Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 76


__ADS_3

Durex?


Asri menegakkan kedua telinga sembari membawa pandangan menatap rak mini itu. Di sana ada banyak barang-barang aneh dan sebuah kemasan kecil mencolok yang terletak di tengah-tengah rak. Bingung, Asri tanpa menahan diri mendekati rak kecil itu, membuat pasangan sejoli yang berbicara tadi menatapnya aneh. Bukan hanya mereka, namun orang-orang yang sedang mengantri pun melemparkan tatapan aneh kepada Asri.


Bagaimana mereka tidak merasa aneh? Asri adalah gadis pertama berpakaian serba tertutup yang berani mendekati rak itu. Biasanya yang mendekati rak itu adalah anak laki-laki ataupun perempuan yang terlihat 'agak' nakal.


"Ini Durex?" Gumam Asri sambil memegang kotak Durex yang dipenuhi oleh kemasan kemasan kecil.


"Jadi Durex bukan buah?" Gumamnya lagi menatap kosong kemasan mungil mungil itu.


Ini jelas bukan buah tapi Asri bisa melihat jika di depan kemasan terdapat gambar buah dan berbeda-beda di setiap kemasannya. Belum lagi ada huruf L besar di depan kotak yang menunjukkan ukuran kemasan di dalam kotak ini.


"Jika bukan buah, lalu Durex ini apa?" Gumamnya bertanya.


Ia melihat kotak itu, mengangkatnya tinggi-tinggi di bawah pengawasan semua orang.


Semua orang yang kebetulan melihat,"...." Nak, apa yang sedang kamu lakukan?


"Ya Allah, kenapa tulisannya menggunakan bahasa Inggris? Jika begini aku tidak bisa membacanya!" Sayangnya Asri tidak bisa menggunakan bahasa Inggris.


Menghela nafas panjang, Asri lalu menoleh menatap laki-laki yang ada di sampingnya ini. Laki-laki itu tampak terkejut dengan gerakan tiba-tiba Asri, ia sontak mundur ke belakang tapi terlambat, Asri sudah lebih dulu memanggilnya.

__ADS_1


"Mas, saya boleh nanya, gak?" Asri mendekati laki-laki itu yang kini tengah berdiri kaku bersama kekasihnya.


"Mau tanya apa, Mbak?" Laki-laki itu bertanya kaku.


"Ini," Katanya sambil menunjukkan kotak Durex yang ada di tangannya.


"Mas tahu gak Durex itu apa-"


"Saya gak tahu, Mbak. Saya gak tahu. Daripada nanya saya mending Mbak tanya ke orang lain aja." Potong laki-laki itu menolak untuk memberikan jawabannya.


Pasalnya ia melihat Asri adalah gadis baik terbukti dari ketidaktahuannya tentang kotak itu. Oleh karena itu ia memilih untuk tidak mengotori telinga Asri dan malah menyerahkan tugas berat itu kepada orang lain.


Melihat kebingungan Asri pada barang terlarang itu membuat karyawan mini market segera mendatangi Asri. Karyawan itu adalah seorang wanita berhijab. Ia memanggil Asri sopan dan menariknya ke tempat yang agak sepi dan jauh dari orang-orang untuk menjelaskan barang apa yang ada di dalam kotak itu.


"Dek, kamu mau beli barang itu?" Tanya karyawan wanita ramah.


"Iya, Kak. Aku mau beli, cuman aku bingung ini apaan soalnya kotak ini penjelasannya pakai bahasa Inggris, hehehe..." Jawab Asri membuat karyawan wanita itu tercengang.


"Kalau Adek gak tahu ini barang apaan terus kenapa masih beli?" Tanya karyawan wanita itu tidak habis pikir.


Asri tersenyum malu,"Ini suamiku yang minta, Kak, makanya aku beli."

__ADS_1


Begitu mendengar kata suami keluar dari mulut Asri, karyawan wanita itu segera menghela nafas lega. Ia pikir Asri belum menikah karena ia terlihat begitu muda.


Setelah itu karyawan wanita itu kemudian menjelaskan kepada Asri bahwa kotak yang ia pegang saat ini adalah barang terlarang yang sejujurnya lebih banyak digunakan oleh pasangan muda-mudi yang belum menikah. Sebab barang terlarang ini adalah alat kontrasepsi yang dilarang keberadaannya oleh agama. Karena bila pasangan suami-istri menggunakan barang ini maka mereka kemungkinan kecil tidak akan memiliki anak. Cairan dari laki-laki tidak akan bisa masuk ke dalam rahim wanita apalagi sampai menumbuhkan benih. Sehingga menggunakan alat kontrasepsi ini tidak diperbolehkan di dalam agama tapi bukan berarti diharamkan. Bisa saja pasangan suami-istri menggunakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan untuk alasan yang diterima di dalam Islam.


Intinya, secara garis besar lebih baik pasangan suami-istri tidak perlu menggunakan alat kontrasepsi agar dapat menghasilkan keturunan.


Setelah mendengar penjelasan karyawan wanita itu wajah Asri langsung menjadi pucat pasi, bertolak belakang dengan pipi karyawan wanita itu yang telah merona terang karena malu.


"Nah, jadi ini adalah alat kontrasepsi. Apa Adek mau tetap membelinya?" Tanya karyawan perempuan itu.


Asri mengangguk kosong,"Ya, aku akan membelinya, membeli semuanya." Kata Asri membuat pipi karyawan wanita semakin memerah.


Ia pikir Asri dan suaminya terlalu galak sampai-sampai membeli satu kotak alat kontrasepsi.


"Baiklah, kalau begitu Adek silakan kembali ke antrian untuk membayar di kasir."


Asri lagi-lagi mengangguk, ia membawa langkahnya kembali ke antrian. Berdiri diam di tempat sambil memegang sekotak kontrasepsi ditangannya. Tindakannya ini tentu saja menarik perhatian orang-orang tapi Asri mengabaikan mereka semua atau mungkin lebih tepatnya dia benar-benar tidak fokus saat ini. Pikirannya melayang mengingat malam-malam ketika ia meminta Arka untuk memberikannya nafkah batin. Namun, dengan segala macam alasan, Arka berulang kali menolaknya, dan bahkan mempersulitnya dengan berbagai macam hal-hal gila.


Ia pikir Arka berniat untuk menjahilinya tapi siapa yang mengira Arka melakukan itu semua karena tidak ingin....


Asri benar-benar tidak bisa memikirkannya lagi. Hatinya sakit dan sesak. Dia butuh penjelasan langsung dari suaminya!

__ADS_1


__ADS_2