Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
49. Mas Vano


__ADS_3

Ai sekarang sudah sampai di kota C, di rumah Bibi Saqila dan Paman Tio. Sudah 5 hari ia di sini, tinggal bersama keluarga Bunda dan Bibi.


Seperti di rumah Bunda dan Ayah, rumah Bibi Saqila juga sangat sepi karena semua anak-anaknya tinggal di pondok pesantren Ar-Rahman, pondok pesantren milik Paman Gio. Selain ada anak-anak Bibi Saqila, di pondok pesantren itu juga ada Rumaisha, Qais, dan Ahza. Mereka tinggal di pondok pesantren yang sama, berkumpul dengan anak-anak Bibi Annisa yang seumuran dengan Ai.


"Aishi gak boleh melarikan diri sayang kalau ada masalah sama Vano." Suara lembut Bibi Saqila menarik Ai dari lamunannya.


"Ai gak melarikan diri, Bibi. Ai hanya ingin menenangkan diri saja." Ujarnya mengoreksi.


Hanya Allah yang tahu kebenaran di dalam hatinya.


"Itu sama saja, sayang. Sini deh, ngomong sama Bibi." Ia menarik tangan Ai agar lebih dekat dengannya.


Beberapa hari yang lalu Bunda sudah menceritakan hal ini kepada Bibi Saqila secara diam-diam. Mereka membicarakan mengenai Ai dan Vano yang sudah 5 hari tidak bertemu ataupun saling berbagi kabar.


Benar, mereka tidak pernah saling menghubungi- atau lebih tepatnya Ai yang selalu sabar menunggu suaminya menghubungi.


"Di dalam rumah tangga berbeda pendapat itu wajar, saling berselisih itu wajar, dan mengalami kesalahpahaman juga wajar. Namun, di dalam kewajaran itu pasangan suami-istri dituntut untuk menghadapinya dengan tenang dan berkepala dingin. Misalnya seperti Bunda dan Ayah, atau Bibi dan Paman Tio, atau mungkin Bibi Annisa dan Paman Gio. Aishi harus tahu bila kami semua telah melalui masalah-masalah itu berulangkali dengan cara dan langkah yang berada. Dan syukur alhamdulillah nya, setiap langkah dan cara yang kami ambil tidak lupa untuk melibatkan Allah, Nak. Kami semua melibatkan Allah agar langkah yang kami ambil tidak menyesatkan kami, atau mungkin sampai menjauhkan kami dari Allah, naudzubillah, Nak." Bibi Saqila mulai memberikan Ai arahan agar jangan melarikan diri dari masalah yang ia hadapi namun menghadapinya bersama-sama dengan Vano.

__ADS_1


Ini adalah sebuah keharusan yang tidak boleh Ai tinggalkan, atau jika tidak rumah tangga mereka mungkin akan menempuh jalan yang sulit.


Ai dan Bibi Saqila berbicara mengenai rumah tangga sampai akhirnya mereka baru bisa berhenti saat waktu sudah masuk pukul 10 malam.


Bibi Saqila segera pergi karena sudah mengantuk, meninggalkan Ai sendirian di dalam kamar yang masih belum mengantuk.


Tak berselang lama, pintu kamarnya kembali diketuk. Ai pikir yang datang adalah Bunda akan tetapi saat membuka pintu-


"Mas...Mas Vano?"


...🍃🍃🍃...


Dia benar-benar suaminya, laki-laki yang telah memenuhi pikirannya beberapa hari ini. Laki-laki yang membuatnya jatuh dalam lamunan panjang berkali-kali, dan laki-laki yang telah membuatnya linglung berkali-kali pula.


Sekarang dia tengah berdiri tepat di depannya dengan senyuman lebar dan sorot sendu yang menggetarkan hati. Laki-laki ini atau sebut saja suaminya, dia tampak terlihat tidak baik.


5 hari tidak bertemu dengannya membuat diri tersiksa rindu dan terjebak rasa dilema yang mencekik. Ingin sekali ia menghubungi sang suami, memberikan kabar bahwa di sini ia baik-baik saja dengan segala rindu yang ingin diluapkan. Akan tetapi hatinya meragu, jari-jari tangannya kaku tidak bisa digerakkan, dan lidahnya terasa kelu kesulitan mengucapkan kata-kata.

__ADS_1


Muncul perasangka di dalam hatinya bila sang suami tidak kunjung menghubungi selama beberapa hari ini karena mungkin sang suami sangat menikmati kebersamaannya dengan gadis itu. Gadis yang dilahirkan dengan paras cantik nan pemalu yang jauh lebih sempurna daripada dirinya. Ia sempurna, gadis cantik nan pemalu, memiliki karunia bentuk tubuh yang dipahat indah, dan suara yang lembut dan sopan.


Gadis itu... adalah gadis yang diidam-idamkan banyak laki-laki di luar sana. Tidak hanya menjadi istri yang baik juga akan menjadi Ibu yang baik.


Sedangkan dirinya?


Hati terdalamnya mengatakan bahwa cinta saja tidak cukup, cinta saja tidak cukup, dan cinta saja tidak akan pernah cukup.


Laki-laki butuh kesempurnaan, laki-laki butuh keindahan, laki-laki butuh beberapa tawa anak kecil sebagai penghilang rasa peluh dan lelah karena seharian bekerja.


Sang suami membutuhkan itu semua, namun dirinya?


Dirinya tidak memiliki itu semua dan ia tidak akan bisa memberikan itu semua untuk memuaskan sang suami.


Ia penuh akan kekurangan.


"Tidakkah kamu ingin membalas salam dari suamimu ini?" Sang suami bertanya sendu, menatap rindu sang istri yang kini tengah terjebak dalam lamunan kesakitan nya.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, Mas." Dia menjawab salam sang suami setelah diingatkan.


Canggung, kakinya bergerak kaku menyamping, memberikan ruang untuk sang suami masuk ke dalam kamar.


__ADS_2