Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
Muhasabah (Cinta) - 146


__ADS_3

Ai dan yang lainnya pulang ke rumah setelah menyelesaikan kekacauan yang disebabkan gadis itu. Sepanjang jalan pulang Ai, Mega, Asri tidak henti-hentinya menghibur Alsi agar segera melupakan masalah ini dan belajar untuk mengikhlaskan nya. Dan mereka juga berusaha menanamkan sikap rendah hati dan hati yang pemaaf di dalam diri Alsi agar kelak dia dapat tumbuh menjadi gadis yang dekat dengan jalan Allah.


"Alsi juga gak boleh diam yah kalau dapat masalah lagi. Karena kalau Alsi diam, Umi dan Bibi pasti sedih memikirkan keadaan Alsi. Kalau Umi dan Bibi sedih, nanti adek-adek Alsi juga ikutan sedih memikirkan Alsi dan enggak mau keluar. Alsi masih mau kan main sama adik-adik?" Mega berbicara dengan nada centil dan kekanak-kanakan di depan Alsi.


Kedua bola mata Alsi berbinar terang ketika mengingat keberadaan adik-adiknya yang masih dalam masa pertumbuhan di dalam perut Ai dan Mega. Alsi pikir bermain dengan anak-anak diluar memang menyenangkan tapi tidak semenyenangkan saat bermain dengan adik-adiknya kelak. Jadi dia pasti telah menunggu kedatangan bayi itu sejak lama dan tidak menginginkan hal buruk terjadi kepada mereka.


"Iya, Bibi. Aku akan mendengarkan Bibi. Aku janji tidak akan menyembunyikan masalah lagi.." Janji Alsi serius.


Ekspresi serius wajahnya yang lembut praktis mengundang senyuman di wajah mereka. Alsi adalah gadis cantik nan penurut yang sangat menggemaskan. Siapapun yang bertemu pandang dengan bola mata jernihnya pasti akan luluh dan ingin mendekatinya.

__ADS_1


"Nah sekarang Alsi mandi yah dan ganti baju dulu sebelum kita mulai makan sama-sama."


Alsi menganggukkan kepalanya patuh. Dia mencium tangan Ai dan kedua Bibinya sopan sebelum berlari naik ke lantai dua untuk mandi dan berganti baju di kamar.


Selepas Alsi pergi, Ai akhirnya menghela nafas panjang terlihat sedih. Karena permasalahan rumah tangganya kali ini Alsi harus terseret dan menjadi korban. Alsi masih kecil, belum mengerti orang dewasa tapi dijadikan karung tinju oleh seseorang yang ingin menghancurkan kehidupan rumah tangganya. Ai sedih dan tidak mau munafik. Permasalahan ini kerap kali melanda rumah tangganya. Bertanya-tanya mungkin keputusannya untuk nikah muda dengan Ustad Vano terlalu terburu-buru sebab dia masih belum cukup dewasa untuk menghadapinya.


"Ai, jangan terlalu memikirkannya. Kembali lah ke kamarmu untuk beristirahat." Kata Mega melihat pikiran sahabatnya.


"Benar, Ai. Kamu harus istirahat dan jaga kondisimu dengan baik. Ingat ada keponakan ku di dalam perutmu." Asri juga ingin sahabatnya tidak terlalu banyak berpikir.

__ADS_1


Ai tersenyum tipis, tangan kanannya tidak pernah berhenti mengelus permukaan perutnya yang mulai menonjol dengan kasih sayang yang tidak bisa disembunyikan.


"Maaf telah merepotkan kalian semua."


Ai tidak enak hati karena masalah rumah tangganya Mega dan Asri menjadi repot. Apalagi Mega sedang hamil bulan pertama dan kondisi tubuhnya sedikit memperihatinkan karena berada di fase kehamilan yang sulit. Dibandingkan Mega, Ai jauh lebih beruntung karena anaknya tidak rewel.


"Apa-apaan ini! Aku dan Asri adalah saudaramu jadi bagaimana kami bisa repot." Cetus Mega tidak senang.


"Kita bukanlah orang asing, Ai." Ujar Asri memperjelas.

__ADS_1


__ADS_2