
"Selamat malam Bibi Asri!" Riani menyapa dengan nada sok akrab, bersikap seolah-olah mereka tidak pernah berseteru kemarin.
Padahal tatapan dan nada suara yang sarat akan rasa angkuh itu tidak akan mudah Asri lupakan dari benaknya. Itu adalah sebuah kenangan yang sangat menyakitkan dan cukup berkesan di hati Asri.
"Bibi Asri?" Rani menatap adiknya bingung.
"Iya Kak, ini Bibi Asri istri dari Paman Arka." Riani menjelaskan singkat.
Rani terlihat kian bingung, mata besarnya yang cantik menatap Asri dengan jejak keraguan. Ia ingin mengatakan sesuatu namun rasanya agak tidak nyaman mengatakannya di sini. Akan tetapi, rasa ingin tahu adalah perasaan yang menjebak. Rani tidak tahan menahannya, jadi dia memutuskan untuk bertanya kepada adiknya.
"Bukankah...Paman Arka sudah memiliki Kak Lisa, tapi kenapa ia menikah dengan gadis lain?" Rani tidak tahu bila pertanyaan ini segera membuat suasana menjadi canggung.
Ah, mungkin sejak kemunculan Rani suasana canggung seharusnya sudah muncul.
Mega mengernyit,"Siapa Lisa?"
Dia menatap Rani langsung ke matanya tanpa rasa takut ataupun canggung seperti kedua orang. Mega tidak bodoh, dia bisa merasakan bila sikap kedua sahabatnya memang sedikit aneh sejak tadi pagi dan keanehan itu semakin diperjelas sejak kedatangan dua gadis ini.
Karena kedua gadis ini adalah keluarga Ustad Vano dan Arka, maka Mega sangat yakin jika telah terjadi sesuatu di mansion keluarga Ustad Vano dan Arka.
Terjadi sesuatu yang telah membuat kedua sahabatnya murung, dan ia bahkan lebih yakin jika masalah itu pasti berhubungan dengan Ustad Vano maupun Arka.
"Itu..." Rani menyadari bila pertanyaannya telah menyinggung Asri.
"Lisa adalah kekasih Mas Arka." Ini bukanlah jawaban dari Rani ataupun Riani, melainkan dari bibir Asri sendiri.
Dia terlihat begitu tenang, tanpa ada rasa permusuhan ataupun kemarahan, seolah-olah nama 'Lisa' dan sebutan 'kekasih' tidak memiliki makna besar untuknya.
"Asri.." Mega dan Ai kompak memanggil nama Asri ikut merasakan sakit.
Mereka berdua khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Maka tidak mengherankan bila Asri tiba-tiba lebih murung dari biasanya dan terkesan menjaga jarak dari Arka.
__ADS_1
Sekarang Mega mengerti, ia mengerti betapa sesak perasaan Asri pastinya.
Asri tersenyum lembut,"Di luar dingin, alangkah lebih baiknya kita membawa mereka berdua masuk ke dalam sambil menunggu kedatangan-"
Tid
Sebuah mobil hitam masuk ke dalam halaman, cahayanya membuat mereka kompak menutup mata untuk menyingkirkan silau. Mobil itu kini berhenti di depan mereka, dan secara satu persatu penghuni mobil itu turun dari mobil.
"Kak Vano!" Ketika melihat orang yang pertama turun dari mobil adalah orang yang mengundangnya datang ke sini, Rani segera berteriak nyaring.
Ia berlari cepat, melemparkan dirinya tanpa takut jatuh ke dalam pelukan hangat Ustad Vano.
Ustad Vano sangat terkejut melihat Rani tiba-tiba melemparkan dirinya, takut melihatnya jatuh Ustad Vano segera menangkap Rani. Ia tidak menyangka aksi penyelamatannya ini berbuah pelukan manis dari adik sepupunya.
Rani adalah satu-satunya sepupu yang tinggal di luar negeri dan jarang kembali ke Indonesia. Karena pekerjaan Paman dan Bibi yang suka berpindah-pindah negara, Rani terpaksa harus pindah dari satu sekolah ke sekolah yang lain di beberapa negara. Ini sudah berlangsung sejak bertahun-tahun yang lalu sehingga mereka jarang bertemu dan berkomunikasi.
