Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 108


__ADS_3

Kami memilih bersantai di halaman depan karena cuaca hari ini sangat cocok untuk bersantai di luar.


"Aku pikir kalian berdua juga melakukannya tapi Mas Vano tidak pernah menegur." Kataku mengoreksi ucapannya.


Jujur, mungkin di antara Mas Vano, Ustad Azam, dan Paman Arka, aku pikir orang yang paling dewasa adalah Mas Vano. Dia memang berusia lebih muda dari yang lain tapi dia adalah orang yang paling dewasa dalam bertindak.


"Oh...oh..itu sangat memalukan, aku pikir kamu tidak pernah melihatnya." Mega tidak mengelak, dia masihlah gadis yang jujur.


"Aku dan Mas Vano sering melihat kalian berdua, entah di dapur atau di ruang santai tapi kami tidak pernah mengatakan apa-apa karena kami menghormatinya privasi kalian." Kataku menjelaskan.


"Itu...jangan salah paham, Ai. Aku dan Mega tidak pernah berniat mengganggu kebersamaan mu dengan Ustad Vano, kami tidak pernah memiliki keberanian karena bagi kami Ustad Vano masihlah guru kami." Asri buru-buru menjelaskan dengan malu.


Mega juga ikut menimpali,"Benar, Ai. Orang yang usil mengganggu waktu kalian adalah Mas Azam dan Paman Arka. Mereka sungguh tidak tahan melihat kalian berdua bersantai."


Aku tahu dan aku juga tidak marah karena menurutku ini cukup menyenangkan meskipun agak memalukan.


"Aku tahu-"


"Assalamualaikum?" Suara lembut seseorang mengintrupsi ucapan ku.


Sontak aku dan yang lainnya menoleh ke arah sumber suara. Rani berdiri dengan sopan sembari tersenyum lembut di depan kami.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian bicarakan di sini?" Tanyanya sopan dan berhati-hati.


"Tidak ada hal yang penting, kami hanya membicarakan kebiasaan suami masing-masing di dalam kamar menjelang tidur." Mega berbohong dengan mudahnya.


Haah, aku tahu dia sedang melindungi ku.


Rani terlihat terganggu- tapi sekilas karena sedetik kemudian dia kembali tersenyum lembut,"Oh ya, kedengarannya cukup menyenangkan."


...🍃🍃🍃...


Hari ini Rani dan Riani tiba-tiba datang berkunjung ke rumah. Mereka dengan sopan menyapa Ai, Mega, dan Asri yang kini tengah duduk menikmati suasana damai di halaman depan. 


"Kak Ai hari ini terlihat jauh lebih cantik dari terakhir kali kita bertemu, apa Rani boleh tahu hal baik apa yang Kakak dapatkan baru-baru ini." Rani bertanya dengan nada akrab sembari mendudukkan dirinya di atas tikar.


"Alhamdulilah, Allah melindungi aku dan Mas Vano, dek, sehingga tidak ada hal-hal buruk yang menimpa keluarga kecil kami." Ai menjawab dengan ekspresi senyum sumringah di bibir ranumnya.


Jawaban ini tampaknya terdengar tidak menyenangkan untuk Rani. Dia berpikir bila Ai sedang menyinggung kedatangannya di sini. Pasalnya, terakhir kali ia datang kemari hubungan Ustad Vano dan Ai tidak terlalu baik. Mereka tampaknya merenggang karena ia ada di sini saat itu.


Dan hari ini...


Rani tersenyum miring ketika pikirannya berseluncur memikirkan hal yang tidak-tidak. Ouh, lebih tepatnya dia ingin membuat Ustad Vano dan Ai kembali memiliki rasa jarak.

__ADS_1


Yah, salahkan saja Ai yang terlalu bodoh dan lemah menjaga Ustad Vano. Bila dia tidak memiliki kemampuan maka Ustad Vano cepat atau lambat akan bosan dengan Ai, lalu dia akan memutuskan Ai dan beralih mencari pelabuhan hati yang baru.


Cek... cek, laki-laki selalu seperti ini, mudah dibujuk bila sudah menyangkut urusan hati.


"Syukurlah Kak, aku senang mendengarnya." Kata Rani masih dengan senyum malu-malu di wajah cantiknya.


"Aku juga bersyukur bila kamu senang mendengarnya."


Rani membawa atensinya menatap Mega, gadis dingin yang sebelumnya menghancurkan rencananya. Dia tidak suka Mega, sok berkuasa dan sok paling benar. Wajah dinginnya yang selalu menampilkan ekspresi sembelit benar-benar mengganggu bidang penglihatan Rani. Dia tidak suka tapi berpura-pura baik di depannya. Padahal ingin sekali kedua tangannya meremas wajah sok dingin itu, memberikannya beberapa kali tamparan untuk menghilangkan sikap acuh tak acuh itu dari wajahnya.


"Kenapa? Apa wajahku terlihat begitu cantik?" Mega melemparkan pertanyaan yang sungguh tidak masuk akal untuk Rani.


Cantik?


Apa-apaan! Jelas-jelas orang yang paling cantik di sini adalah dirinya sendiri!


"Ya, kamu cantik." Jawabnya dengan sangat tidak rela.


Ia lalu merendahkan kepalanya, diam-diam menatap jilbab panjang merah yang terulur indah menutupi lekuk tubuh Mega. Di dalam hatinya yang terdalam, Rani sekali lagi mencemooh penampilan Mega yang menurutnya lebih pantas disebut sebagai munafik daripada orang suci. 


Jilbabnya sama sekali tidak berguna pikirnya, untuk apa menggunakan jilbab panjang bila kelakuannya seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2