
Di merasa seperti tidak menggunakan pakaian sama sekali bila menggunakan pakaian ini dan ia sungguh tidak sanggup.
Senyuman sang suami semakin lebar, beberapa kali ia hampir saja kelepasan tawa ketika melihat ekspresi terpelintir di wajah istrinya.
"Kenapa? Bukankah sebelumnya kamu menginginkan bayi?" Sang suami dengan murah hati mengingatkan kelakuan konyol istrinya beberapa hari yang lalu.
Wajah sang istri langsung bersemu merah, ia menundukkan kepalanya tidak mau menatap sang suami lagi,"Mas Arka, aku tidak main-main soal itu...aku ingin bayi." Bisik Asri serius.
Benar, istri keras kepala yang menolak mentah-mentah pakaian bolong- oh, sebut saja lingerie seksi. Asri, gadis desa yang dibesarkan baik-baik dan jauh dari kehidupan kota itu menolak mentah-mentah menggunakan lingerie seksi nan menggoda yang tergeletak manis di atas lantai karena perbuatannya sendiri.
Sementara sang suami, laki-laki kota berpikiran bebas ala kota yang kini tengah memasang seringai jail di wajahnya adalah Arka, suami yang telah menolong keluarga nya di desa beberapa minggu yang lalu.
"Namun, bila kamu tidak ingin menggunakan pakaian itu maka kita tidak akan bisa membuat bayi yang kamu inginkan." Artinya jelas, Arka ingin melihat Asri menggunakan pakaian seksi dulu baru menjalankan tugasnya sebagai suami bertanggungjawab.
__ADS_1
Meskipun ia tahu dengan benar bila Asri mungkin tidak akan mau menggunakannya.
Asri melirik lingerie seksi yang tergeletak tidak berdaya di atas lantai itu.
Cemberut,"Aku gak mau, Mas! Lagipula Mega dan Ai tidak perlu bersusah-susah menggunakan pakaian itu saat melewati malam pertama bersama suami mereka!"
Ini sungguh tidak adil pikir Asri. Padahal kedua sahabatnya tidak perlu melewati banyak halangan ataupun syarat untuk bisa melakukan malam pertama, tapi kenapa?
Kenapa suaminya malah mempersulitnya, ah!
"Eh, kamu tahu darimana? Mereka tidak akan mungkin membocorkan masalah pribadi itu kepadamu." Arka sungguh yakin soal ini karena sehebat apapun hubungan persahabatan Asri dengan Ai dan Mega, mereka tidak akan mungkin membocorkan hal sepenting itu.
Lagipula itu adalah rahasia suami dan istri jadi keluarga ataupun sahabat tidak diizinkan mengetahuinya.
__ADS_1
Asri dengan sangat yakin menjawab,"Walaupun mereka tidak pernah mengatakannya tapi aku yakin Ustad Vano dan Ustad Azam tidak akan memiliki pemikiran seperti Mas Arka!"
Arka memutar bola matanya malas,"Oh ya, aku adalah seorang laki-laki dan sesama laki-laki kami semua memiliki pemikiran yang tidak berbeda. Aku juga yakin bila baju ini sudah sering mereka bayangkan ada di tubuh istri masing-masing begitu juga aku. Aku menginginkan mu menggunakan pakaian ini sebagai bentuk kamu menyenangkan hatiku."
Arka dengan mudahnya mengecap semua laki-laki sama saja, padahal... padahal, yah Asri juga ragu dengan pikirannya sendiri. Apalagi saat mengingat kembali perilaku berani Ustad Vano di malam itu, ia menyentuh Ai di pondok pesantren dan bahkan... bahkan menyentuh dagu Ai di jarak yang sangat dekat!
Asri tiba-tiba membayangkan wajah datar nan dingin Ustad Vano ketika memonopoli Ai-
"Apa yang sedang kamu bayangkan? Suamimu ada di sini jadi bagaimana mungkin kamu membayangkan laki-laki lain di luar sana?" Suara jahil Arka menarik Asri dari lamunannya.
Wajahnya memerah, ia sontak memalingkannya wajahnya tidak mau menatap sang suami!
"Aku...aku tidak membayangkan laki-laki lain!" Dia jelas berbohong.
__ADS_1
Mana mungkin ia mengatakan kepada suaminya bila tadi ia membayangkan Ustad Vano dan Ai melakukan- argh! Dia tidak sanggup mengatakannya.
Arka tersenyum miring, jujur dia cukup terganggu mengetahui Asri memikirkan laki-laki lain disaat ia masih ada di sini,"Jadi, kamu ingin bayi atau tidak?" Tanyanya dalam mood yang berbeda, entah mengapa Asri merasa bila Arka tampak dalam suasana hati yang buruk.