Muhasabah (Cinta)

Muhasabah (Cinta)
19. Suami?


__ADS_3

"Asri!" Ai dan Mega kompak berteriak.


Membuat Asri terkejut, menatap tidak percaya pada kedua sahabatnya yang kini tengah berlari menghampirinya.


"Ini bukan mimpi..." Asri seketika menangis haru.


Menyambut kedua sahabatnya dengan tangan terentang untuk berbagi pelukan penuh kerinduan. Namun malang, bukan pelukan terbalas yang ia terima melainkan sebuah tindakan tidak manusiawi dari kedua sahabatnya.


Mega meraih kepala Asri dalam satu gerakan dan menyembunyikannya ke dalam jilbab. Sedangkan Ai dengan pengertian menyembunyikan Asri dari pandangan Ustad Azam dan Ustad Vano.


"Mas Azam jangan lihat-lihat, dong!" Protes keras Mega kepada suaminya tanpa menoleh ke belakang.


Ai juga ikut protes,"Mas Vano harus jaga pandangan."


Melihat sikap protektif istri masing-masing, Ustad Vano dan Ustad Azam kompak tertawa. Mereka sejujurnya merasa geli dengan tingkah para istri namun anehnya itu terlihat sangat imut.


"Istriku sangat posesif." Ucap Ustad Azam bangga.


Ustad Vano tidak mau kalah, dengan bangganya dia berkata,"Istriku jauh lebih posesif kepadaku."


Tindakan ini sangat kekanak-kanakan, tapi mereka berdua tidak menyadarinya karena larut dalam perasaan manis.


"Aku tidak bisa bernafas, Mega!" Asri meronta-ronta ingin keluar dari dalam jilbab panjang Mega.


Asri tidak hanya tidak dibekap di dalam jilbab Mega, tapi ia juga dipeluk erat oleh Mega sehingga membuat tubuh kurusnya terjepit dan kesulitan bernapas.


Hei, diantara mereka bertiga tenaga Mega lah yang paling besar!


"Oh.." Mega melonggarkan pelukannya tapi tidak melepaskan Asri.

__ADS_1


"Asri, kenapa kamu keluar tanpa menggunakan jilbab?" Tanya Ai heran.


"Aku..aku tidak menggunakan jilbab?" Asri sontak meraba-raba kepalanya dan baru menyadari jika ia tidak menggunakan jilbab.


Oh astaga!


Pantas saja kedua sahabatnya ini sangat panik dan melindungi kepalanya dari pandangan para laki-laki. Asri menghela nafas lega kedua sahabatnya ini langsung bertindak cepat, jika tidak... siapa yang tahu sudah berapa banyak dosa yang ia panen hari ini.


"Iya, dan kamu telah membuat takut Mas Azam!" Ucap Mega gemas.


Asri merasa bersalah.


"Ayo, ikut aku masuk." Dia langsung menarik Mega mundur ke belakang yang diikuti oleh Ai.


Setelah masuk ke dalam rumah, Ai segera menutup pintu rumah tidak mengizinkan Ustad Vano dan Ustad Azam masuk dulu. Untuk saat ini keselamatan sahabatnya adalah yang terbaik.


"Ya Allah, kalian membuatku sangat terkejut! Aku pikir sebelumnya hanya sedang berhalusinasi atau bermimpi mendengar suara kalian di luar rumah. Ternyata ini semua tidak mimpi! Ya Allah, aku sangat merindukan kalian berdua!"


Ai dan Mega kompak menutup telinga, meskipun terganggu dengan teriakan cempreng dari Asri, tapi raut kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka berdua.


"Aku juga sangat merindukan kalian." Kata Ai terenyuh.


"Yah, kita semua saling merindukan satu sama lain." Mega menarik Ai dan Asri untuk berbagi pelukan, saling merengkuh satu sama lain setelah beberapa waktu merindu-


"Ekhem." Suara berat seseorang mengintrupsi acara reuni mereka bertiga.


Kaget, Ai dan Mega kompak menatap horor pada sosok laki-laki bertubuh tinggi yang kini tengah berdiri di depan anak tangga.


"Astagfirullah!" Lagi, untuk yang kedua kalinya Mega membawa Asri ke dalam jilbabnya.

__ADS_1


Bahkan, Ai pun yang tidak memiliki masalah juga ikut terseret ke dalam jilbab Mega.


"Ya Allah, Asri! Baru aja beberapa hari keluar dari pondok pesantren sikap kamu udah berubah drastis! Kamu ngapain gak pakek jilbab di dalam rumah yang ada laki-laki asing di dalamnya, hah?" Dumel Mega gemas ingin mencubit kedua pipi Asri.


Dikabarkan berhenti dari pondok pesantren dan pulang ke desa tanpa kabar apapun, karena masalah ini membuat Mega merasa dilema di hari pernikahannya sendiri. Lalu sekarang, entah bagaimana caranya mereka bertemu lagi di sini.


Bukan di desa tapi di kota!


"Mega, lepaskan aku dulu! Di sini gerah dan aku tidak bisa bernafas." Pinta Ai sudah kepanasan di dalam.


"Oh... maafkan, aku." Mega baru menyadari jika Ai juga ada di dalam pelukannya.


Ai lalu keluar dari jilbab Mega, menghirup udara bebas sepuasnya untuk menghilangkan gerah.


"Aku juga ingin keluar!" Asri ingin ikut keluar tapi semakin di bekap oleh Mega.


Malahan Ai juga ikut-ikutan memeluknya dari belakang untuk melindungi aurat Asri dari mata laki-laki itu-


"Tapi kenapa aku merasa laki-laki itu agak mirip dengan wajah Kak Kevin dan Mas Vano, yah?" Bisik Ai kepada mereka berdua.


Meskipun tidak memperhatikannya secara jelas, tapi sekilas Ai bisa melihat bila kontur wajah laki-laki itu agak mirip dengan milik Kevin dan Ustad Vano.


Mega menoleh ke atas tangga, melihat beberapa waktu sebelum ikut berdiskusi dengan Ai.


"Eh, iya. Kok mirip, yah?" Heran Mega.


Sedangkan Asri di dalam sana memutar bola matanya malas geli menahan perilaku konyol kedua sahabatnya- entah sejak kapan pemikiran ini ada, padahal biasanya Ai dan Mega lah yang merasa jika perilaku Asri konyol- dan yah, mereka bertiga tidak menyadari jika Ustad Vano, Ustad Azam dan sekarang ditambah dengan Arka merasa jika perilaku mereka bertiga tampak konyol.


"Ya iyalah mirip, laki-laki yang kalian lihat ini adalah Paman Ustad Vano dan Kak Kevin. Dia juga ekhem..." Dia berdehem ringan untuk menyamarkan malu.

__ADS_1


"Dia juga suamiku." Akuinya membuat Ai dan Mega- untuk yang entah ke berapa kalinya dibuat terkejut.


"Su-suami?" Tanya Mega tidak percaya.


__ADS_2