
Istrinya terlalu lembut menghadapi Fina, wanita yang berniat menghancurkan rumah tangga mereka. Arka tahu apa yang telah dilakukan Fina kepada istrinya selama ini tapi berusaha untuk bersabar karena dia tidak ingin memberikan kesan suami berakhlak buruk kepada istrinya. Tapi Fina sudah keterlaluan, dia tidak hanya terlalu percaya diri namun dia juga merasa selalu di atas angin. Seolah-olah apapun keinginannya akan dipenuhi semua orang jika dia menginginkannya.
"Aku tidak bermaksud begitu, Mas. Apa yang Kak Asri katakan tentang aku tidak benar-"
"Apa kamu tuli atau bodoh? Apa kata-kata ku belum jelas? Tidakkah aku mengatakan sebelumnya jika istriku bukanlah kamu? Dengar, aku sudah tahu apa yang telah kamu lakukan kepada istriku selama ini tapi aku berusaha menahannya karena hubungan persaudaraan kalian. Tapi semakin aku diam menahannya, kamu malah semakin berulah dan mengganggu kenyamanan keluargaku. Bersikap seakan-akan aku akan memperhatikan kamu? Bukankah kamu terlalu percaya diri?. Memangnya apa kelebihan yang kamu miliki sehingga merasa jauh lebih baik dari istriku? Kamu tidak cantik dan istriku jauh lebih cantik dari kamu, akhlak mu? Aku rasa kamu memiliki akhlak yang sangat buruk sampai-sampai melihat kamu saja membuatku merasa sangat terganggu. Pendidikan mu? Hah, pendidikan mu tidak berada di level yang sama denganku. Meskipun kamu kuliah di universitas maju, namun bagiku pendidikan istriku jauh lebih tinggi daripada kamu. Tidak penting istriku melanjutkan sekolah atau tidak karena menurutku pribadi pendidikan yang dia miliki jauh lebih tinggi daripada kamu. Apakah semuanya jelas sekarang?" Sekali lagi tidak memberikan Fina kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.
Bukan karena Arka membencinya tapi karena dia sudah sangat muak. Wanita ini sungguh tidak menyadari kebodohannya sendiri. Tidak hanya memiliki sikap tidak tahu malu tapi dia juga berani menjelek-jelekkan Asri di depannya, apakah kepalanya mengalami masalah?
Mengapa Arka tidak pernah tahu jika orang kampung memiliki pikiran yang jauh lebih sempit daripada orang kota?
"Aku..." Air mata setetes demi setetes mulai meluap dari sudut matanya.
__ADS_1
Dia tidak pernah dipermalukan seburuk ini di dalam hidupnya. Entah di kota ataupun di kampung, orang-orang tidak akan mengatakan sesuatu yang buruk kepadanya. Bahkan orang-orang di kampungnya relatif menyanjungnya karena cerdas dan bisa sekolah di kota maju. Mereka bilang dia adalah gadis yang sukses dan pasti akan mendapatkan suami yang mapan, tapi di sini...di hadapan Asri dia telah dipermalukan sedemikian rupa oleh orang yang baru-baru ini mengisi hatinya.
Mengapa..
Mengapa bukan dia?
Jika hari itu dialah yang bertemu Arka lebih dulu, mungkinkah semuanya akan memiliki akhir yang berbeda?
"Mas Arka." Panggil Asri sedih.
Sangat tidak nyaman melihat adiknya sedih tapi dia tahu bila suaminya melakukan semua ini demi kebaikan rumah tangga mereka. Asri mengerti kemarahan suaminya, dan jujur, jauh dari dalam hatinya Asri merasa sangat bersyukur karena suaminya sangat menghargainya sebagai seorang istri. Dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa syukurnya atas semua nikmat yang Allah limpahkan ke dalam hidupnya saat ini. Memiliki suami yang luar biasa bertanggungjawab dan menghormatinya, berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, dan keluarganya hidup dengan baik.
__ADS_1
Ya Allah, sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepada hamba dalam hidup ini. Terima kasih ya Allah... terima kasih. Batinnya bersyukur.
"Aku tidak mau tahu. Mulai hari ini kamu tidak diizinkan lagi masuk ke dalam rumah ini apapun alasannya! Dan bila suatu hari aku tahu kamu menyakiti istriku lagi, maka jangan salahkan aku melakukan sesuatu yang buruk kepadamu." Ancam Arka tidak main-main.
Dia tidak mengizinkan istrinya berbicara atau bersikap lembut kepada Fina. Untuk itu, dia tanpa ampun menekan kepala istrinya ke dada bidangnya agar tidak berbicara ataupun menatap Fina.
Fina sangat shock. Suara tangisannya tidak terbendung lagi dan segera menarik perhatian banyak tamu. Beberapa tamu memperhatikan ada sesuatu yang terjadi antara Fina, Asri, dan Arka tapi mereka tidak berniat ikut campur karena itu adalah urusan keluarga Arka.
"Mas Arka tidak boleh melakukan ini kepadaku...aku adalah adik ipar Mas Arka..."
"Adik ipar?" Arka tidak bisa menahan tawa sinis nya,"Kamu juga sadar jika kamu adalah iparku? Mengapa baru menyadarinya sekarang? Tidak berguna, kamu sudah terlanjur membuatku muak. Pergi dan jangan pernah perlihatkan batang hidungmu di depanku. Jika tidak, aku mungkin akan membuatmu menyesalinya." Ucap Arka dengan emosi tertahan.
__ADS_1
Demi istrinya dia telah berusaha keras untuk tidak menampilkan sisi buruknya sebelum benar-benar mengenal Allah.