
Wanita kuat di samping menggelengkan kepalanya. Rata-rata suami di kampung tidak romantis karena mereka sibuk bertani di sawah. Lagian terlalu romantis juga tidak baik karena akan menjadi buah bibir warga desa kalau dilihat.
"Jangan sebut itu. Aku malah agak kaget pas tahu Fina nikah sama Doni. Kita semua tahu kan setinggi apa kesombongan wanita itu. Dulu dia selalu mengangkat kepalanya tinggi saat melewati kita semua seolah-olah kita adalah orang kotor. Aku kira dengan penilaian bola matanya dia akan menikah ke kota dan bertemu laki-laki mapan, eh, siapa yang tahu kalau dia malah nikah sama sepupunya sendiri di desa. Cek...memang benar kita tidak bisa melihat dari luarnya saja. Karena buktinya Asri yang selama ini selalu rendah hati dan tidak sekolah di kota justru berakhir menikahi laki-laki kaya raya! Nasib kedua bersaudara ini saling bertolakbelakang." Kata wanita itu merasa takjub sekaligus heran.
Dimana-mana beberapa orang tidak akan disukai dan beberapa orang akan mudah disukai. Apalagi jika orang itu memiliki temperamen yang buruk, selalu memandang orang-orang di sekelilingnya dengan tatapan rendah. Sebenarnya banyak orang yang menonton atau sedang menunggu kehidupan Fina selanjutnya setelah ia bersekolah di kota. Mungkin saja dia benar-benar menikah dengan pemuda kota yang jauh lebih mapan daripada anak-anak di desa.
Namun mereka tidak perlu berlama-lama untuk itu karena dalam waktu beberapa bulan saja dia dipulangkan ke desa dan menikah dengan seorang guru ngaji. Guru ngaji tidak memiliki gaji tetap, malah sebenarnya tidak digaji karena Doni melakukannya dengan sukarela. Tapi penduduk desa malu menyerahkan anak mereka kepadanya dengan gratis. Memberikan uang tidak cukup, mereka orang desa juga kekurangan uang dan Doni mungkin tidak menyukainya. Karena itulah sebagian besar para orang tua akan memberikan Doni beberapa kebutuhan dapur. Misalnya seperti sayur-sayuran, beras ataupun makanan biasa yang mudah ditemukan di kampung.
__ADS_1
Kehidupan yang diimpikan Fina benar-benar terjun payung jauh ke bawah, ke posisi yang sangat tidak dia inginkan.
"Kalau itu sih aku nggak heran ya. Siapa suruh dia bersikap sombong. Coba lihat kakaknya sendiri. Asri mah selalu ramah dan mudah tersenyum ketika berpapasan dengan kita. Beda dengan adiknya yang manja itu. Setiap kali dia bertemu dengan kita, matanya berkilat jijik seolah-olah dia tidak tumbuh dari Desa saja!" Sahutnya sambil mendengus.
Melihat Asri dan Arka bersenang-senang di sawah, mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi sambil mengobrol.
Suara obrolan mereka perlahan tidak bisa dijangkau oleh Fina. Sepanjang Fina mendengarkan obrolan mereka entah sudah keberapa kali dia mengambil nafas berat menahan emosi. Ada marah dan kesedihan, semuanya menjadi satu dalam sebuah penghinaan. Dia tidak pernah tahu orang-orang di desa memandangnya dengan tatapan seperti itu dan dia tidak pernah berpikir kalau orang-orang desa selama ini membandingkannya dengan Asri.
__ADS_1
Dia sangat marah dan ingin melabrak kedua wanita itu secara langsung. Tapi pikirannya masih jernih. Dia tidak mungkin memarahi kedua wanita itu karena mereka memiliki hubungan yang sangat baik dengan Ibu.
Terpaksa dia harus menahan semua ketidakadilan ini dalam diam.
"Ngapain kamu berdiri di sini?" Doni berjalan menghampiri istrinya dengan ekspresi tak bersahabat.
Bagaimana kalau ada ular di sana?
__ADS_1
Doni tidak masih Fina digigit ular karena itu konsekuensinya berlari ke semak-semak. Tapi akan ribet urusannya sama keluarga jika Fina beneran digigit.