
Besoknya, Asri sengaja pulang ke rumah setelah sholat subuh. Begitu masuk ke dalam rumah ia terkejut melihat suaminya kini sedang duduk tegak di atas sofa empuk.
Suaminya terus saja menatap dirinya semenjak awal masuk rumah hingga berdiri tepat di depannya. Diam, Asri berdiri canggung ditatap seperti oleh sang suami karena tidak biasanya Arka melakukan ini kepadanya.
"Apa kamu marah?" Tanya Mas Arka sambil melepaskan pecinya dari kepala.
Ia menyisir rambut basahnya ke belakang, menampilkan sosok Arka yang tampan dan lebih mudah didekati.
"Aku tidak marah, Mas." Bantah Asri sejujurnya tidak mengerti.
Tapi yah, dia tidak marah untuk semua yang Arka lakukan kepadanya. Bukan marah yang ia rasakan tapi lebih kepada kecewa. Ia kecewa karena Arka telah membohonginya dan ia kecewa karena Arka telah mengingkari janji yang ia buat sendiri.
Kecewa dan kecewa, dia hanya bisa mengatakan ini.
"Jika kamu tidak marah, lalu kenapa kamu tidak pulang semalam dan tidur di kamar kita?" Tanya Arka tidak habis pikir.
Semalam dia sangat kelelahan dan tanpa sadar jatuh tertidur. Dia memang sempat mendengar Asri akan keluar menemui Bapak tapi dia tidak menyangka jika Asri akan menginap di sana. Saat terbangun di tengah malam, Arka terkejut tidak melihat sosok Asri di kamar dan bahkan sisi samping tempat tidurnya terasa dingin seolah tidak pernah ditiduri.
Arka jelas panik, ia segera turun ke bawah untuk mencari istrinya, membuka kamar-kamar tamu tapi masih belum juga menemukan keberadaan istrinya.
Bingung, ia terduduk diam di ruang keluarga dengan segala macam pikiran berkecamuk sampai akhirnya semua orang bangun untuk melakukan sholat malam. Mungkin Arka tidak akan pernah tahu Asri menginap di sana jika Ai dan Mega tidak memberitahu.
Jujur Arka merasa marah begitu mengetahuinya tapi ia hanya bisa mengenyam karena sang objek pembuat marah sedang tidak ada di rumah.
__ADS_1
"Itu...aku minta maaf, Mas. Su-sudah lama aku tidak tinggal bersama Ibu dan Bapak, jadi...aku memutuskan semalam untuk menginap di rumah mereka." Alasan ini memang benar, tapi alasan yang lebih tepatnya adalah ia ingin menghindari Arka dulu. Ia kesulitan bagaimana caranya menghadapi Arka yang sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Tanpa memberi tahu ku?" Tanya Arka tidak habis pikir.
Asri menundukkan kepalanya tidak berani menatap Arka, "Aku tidak bermaksud seperti itu, Mas."
Arka tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia terdiam, menatap wajah tertunduk Asri yang terlihat agak pucat hari ini.
Menghela nafas panjang, ia lalu berdiri dari duduknya dan segera naik ke atas tanpa mengatakan apapun kepada Asri.
Melihat suaminya pergi Asri buru-buru mengejarnya, mengekori suaminya naik ke lantai empat.
"Mas Arka mau kemana?" Tanya Asri ngos-ngosan di belakang.
"Ke kamar." Jawab Arka singkat.
Asri masih ngos-ngosan tapi ia bersyukur bisa menyamakan langkah suaminya.
"Hari... hari ini Mas akan pergi ke kantor lagi?" Tanya Asri ragu.
Takutnya Arka menciptakan kebohongan lagi seperti kemarin.
"Hem, hari ini aku ada meeting dengan perusahaan h dari kota D dan akan sedikit pulang terlambat." Jadwalnya hari ini cukup sibuk.
__ADS_1
"Oh..." Asri menggigit bibirnya gugup.
"Lalu... apakah Ustad Azam akan ikut dengan Mas Arka?"
Arka menoleh ke samping dan menatap Asri aneh,"Tentu saja dia ikut, bukankah Azam adalah sektretaris pribadi ku?
"Oh... begitu." Asri tanpa sadar menghela nafas lega.
Lega rasanya mengetahui sang suami hari ini tidak bertemu dengan Lisa.
"Lalu bagaimana dengan mu, apa malam ini kamu ada waktu luang?" Tanya Arka tidak lagi menatap Asri.
Asri menjawab cepat,"Aku selalu memiliki waktu luang, Mas."
Ai, Mega, dan dia tidak punya banyak kegiatan. Bila suami mereka di sini, maka mereka akan menyuapkan makanan atau tidak menghabiskan waktu bersama suami masing-masing. Tapi jika suami mereka pergi bekerja, maka mereka akan membersihkan rumah setelah itu bersantai di ruang santai untuk membicarakan banyak hal.
"Bagus, nanti malam ayo keluar bersama. Aku ingin membawamu pergi ke suatu tempat." Ajak Arka sambil mengulum senyum di wajah tampannya.
Asri meremas pakaiannya gugup,"Kita akan pergi kemana, Mas?"
Arka menoleh, menatapnya dengan seringai di bibir,"Membuat bayi, tidakkah kamu menginginkannya?"
Wajah Asri langsung terasa panas dan menjadi merah terang,"Mas Arka, ih!" Dia sangat malu!
__ADS_1