Tapi sekarang Ustad Vano mendapatkan kabar baik bahwa Rani beserta Paman dan Bibi Mei akan menetap di Indonesia. Mereka tidak akan pergi ke luar negeri lagi sehingga Rani bisa berkumpul bersama para sepupu yang lain.
Karena jika ia terlambatnya sedikit saja maka Rani tidak akan berakhir dengan baik.
Rani memeluk erat leher Ustad Vano untuk melepaskan rindu.
"Maafkan aku, Kak! Habisnya aku sudah sangat merindukan Kak Vano!" Rani sungguh sangat merindukan Ustad Vano.
Bahkan kedua pipinya bersemu merah dengan senyum sumringah yang terbentuk indah di bibir merahnya.
"Oh, jadi kamu hanya merindukan Vano saja sedangkan aku tidak?" Suara protes berasal dari wajah angkuh Arka.
Rani melepaskan pelukannya dari Ustad Vano dengan malu-malu, lalu beralih memeluk Arka, Paman narsisnya yang juga ia rindukan- meskipun yah dia akui jika kadar kerinduan untuk Ustad Vano jauh lebih tinggi dari Arka, tapi Rani tetap saja tidak bisa mengabaikannya.
"Jangan salah paham, Paman Arka! Aku juga sebenarnya sangat merindukan Paman!"
__ADS_1
Arka menggeleng kepalanya tidak berdaya, menyambut pelukan hangat keponakan manisnya.
"Yah, aku tidak akan salah paham. Lalu, sudahkah kamu bertemu dengan Bibi mu?" Arka mengganti topik yang lebih menarik.
Rani mengangguk,"Aku sudah bertemu dengannya-" Dia menoleh ke belakang tapi hanya menemukan Riani di tempat.
"Mereka sudah masuk ke dalam." Katanya sembari tersenyum lebar.
Beberapa saat yang lalu dia sangat senang melihat wajah Ai langsung berubah menjadi pucat pasi ketika melihat Ustad Vano dan Rani berpelukan hangat. Di dalam hatinya, dia tertawa besar, menertawakan kelemahan Ai yang tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kenapa mereka langsung masuk ke dalam?" Tanya Ustad Vano heran karena tidak biasanya Ai seperti ini.
Harusnya Ai datang menyambut kepulangannya sama seperti malam-malam biasanya, apalagi malam ini juga ada tamu penting jadi tidak seharusnya Ai membiarkan mereka menganggur di luar.
"Aku juga tidak tahu, Kak, aku tidak sempat menanyakannya." Istri Kak Vano pasti sangat shock melihat kedekatan Kak Vano dengan Kakakku. Batinnya mencemooh.
"Masuklah, di luar dingin." Suara dingin Ustad Azam menarik perhatian mereka.
Setelah mengingatkan mereka untuk masuk, ia segera masuk ke dalam rumah tanpa perlu menyapa wajah tercengang Riani ketika melihatnya.
Ustad Azam tidak tahu apakah sahabatnya ini bodoh atau kepalanya bermasalah. Dengan bertindak intim bersama gadis lain meskipun itu sepupu, istri mana yang tidak akan terluka?
Dia melihatnya tadi, dia melihat bagaimana reaksi Ai ketika melihat Ustad Vano dan Rani berpelukan. Dia shock, Ustad Azam bisa mengerti perasaan itu.
"Ini adalah pelajaran agar aku tidak melakukan kontak intim dengan sepupuku di masa depan. Aku tidak ingin nasib ku seperti Vano yang tanpa sadar telah menyakiti istrinya sendiri."
Di sisi lain, Mega dan Asri membantu Ai di dalam kamar mandi. Ai tiba-tiba muntah, badannya lemas dan wajahnya menjadi pucat pasi.
Ai merasa sangat pusing, ia ingin muntah tapi tidak ada apapun yang keluar dari dalam perutnya kecuali hanya air.
"Apakah kita harus ke rumah sakit?" Tanya Asri khawatir.
__ADS_1