
Asri dan Ai bingung kenapa para Ibu-ibu tadi tertawa padahal tidak ada yang lucu dari pertanyaan mereka. Atau mungkin buah yang mereka cari adalah buah aneh dan tidak enak?
Ini bisa saja terjadi karena mereka berdua juga tidak pernah mendengar nama buah ini sebelumnya. Yang mereka tahu adalah duren dan bukan Durex, heran saja dengan nama yang cukup mirip dengan raja buah ini.
"Mungkin kita bisa membelinya di supermarket nanti." Ujar Ai memberikan jalan keluar untuk sahabatnya.
Mereka saat ini sedang ada di dapur bersiap untuk membuat makan siang. Hanya mereka berdua saja di sini sedangkan Mega sedang ada urusan dengan Ustad Azam, ini tidak akan lama karena Mega berjanji akan segera kembali tepat sebelum waktu makan siang.
"Iya, Ai. Nanti kalau ada waktu aku akan mengajak Mas Arka ke supermarket." Asri membersihkan sayuran yang sudah ia potong-potong dengan air keran mengalir.
Tangannya yang ramping dengan cekatan mencuci sayur dibawah guyuran air keran. Perihal cuci mencuci sayur bukanlah hal yang sulit untuk Asri lakukan karena ia sering melakukannya di desa dulu. Bapak dan Ibu adalah seorang petani, mereka biasa menanam beraneka ragam sayur sesuai dengan tuntutan pasar di desa. Alhasil setiap 3 bulan sekali atau paling lama 6 bulan sekali keluarganya akan panen sayur untuk dijual ke pasar. Namun sebelum dijual mereka akan membersihkan sayur-sayur tersebut agar bisa menarik minat pembeli.
"Tapi Ai, kamu kan orang kaya dan terbiasa makan buah-buahan mahal. Masa iya sih kamu gak tahu tentang buah ini?" Pasalnya orang kaya pasti bisa memiliki apa pun yang mereka inginkan dengan mudah apalagi bila itu menyangkut makanan yang tidak terlalu mahal.
Ai di samping sedang berkonsentrasi mengiris-iris bawang merah. Gerakannya yang hati-hati dan cukup pelan menghasilkan irisan tipis yang terlihat cukup cantik.
"Serius Asri, aku gak pernah tahu ada buah yang namanya seperti itu. Malah baru hari ini aku mendengarnya dan itu keluar dari mulut kamu." Ai benar-benar tidak tahu bila di sini ada buah bernama seperti itu.
Asri menghela nafas panjang,"Mas Arka ada-ada aja kalau ngasih tugas."
Ai tersenyum tidak berdaya, perahara rumah tangga sahabatnya ini memang tidak memiliki konflik dan terkesan santai-santai saja. Ai bersyukur karena Arka setidaknya tidak mempersulit sahabatnya sekalipun mereka menikah tanpa perasaan cinta.
🍃🍃🍃
Semua orang sudah ada di atas meja dan bahkan Mega beserta Ustad Azam juga sudah kembali dari beberapa waktu yang lalu. Mereka membawa beberapa buah dan makanan untuk semua orang, bahkan Alsi pun mendapat satu kotak cantik kue mungil beraneka ragam bentuk. Alsi sangat senang menerimanya dan semakin memiliki kesan yang baik tentang Mega. Intinya semua orang-orang baik di rumah ini telah berhasil meluluhkan hati Alsi. Walaupun yah Alsi masih canggung dengan interaksi mereka tapi ini adalah kabar baik untuk semua orang di rumah bila Alsi tidak lagi merasa takut bila bertemu dengan mereka.
"Oh ya, Mas." Semua orang sudah selesai makan tapi masih belum beranjak dari meja makan.
Mereka duduk sebentar untuk berbincang mengenai beberapa hal yang menarik perhatian.
"Hem?" Jawab Arka sambil meminum minumannya.
__ADS_1
"Aku sudah mencari buah yang Mas minta di Abang tukang sayur tadi pagi tapi dia bilang Durex tidak dijual di sembarang tempat-"
"Uhuk.."
"Uhuk..uhuk..."
Ustad Vano, Ustad Azam, dan Arka kompak tersedak minuman masing-masing.
