
Arka mendengus. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah mengizinkan istrinya berpergian sampai dokter sampai dan melihat situasi istrinya.
"Makanya cepat pulih agar kita bisa jalan-jalan bersama." Desak Arka tidak tahan.
Dia lebih suka melihat Asri bersikap ceria seperti biasanya daripada memiliki ekspresi pucat di wajahnya. Arka tidak menyukainya.
Asri merasa manis di hatinya.
"Iya, mas aku insya Allah udah pulih. Um?" Asri mencium wangi buah yang sangat dia nanti-nantikan.
Mulutnya langsung berdecak lapar saat menciumnya. Kebetulan supir Arka membawa semua barang-barang yang ada di bagasi ke teras. Meletakkannya tanpa banyak bicara dan segera pergi.
Pemandangannya sangat mewah. Orang desa jarang makan buah apalagi buah-buahan sebanyak dan secantik ini. Mereka dulu hanya bisa melihatnya di ponsel atau di tv. Buah dengan kualitas sebaik ini pasti harganya mahal, mereka sudah tahu hanya dengan melihatnya dari jauh saja.
"Nah, saat melihat makanan kamu langsung lupa sama suami kamu di sini." Keluh Arka bercampur lucu.
Asri jadi malu. Dia memeluk punggung suaminya manja.
"Bagaimana mungkin? Mas Arka adalah orang yang sangat penting untuk ku. Tapi... tapi aku lapar, mas. Cium wanginya saja aku langsung ngiler." Kata Asri malu-malu.
Arka merasa lucu. Dia mencubit pipi istrinya sayang.
__ADS_1
"Kamu belum makan?"
Asri menganggukkan kepalanya.
"Belum."
Arka terkejut. Dia tidak bisa tersenyum lagi.
"Kamu belum makan dari pagi?" Sudah berapa lama ini?
Asri mengangguk jujur.
Selain tidak bernafsu, dia juga ingin makan bersama Arka makanya dia menunggu sampai jam segini.
Arka agak marah.
"Ya Allah, sayang kondisi kamu lagi begini terus kamu malah enggak makan? Kamu memang mau aku marah, yah?"
Asri tahu kalau suaminya marah beneran. Ini salah tapi mau bagaimana lagi keinginan di dalam hatinya sangat sulit untuk ditolak. Dia malah curiga bila ini bawaan bayinya kalau dia benar-benar hamil.
Asri menunduk.
__ADS_1
"Habisnya aku kangen sama mas Arka." Kata Asri lemah.
Arka marah tapi melihat betapa sedihnya dia, Arka hanya bisa menghela nafas. Dia tak bisa terlalu keras kepada Asri, apalagi Asri sedang sakit sekarang. Selain itu istrinya begini juga karena menunggunya pulang yang membuat Arka merasa bersalah sekaligus manis. Perlahan kemarahan Arka mulai berkurang. Dia memeluk istrinya sayang sambil mengecup puncak kepalanya sesekali. Pokoknya Asri tidak salah pikirnya.
"Okay, ayo masuk ke dalam dan makan sama-sama. Aku juga belum makan siang." Kata Arka dengan nada suara melembut.
Asri mengangkat kepalanya bersemangat. Dia tahu jika suaminya sudah tidak marah lagi. Tapi dia merasa kasihan mendengar suaminya belum makan siang.
"Iya, mas. Aku akan memasakkan mas Arka sesuatu di dapur nanti." Kemudian dia menyadari wanita paruh baya yang berbicara dengannya tadi masih ada di sini melihat ke arah mereka sambil tersenyum.
Wanita paruh baya itu awalnya takjub melihat semua barang bawaan Arka di teras. Apalagi saat mencium wanginya, wanita paruh baya itu tahu kualitas buahnya tidak rendah. Tapi fokusnya ditarik kembali oleh sikap mesra pasangan suami istri di depannya.
Mereka sangat rukun dan harmonis, berbanding terbalik dengan gosip desa yang mengatakan jika hubungan mereka tidak sebaik itu.
"Bu, aku lupa Ibu masih ada di sini. Ngomong-ngomong.." Asri mengambil beberapa buah dan memberikannya kepada wanita paruh baya itu.
Tidak ada kantong plastik jadi dia harus membawanya dengan kedua tangannya.
"Cobalah cicipi buah ini. Suamiku membelinya di kota." Kata Asri sopan.
Wanita paruh baya itu sangat senang. Tapi malu menerimanya karena harganya pasti mahal. Asri melihat keraguannya dan mendesaknya agar mau mengambil buah itu. Akhirnya setelah dipaksa wanita paruh baya itu mau menerimanya. Mereka lalu berpisah setelah mengucapkan beberapa patah kata sopan.
__ADS_1