
Ustadz Azzam menoleh ke arah sumber suara dan melihat dua orang gadis tersenyum cerah ke arahnya. Diantara kedua gadis itu, orang yang paling mencolok adalah gadis cantik berkacamata dengan senyum cerah di wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Sasa?
Adiknya semakin cantik saja setelah tidak bertemu beberapa bulan.
"Apakah kamu sibuk di kampus? Kalau sibuk lebih baik jangan datang. Kakak tidak ingin merepotkan kamu." Ucap ustadz Azam dengan kelembutan di matanya.
Sasa meraih lengan kakaknya manja, sembari menggelengkan kepalanya dia berkata,"Aku tidak sibuk kok, kak. Karena tidak ada kegiatan lagi di kampus, aku tentu saja akan datang menemui kakak. Lagi pula Sasa kangen banget sama kakak, saya juga kangen sama kak Mega. Bagaimana kabar kak Mega sekarang? Apakah dia juga merindukan Sasa?" Sasa sayang banget sama Mega.
Dia selalu menganggap Mega sebagai seorang kakak bahkan sebelum mereka menikah. Menurutnya Mega itu idolanya. Dia adalah wanita yang cantik tapi tegas, tempramen nya yang tegas dan jutek memiliki kesan seorang wanita yang kuat. Inilah alasan mengapa dia mengidolakannya!
Mendengar nama istrinya disebut, hati ustadz Azam kian melembut. Tangan besarnya mengelus puncak kepala adiknya penuh kasih.
"Dia sangat merindukan kamu. Tapi kamu tahu sendiri kan kondisinya sekarang gimana? Dia tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Tapi tenang aja, dia sudah menyiapkan hadiah kepadamu. Katanya ini sebagai bentuk permintaan maafnya karena tidak bisa datang menemui mu." Untuk hadiah ini istrinya sibuk membongkar ruang penyimpanan mereka.
Katanya Sasa harus mendapatkan hadiah yang baik dan bagus, serta harus sangat menarik. Sehingga dia bersikeras mencari beberapa barang yang sulit ditemukan di ruang penyimpanan. Ustadz Azam khawatir melihatnya terlalu lelah dan ingin membeli hadiah yang lain, tapi istrinya menolak dengan keras kepala dan tetap kukuh mencari.
"Masya Allah aku senang banget dengernya. Kak Mega selalu seperti ini, Sasa makin sayang sama dia. Nanti kalau kak Azam mau balik, aku ingin menitipkan hadiah juga kepadanya. Semoga kak Sasa suka."
"Em, kak Azam?" Suara lembut gadis lain menginterupsi pembicaraan mereka berdua.
Ustadz Azam baru menyadari bahwa adiknya juga membawa gadis lain tapi tidak terlalu memperdulikannya. Sejak awal dia tidak pernah menatap gadis ini dan hanya fokus kepada adiknya.
__ADS_1
Tapi apa dia bilang tadi, kak Azam?
Apakah mereka saling mengenal?
"Oh iya, kak. Kenalin ini Firda. Tetangga kita di rumah dulu. Beberapa tahun yang lalu dia pindah ke kota ini dan kami kembali bertemu di kampus yang sama. Saat dia tahu aku akan datang menemuimu, Firda sangat senang dan bersedia menemaniku ke sini. Katanya dia ingin bertemu dengan kakak karena sudah lama kalian tidak bertemu lagi." Sasa langsung memperkenalkan Firda kepada ustadz Azam.
Firda adalah tetangga mereka dan berteman baik dengan Sasa di rumah dulu. Ke mana-mana mereka selalu berdua dan seringkali dianggap saudara oleh orang lain. Tapi saat Sasa dikirim ke pondok pesantren untuk sekolah, Firda tidak memiliki teman main lagi. Dan karena alasan ekonomi, orang tuanya kemudian memutuskan untuk pindah ke kota ini. Setelah itu mereka tidak pernah berhubungan lagi dan lambat laun Sasa mulai melupakan keberadaan Firda hingga mereka akhirnya dipertemukan di kampus lagi.
