Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 169


__ADS_3

Dia berjanji akan meluangkan banyak waktu untuk menemani istrinya di rumah. Menebus hari-hari kesepian yang istrinya lalui karena dirinya terlalu sibuk di kantor.


Dan baru-baru ini istrinya jauh lebih kesepian karena Ai dan Mega sedang hamil. Mereka berdua lebih banyak tinggal di dalam kamar daripada bermain bersama Asri seperti awal-awal tinggal bersama. Arka sejujurnya tahu bahwa sang istri mendambakan seorang anak seperti berkah yang dinikmati oleh kedua sahabatnya. Seringkali tatapan sepi bercampur rindu menggelegak di dalam mata jernih Asri. Setiap kali melihatnya Arka merasa tidak nyaman namun pada saat yang sama tidak berdaya. Mereka berdua sudah berusaha, tapi sampai dengan saat ini masih belum datang kabar gembira. Bahkan meskipun mereka merindukan dan menginginkannya, semua itu tidak berarti apa-apa selama Allah subhanahu wa ta'ala tidak menghendaki. Maka dari itu jalan satu-satunya adalah terus bersabar hingga hari ketika Allah meridhoi tiba.


"Sabar ya sayang, mungkin suatu hari nanti ada makhluk mungil yang akan mendiami rahim mu. Makhluk mungil itu adalah buah cinta kita bersama sehingga Allah mungkin ingin melihat keseriusan rumah tangga kita sebelum mengirim makhluk mungil itu ke dalam kehidupan kita berdua." Arka berbicara dengan nada yang begitu lembut seakan sang istri saat ini tidak sedang tertidur.


Faktanya tidur Asri begitu nyaman hingga tidak terganggu dengan obrolan manis suaminya.

__ADS_1


Mengecup kening Asri lama, Arka mengusap puncak kepalanya beberapa kali sebelum kembali menyetir mobilnya untuk melanjutkan perjalanan dan sengaja membawa mobil dengan kecepatan rendah agar istrinya bisa beristirahat di dalam mobil dengan nyaman.


2 jam kemudian mereka akhirnya memasuki desa tempat sepupu Asri tinggal. Fina dijodohkan dengan sepupunya yang bekerja sebagai guru gaji dan terkenal akan budi luhurnya yang baik di desa. Dia masih muda akan tetapi semangatnya mengajar mengaji anak-anak di desa sangat dikagumi oleh penduduk desa. Gajinya memang tidak seberapa, malah bisa dibilang pas-pasan tapi cukup menjamin selama mushola di desa tidak pernah dikosongkan.


Memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk desa Arka tidak tahu harus berjalan ke mana lagi karena dia belum pernah memasuki desa ini. Selain itu dia juga enggan menelpon Bapak dan Ibu mertuanya karena tidak ingin membangunkan sang istri yang masih tertidur lelap.


Dan dia juga tidak habis pikir melihat istrinya tidur begitu lama di dalam perjalanan. Selama hidupnya dia belum pernah menemukan orang yang seperti Asri, tidur dengan nyaman di dalam perjalanan, jika Arka tidak melihatnya melihat nyaman maka mungkin dia akan berpikir jika Asri sedang pingsan dan bukan tidur.

__ADS_1


"Hem..mas Arka?" Setengah jam menunggu, Asri akhirnya terbangun dari tidurnya.


Dia menggeliat nyaman dan menoleh ke samping melihat suaminya yang kini tengah duduk menyamping menatap ke arahnya.


"Bangun?" Arka menjangkau wajah tidur istrinya dan mencubit pipi gembil itu gemas.


"Em," Malu, dia berpura-pura melihat keluar jendela untuk menutupi rasa malu,"Kita sudah sampai ya, mas?"

__ADS_1


__ADS_2