Ai, Mega, dan Asri buru-buru memukul ringan punggung masing-masing suami.
"Kamu...kamu ngomongin apa sih, Asri?" Tanya Mega dengan rona merah di wajahnya.
"Aku ngomong kalau-" Arka buru-buru membungkam mulut istrinya sebelum menimbulkan keributan lagi.
"Mas Arka kenapa, sih?" Tanya Asri jengkel sembari mencoba melepaskan tangan Arka dari mulutnya.
Bibirnya sakit tiba-tiba di tepok oleh suaminya dan mungkin saja agak bengkak.
"Ini adalah rahasia kita berdua! Kalau kamu asal ngomong lagi maka misi kamu akan gagal! Dan bayi yang kamu inginkan tidak akan pernah datang." Bisik Arka mengancam serius.
Asri balas berbisik,"Mas Arka gak pernah ngomong sebelumnya." Balas Asri masih jengkel karena bibirnya yang menjadi korban.
Karena hey, bibirnya masih perawan huhu...tapi sudah dibuat bengkak oleh tangan Arka dan bukan bibirnya-
Eh, apa sih yang sedang Asri pikiran! Itu adalah pikiran terlarang okay, Asri masih belum cukup umur untuk memikirkannya!
Ah, ayolah!
Arka berbisik lagi,"Karena ini adalah masalah pribadi kita jadi aku pikir kamu tidak akan memberitahu siapa pun!" Ujar Arka sembari menahan tawa.
Dia memang cukup malu, sebab istrinya polos. Tapi hal yang membuatnya merasa lucu adalah istrinya yang polos tapi kelewatan polos hingga barang sakral itupun dianggap sebagai buah.
__ADS_1
"Emang buah Durex itu enak yah, Mas?" Pertanyaan polos Ai sekali lagi membuat mereka bertiga tersedak oleh air liur sendiri.
Bahkan Mega, satu-satunya perempuan yang mengetahui apa itu 'Durex' tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya. Dia memang pernah sekolah di pondok pesantren tapi bukan berarti ia tidak tahu mengenai dunia luar. Di samping itu, sebelum sekolah di pondok pesantren ia juga pernah sekolah di sekolahan umum jadi hal-hal yang mengenai barang terlarang itu pernah menjadi topik pembicaraannya dengan teman-teman kelas.
"Itu..." Ustad Vano kesulitan mengatakannya.
Pasalnya barang itu tidak seharusnya dimiliki oleh pasangan suami-istri tapi kenapa Arka meminta Asri membeli barang itu?
Muncul sebuah pertanyaan di dalam hatinya apakah Arka ingin mengerjai Asri seperti yang dilakukan kemarin-kemarin atau justru sebaliknya, Arka tidak ingin-
"Itu apa, Mas?" Tuntut Ai ingin tahu.
Ustad Vano melirik Arka di seberang sana, ekspresinya jelas mengatakan untuk tidak mengatakan apa-apa.
Menghela nafas panjang,
Ini adalah masalah rumah tangga Paman dan aku tidak bisa ikut campur di dalamnya. Batin Ustad Vano tidak ingin ikut campur dalam masalah rumah Arka dan Asri.
"Itu," Dia lalu membisikkan sesuatu kepada Ai.
Beberapa detik kemudian wajah Ai langsung memerah terang, ia menatap Asri dan Arka dengan tatapan tidak percaya sebelum berpaling menatap piring berpura-pura tidak mendengar apa-apa.
Asri penasaran,"Apa yang dikatakan Ustad Vano-"
"Ekhem," Potong Arka di samping memperingati dengan serius.
Semangat Asri langsung layu, ia menatap suaminya jengkel sebelum berdiri untuk membereskan piring-piring di atas meja. Ai dan Mega juga ikut membantu, mereka membersihkan meja makan secara bersama-sama.
"Kalian berdua," Kata Arka kepada Ustad Vano dan Ustad Azam.
"Minta istri-istri kalian untuk tutup mulut. Jangan sampai Asri mengetahuinya, apa kalian dengar?"
__ADS_1
Ustad Vano dan Ustad Azam saling pandang, mereka diam-diam membuat kesepakatan sebelum mengangkat bahu tidak ingin ikut campur.
Bersambung...