
"Mas gak mau ke ruang makan dulu?" Tanya Asri dengan kedua pipi yang telah memerah terang.
Arka merendahkan kepalanya agar lebih dekat dengan kepala sang istri,"Nanti saja, kita bisa pergi ke sana bersama-sama." Artinya jelas, dia ingin menemani Asri ke kamar mereka terlebih dulu dan turun bersama-sama ke bawah untuk makan bersama.
Jantung Asri berdebar kencang, ia meremas kain sajadah sebagai pelampiasan gugup. Di dalam kepalanya muncul berkali-kali semua yang Mega katakan semalam.
Paman Arka adalah suamimu sekarang dan bukan milik Lisa atau gadis manapun di luar sana. Kamu adalah satu-satunya gadis yang berhak berdiri di sampingnya sekuat apapun mereka merendahkan diri mu. Ingat, Paman Arka sendiri yang memilihmu dan Paman Arka sendiri yang menawarkan janji kepadamu jika pernikahan ini adalah sebuah keseriusan! Jadi, kamu tidak boleh menyerah begitu saja, Asri! Pertahankan pernikahan ini dan tunjukkan kepada mereka bahwa kasta tidak berarti apa-apa di dalam pernikahan mu. Buat Paman Arka jatuh cinta kepadamu karena dengan begitu mereka yang pernah merendahkan kamu akan merasa malu sendiri!. Suara bernada geram ini bagaikan cambuk untuk Asri untuk terus melangkah.
Apa yang sahabatnya katakan benar. Ia tidak boleh menyerah begitu saja. Ia tidak boleh menyerahkan pernikahannya kepada orang ketiga yang belum terlihat batang hidungnya.
Menganggukkan kepalanya bersemangat, Asri lalu memejamkan matanya untuk memberanikan diri mengambil langkah pertama dalam pernikahannya dengan Arka.
"Mas Arka," Panggil Asri hati-hati.
__ADS_1
"Ya?"
Gugup,"Apa Mas Arka tidak menginginkan suara tawa anak kecil di rumah ini?"
Kedua sahabatnya sudah melewatinya bersama belahan jiwa masing-masing, sedangkan ia dan Arka masih berjalan di tempat, tidak saling menyentuh ataupun melakukan apa-apa atas nama melupakan masa lalu.
Asri pikir awalnya itu adalah langkah yang baik tapi setelah melihat kedua sahabatnya, dia pikir itu bukanlah langkah yang terbaik. Mereka harusnya sudah saling menyentuh selayaknya suami-istri agar ikatan mereka kian tidak tergoyahkan.
"Suara tawa anak-anak?" Arka bertanya bingung.
Arka,"...." Aku pikir istriku masih polos dan belum memikirkan hal-hal seperti ini?
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Di ruang makan, Mega dan Ustad Azam sudah duduk di kursi mereka, kemudian diikuti oleh pasangan Asri dan Arka, lalu Ai dan Ustad Azam. Terakhir, Rani yang sebelumnya telah berjanji menyiapkan sarapan datang terlambat bersama Riani. Mereka sejujurnya agak shock melihat meja sudah dipenuhi makanan padahal matahari baru saja terbit.
"Duduklah untuk sarapan." Kata Arka kepada kedua keponakannya.
Rani tersenyum malu, dia secara alami ingin duduk di samping Ustad Vano namun kursinya telah di tempati oleh Ai.
"Ini...apa kalian yang memasaknya?" Pertanyaan ini ditujukan kepada para istri.
Mega dengan santai menjawab,"Tentu saja kami yakin memasak semua ini, memangnya siapa lagi yang bisa diharapkan?" Katanya dengan senyuman lebar di wajah.
Rani tersenyum malu, ia menganggukkan kepalanya tidak berbicara lagi.
Semua orang makan sarapan dengan lahapnya. Mereka tidak berbicara juga tidak mengeluarkan suara apapun, kecuali suara alat makan, meja makan sangat sunyi.
__ADS_1
Sampai akhirnya Ai, orang pertama yang menghabiskan sarapan berbicara terlebih dahulu.
"Mas Vano, semalam Bunda menelpon ku. Dia bilang ingin mengajak ku pergi ke luar kota bersama Ayah tapi aku mengatakan belum bisa memberikan mereka jawaban karena belum bertanya kepada Mas Vano. Sekarang mumpung ini masih pagi dan Bunda belum berangkat, aku ingin bertanya apakah Mas Vano mau mengizinkan ku pergi bersama mereka?"