadi?
"Aku melihat kakak memegang ponsel....di mall tadi." Ucap Firda ragu-ragu.
"Ya, lalu apa kamu masih belum mengerti juga?" Ustadz Azam mengalihkan mata dinginnya menatap ekspresi jelek di wajah Firda.
Tersenyum miring, tanpa menunggu Firda mengatakan apa-apa lagi dia langsung menutup jendela mobil dan mengendarainya pergi menuju hotel tempatnya menginap. Memang benar dia adalah orang yang kejam, tapi itu bukan salahnya. Seorang wanita yang baik tidak akan mengganggu pernikahan laki-laki yang sudah menikah. Jika pihak laki-laki sudah menunjukkan penolakan dan tidak tertarik, maka itu artinya laki-laki itu bukan jenis yang sama dengan wanita tersebut. Sehingga wanita itu harus mundur dan jangan memaksakan diri. Tapi apa yang ustadz Azam temukan pada Firda adalah justru sebaliknya. Dia keras kepala dan terlalu percaya diri, wanita ini berbahaya pikirnya. Jika tidak segera disingkirkan, rumah tangganya akan mengalami masalah.
"Halo assalamualaikum, Dayat?" Dia menghubungi asisten pribadinya.
"Ya, tolong atur kamar baru di hotel lain. Kalau bisa hotel itu lebih jauh dari hotel tempat kita menginap sekarang. " Perintah ustadz Azam kepada asistennya.
"Tidak ada masalah tapi ini murni karena aku ingin pindah. Jika kamu sudah menyelesaikan akomodasi, Tolong kirimkan lokasinya kepadaku agar kita semua bisa segera beristirahat."
__ADS_1
"Baik... terima kasih, maaf telah mengganggu waktu istirahat mu. Assalamualaikum." Setelah membuat pengaturan ustadz Azam akhirnya bisa bernafas dengan lega.