Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 135


__ADS_3

Sebuah usapan lembut di wajahnya mengganggu tidur lelap Ai. Dia terbangun, menatap linglung sepasang mata tajam milik suaminya yang kini tengah menatapnya lembut. Dengan bingung Ai meraih tangan suaminya dan membawa tangan itu menjauh dari wajah.


"Mas Vano..." Panggil Ai masih mengantuk.


Dia ingin tidur lagi tapi Ustad Vano buru-buru mencubit hidungnya agar jangan tidur lagi. Ai tidak bisa bernafas, dia dengan tegas menarik tangan Ustad Vano dari puncak hidungnya.


"Aku gak bisa nafas, Mas..." Keluh Ai tidak puas.


Dia mengantuk! Dia ingin tidur. Tapi Ustad Vano tidak membiarkannya yang tidur lagi karena waktu sholat magrib sudah masuk. Tidak baik menunda sholat dan tidur di jam-jam ini karena akan mengundang penyakit.


"Ini sudah masuk Magrib, yakin mau tidur lagi?" Goda Ustad Vano membuat Ai sontak bangun dari tidurnya.


Dia melihat jam beker di samping tempat tidur dan memang benar seperti yang dikatakan oleh suaminya bahwa waktu sudah masuk magrib. Sudah waktunya orang sholat magrib maka Ai tidak boleh melanjutkan tidurnya lagi.


"Astagfirullah, Mas. Aku ketiduran."

__ADS_1


Ai mengusap wajah mengantuk nya. Namun gerakan tangannya tiba-tiba membeku, lalu dia menurunkan sambil melirik lingkungan kamarnya dengan aneh.


"Mas... Mas, tadi itu aku mimpi yah kalau semua keluarga hari ini datang ke rumah?"


Ustad Vano tercengang. Sedetik kemudian tangannya sudah menjangkau pipi gembil Ai dan menariknya dengan ringan. Hem, kulit pipi Ai sangat nyaman untuk disentuh. Rasanya halus juga lembut tanpa lengket sedikitpun. Padahal Ai sudah lama tidur dan harusnya memiliki banyak keringat.


Eh, apa setiap wanita seperti ini? Batin Ustad Vano kagum.


"Ai kok dicubit, Mas?"


"Habisnya kamu kebanyakan tidur sih jadi lupa segalanya. Hari ini memang kita kedatangan banyak orang buat jenguk kamu dan Mega yang lagi hamil muda." Kata Ustad Vano tidak berdaya.


"Jadi aku gak mimpi, Mas? Terus kenapa aku di sini? Seingat ku tadi masih ada di ruang tengah." Heran Ai.


"Itu karena kamu ketiduran." Udah gitu ketiduran nya di waktu yang tegang-tegangnya lagi, Ustad Vano tidak tahu harus tertawa atau bersyukur saat itu ketika mengetahui istrinya telah jatuh tertidur.

__ADS_1


Tapi ya sudahlah. Ada baiknya Ai rileks saat situasi itu karena kondisi Ai sangat membutuhkan suasana hati yang baik dan kesehatan yang baik pula.


"Astagfirullah, terus sekarang gimana dong, Mas?"


Ustad Vano tidak berdaya.


"Sekarang mereka sudah pulang. Mau gimana lagi." Ujar Ustad Vano sambil mengingat kembali ekspresi orang-orang itu ketika melihat Ai tidur di waktu yang sangat tidak tepat.


"Jangan khawatir. Mereka bisa memahami kondisi mu. Memang benar bila wanita hamil mudah mengantuk dan mereka bisa mengerti situasi kamu."


Ustad Vano lalu beranjak dari atas ranjang mereka. Dia menarik istrinya turun dari ranjang untuk melaksanakan sholat magrib. Malam ini mereka sholat magrib di dalam kamar sendiri karena pasangan yang lain juga malas keluar dari kamar.


Selepas menyelesaikan sholat magrib, Ai langsung turun ke dapur dan bertemu dengan Mega yang sudah mulai mengiris bawang merah.


"Assalamu'alaikum, Ga. Kamu udah gak apa-apa sama bau-bau bumbu di dapur?" Ai sangat senang Mega menemaninya masak di dapur.

__ADS_1


Karena diantara mereka berdua Mega adalah orang yang paling sulit kehamilannya. Mega sangat sensitif terhadap bau-bau menyengat seperti bumbu-bumbu di dapur. Sedangkan Ai sendiri tidak keberatan dengan bau-bau apapun.


"Waalaikumussalam. Alhamdulillah, Ai. Tadi siang Mama Ustad Vano nitipin obat penghilang mual buat aku. Dia bilang ini bisa meringankan masalah aku. Dan aku bersyukur banget, meskipun baru minum efeknya udah terasa jadi aku bisa masuk ke dapur walaupun enggak lama." Kata Mega dengan senyuman manis menghiasi wajah pucat nya.


__ADS_2