Maka besar Firda menatap kagum wajah tampan ustadz Azam. Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi ustadz Azam tidak pernah kehilangan pesona di dalam dirinya. Dingin dan jarang tersenyum, laki-laki seperti ini selalu diincar banyak wanita. Tidak terkecuali Firda. Bisa dibilang ustadz Azam adalah cinta pertamanya yang sangat sulit dilupakan. Dia pikir setelah berpisah bertahun-tahun hatinya akan melupakan sosok ini, tapi ternyata tidak mudah, karena melihat wajahnya sekarang saja membuat hatinya berdegup kencang. Tapi hatinya langsung sakit dan patah hati ketika mengetahui bahwa ustadz Azam sudah menikah.
Bukankah ini tidak adil?
"Oh, maaf aku lupa. Aku tidak tahu siapa yang kamu perkenalkan karena sudah bertahun-tahun." Kata ustadz Azam maju tak acuh.
"Tidak apa-apa, kak. Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu lagi jadi wajar kak Azam melupakanku." Meskipun bibirnya berbicara manis, tapi hatinya merasa terluka karena dilupakan oleh orang yang dicintai.
"Kalau begitu... Bagaimana kalau kita berkenalan lagi," Dia mengulurkan tangannya ke depan ustadz Azam.
"Namaku Firda,"
Ustadz Azam melirik tangan ramping nan terawat baik yang kini ada di hadapannya. Menurunkan kepalanya, dia lalu menangkap kedua tangannya di depan dada sebagai sapaan sopan.
__ADS_1
"Azam." Katanya acuh tak acuh.
Senyuman Firda langsung kaku. Dia melirik tangan di dada ustadz Azam dan beralih menatap tangannya yang terulur menganggur, dia sangat malu dan langsung menarik tangannya.
"Aku... Aku senang sekali bertemu dengan kak Azam." Kata Firda canggung.
Ustadz Azam hanya menganggukkan kepalanya ringan terlihat tidak tertarik. Sasa menyadari ketidaknyamanan kakaknya. Ustadz Azam selalu seperti ini ketika berhadapan dengan seorang gadis. Sikapnya sangat terasing dan memiliki rasa jarak yang kuat, tak jarang gadis-gadis yang datang mendekat menjadi malu karenanya.
Ini wajar saja karena memang beginilah sifat kakaknya di depan orang lain. Dia tidak terkejut tapi takut melihat Firda tersinggung. Jadi dia buru-buru menengahi pembicaraan.
"Kak Azam rencananya berapa lama di sini?"
"Mungkin dua atau tiga hari, tergantung kecepatan proyek di sini. Tapi aku hanya punya waktu hari ini saja, makanya aku memanggilmu." Jawab ustadz Azam kembali ke nada suaranya saat berbicara dengan Sasa.
Sasa memiringkan kepalanya dengan tatapan menggoda,"Kak Azam butuh bantuan apa sama aku? Jarang-jarang lho lihat kakak membutuhkan bantuan ku. Ada apa? Apakah ini tentang kak Mega?"
Kalau bukan untuk Mega, kakaknya tidak akan meminta bantuan kepadanya. Karena kakaknya selalu merasa mandiri dan bertindak sesuai dengan keinginan hatinya. Tapi Mega adalah kasus berbeda. Dia selalu tidak yakin.
Mata Firda berkedip aneh ketika nama Mega disebutkan. Dia mendengar bahwa istri ustadz Azam adalah seorang gadis yang bernama Mega dan pernah mondok di pondok pesantren yang sama dengan Sasa.
Di dalam hati dia bertanya-tanya seperti apa rupa gadis itu hingga membuat ustadz Azam jatuh hati.
__ADS_1
"Yah, kondisinya sedang tidak baik di rumah dan mood-nya naik turun. Aku ingin membeli sesuatu untuk memperbaiki suasana hatinya. Jadi aku membutuhkan bantuanmu. Kamu adalah orang yang paling dekat dengan Mega di keluarga jadi aku pikir kamu cukup mengenal referensinya." Firda merasa cemburu melihat senyuman ustadz Azam ketika membahas tentang Mega.
Dan setelah mendengar apa yang ustadz Azam katakan tentang Mega dia langsung membuat kesimpulan di dalam hatinya. Dia menduga jika Mega adalah orang labil yang mudah tersinggung dan memiliki perubahan mood yang cepat. Orang seperti ini tidak pantas berdampingan dengan ustadz Azam yang selalu tenang dan sabar.